Rabu, 18 Oktober 2017 - Pukul 10:48

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

aktualita

Guru Berikan PR? Awas, Jangan Tambah Beban Siswa!

Oleh: Wawan - Kamis 12 Oktober 2017 | 07:10 WIB

Guru Berikan PR? Awas, Jangan Tambah Beban Siswa!

Ilustrasi/net

Aksi protes para pelajar Cianjur melalui hastag yang bernada sindiran, “Sekolah Full Day, PR Everyday, Kapan Holiday?” ternyata mengundang reaksi dari sejumlah kalangan.


Betapa tidak, saat lahirnya kebijakan full day school, siswa tetap diberikan pekerjaan rumah (PR) dan harus mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di hari libur.
Seperti diketahui, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy melarang guru memberikan PR matematika dan pelajar lainnya kepada para siswa. Ia meminta agar guru lebih kreatif memberikan PR kepada siswa dalam rangka penguatan pendidikan karakter (PPK).


Siswa, sambung dia, diminta tidak diberi PR matematika atau mata pelajaran lain, karena tugas seperti itu cukup diselesaikan di sekolah. Sebaliknya, guru harus bisa memberikan PR yang berkaitan dengan nilai-nilai karakter prioritas PPK.


Wakil Ketua Komisi IV, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Cianjur, Sapturo, sangat setuju dengan larangan itu. Tanggung jawab meningkatkan kualitas pendidikan merupakan salah satu tugas sekolah. Masih banyak cara untuk menempuh itu, tanpa harus membebankan PR kepada anak didik.


“Jangan menambah beban siswa dengan PR, seharusnya evaluasi bisa dilakukan setiap akhir mata pelajaran. Asumsinya jika pemberian teori selama 45 menit, sisanya dapat digunakan untuk pre test, mid test dan post test, sehingga tak perlu ada PR,” kata Sapturo saat dihubungi Berita Cianjur, Rabu (11/10/2017).


Menurut Sapturo, sebenarnya peniadaaan PR bukan karena adanya larangan dari Mendikbud. Tanpa ada larangan itu, pendidik atau pengajar harus menyadari bahwa anak perlu istirahat, sehingga saat kembali beraktivitas sekolah di hari selanjutnya dapat lebih berkonsentrasi.


“Waktu istirahat sangat diperlukan bagi siswa, jangan sampai waktu itu juga direnggut, karena harus mengerjakan PR dari sekolah,” sebut Sapturo.
Sapturo menuturkan, peran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sangat vital di sini. Pengawasan melalui pengawas sekolah, agar mengingatkan setiap sekolah yang masih membebani siswanya dengan PR.


“Selain itu, peran kepala sekolah juga penting, apalagi umumnya tidak ikut mengajar. Pengawasan oleh kepala sekolah kepada guru harus diperketat,” tutur Sapturo.
Sementara itu, Ketua Komunitas Aksi Mahasiswa Cianjur (KAM-C), Ujang Ruslandi mengungkapkan, mata pelajaran hanya bersifat akademis. Jangan sampai Hak Asasi Manusia (HAM) anak dilanggar dengan menghilangkan waktu berkreasi, bermain dan waktu istirahatnya.


“Memang lebih pantas pelajaran sekolah diselesaikan di sekolah. Tetapi berbeda halnya jika PR yang diberikan berfungsi untuk meningkatkan karakter siswanya, yang tidak berhubungan dengan mata pelajaran,” ungkap Ujang yang masih tercatat sebagai mahasiswa fakultas hukum, semester akhir di salah satu perguruan tinggi swasta di Kabuapten Cianjur.


Ujang menyebut, dengan terbentuknya karakter anak didik, besar kemungkinannya akan menghasilkan generasi muda dengan potensi luar biasa. Bukan tidak menutup kemungkinan, ke depan akan banyak bermunculan nama tokoh besar, ilmuwan atau politikus yang berasal dari Cianjur.


“Karakter yang telah terbentuk, akan membentuk pribadi yang tidak mudah terpengaruh oleh berbagai godaan,” sebut Ujang.


Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Cianjur, Cecep Sobandi mengatakan, memang itu instruksi dari Mendikbud, namun kemungkinan PR yang diberikan masih pada batasan tertentu dan tidak membebankan siswanya.


“Dinas sudah mengimbau kepada sekolah agar PR yang diberikan harus disesuaikan, jangan sampai memberatkan anak. Apalagi bagi sejumlah sekolah yang belajarnya hingga sore hari,” pungkasnya. (*)

Komentar