Rabu, 28 Juni 2017 - Pukul 17:35

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

aktualita

Owalah Wele-wele, Ternyata Jokowi Mau Kereta 'Ora' Cepat

Oleh: fl/bc.com/net - Jumat 04 September 2015 | 14:53 WIB

Owalah Wele-wele, Ternyata Jokowi Mau Kereta 'Ora' Cepat

Jokowi & proyek 'mimpi' kereta cepat...

BERITACIANJUR.COM, JAKARTA.-- Presiden Joko Widodo akhirnya membatalkan proyek kereta cepat rute Jakarta-Bandung yang bikin Jepang dan Cina ‘tegang’. Hehe,  ternyata Jokowi ingin kereta tak cepat, bukan kereta cepat.

 


Menko Perekonomian Darmin Nasution menegaskan bahwa Presiden Jokowi telah menolaj proposal proyek kereta cepat yang diperebutkan Jepang dan Cina. "Presiden sudah putuskan, kereta cepat belum perlu. Lebih baik kereta berkecepatan menengah," kata Menko Darmin.

Untuk itu, kata Darmin, baik Jepang dan Cina harus membuat proposal baru apabila masih tertarik untuk menggarap proyek tersebut. "Silahkan buat proposal baru dengan kerangka acuan yang kami buat dan kami rumuskan. Karena ini untuk kita sendiri serta menurut kita sendiri," ujar Darmin.

Menurut Darmin, pertimbangan Presiden Jokowi menyebutkan bahwa kereta cepat untuk rute Jakarta-Bandung, memang belum perlu. Akan lebih ekonomis apabila rute tersebut dilintasi kereta berkecepatan menengah.

Sekadar mengingatkan, Jepang menawarkan pembangunan Shikansen berkecepatan 300 kilometer per jam. Sehingga, perjalanan Jakarta ke Bandung hanya ditempuh dalam waktu 37 menit. Sedangkan nilai proyek pembangunan lintasan serta kereta cepat mencapai US$ 6,2 miliar. Sementara Cina menawarkan kereta kilat berkecepatan 300 kilometer per jam, nilai proyeknya lebih murah yakni US$ 5,5 miliar.

"Keputusan Presiden adalah jangan kereta cepat, cukup kereta berkecepatan menengah. Ya, sekitar 200-250 km per jam. Meskipun berbeda sampainya, paling hanya 10-11 menit. Biayanya pun bisa berkurang jauh. Sekitar 30-40 persen lebih murah," kata Darmin.

Dalam proposal baru nanti, kata Darmin, baik Jepang maupun Cina diharap menyertakan standar pemeliharaan, standar pelayanan, serta kebutuhan kereta yang cocok bagi kondisi sosio ekonomi di Indonesia.

"Kalau hanya pengembangan kereta saja, dengan kecepatan menengah, belum tentu bisa membiayai dirinya sendiri kedepan. Harus dikaitkan dengan pengembangan wilayah, di stasiun mana harus dibangun properti besar-besaran, itu harus masuk dalam kerangka acuan," papar Darmin.

Menurut Darmin, apabila proyek pembangunan kereta masih berlanjut, maka kerja samanya berlangsung melalui business to business (B to B). Dan, skema pembiayaannya diharamkan menggunakan APBN, baik langsung maupun tak langsung.

"Semua ini akan dirancang dalam skema B to B, bagaimana rancangannya, Kementerian BUMN nanti yang akan mengambil peran utama," jelas Darmin.

Terkait skema pemilihan investor diantara kedua negara tersebut, Darmin mengatakan akan dilakukan melalui lelang unggulan dengan tidak meniadakan salah satu peserta serta melibatkan tim negosiasi khusus.

"Dua-duanya akan dievaluasi siapa yang bidder unggulan, tapi yang satu tidak langsung mundur. Nanti tim akan berunding dengan bidder unggulan, sehingga bisa dicapai harga paling efisien dan kualitas terbaik. Kalau gagal mencapai kesepakatan, bisa pindah ke satunya lagi," papar Darmin.

Ya, Presiden Jokowi bebas saja mengeluarkan putusan. Demikian pula kedua investor juga bebas menentukan sikap. Apakah masih ingin mengincar proyek tersebut, atau malah mundur teratur. (fl/net)

 

Komentar