Sabtu, 19 Agustus 2017 - Pukul 23:46

Image
Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

edukasi

Kemenristek Dikti Mulai Berlakukan NIDK dan NUP

Oleh: Zulfah Robbania - Sabtu 05 September 2015 | 07:40 WIB

Kemenristek Dikti Mulai Berlakukan NIDK dan NUP

dosen/net

BERITACIANJUR.COM, JAKARTA – Nomor Induk Dosen Khusus (NIDK) dan Nomor Urut Pendidik (NUP) mulai diberlakukan Kementrian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemenristek Dikti) per awal September ini.

 

Keduanya merupakan peraturan menteri yang dikeluarkan untuk memperbaiki jumlah rasio dosen-mahasiswa di perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguran tinggi swasta (PTS) yang ada di seluruh Indonesia.

 

Menteri Ristek Dikti Mohammad Nasir mengatakan rasio dosen-mahasiswa yang rendah menunjukan begitu besarnya jumlah kekurangan dosen yang dibutuhan perguruan tinggi. berdasarkan hasil pemetaan yang dilakukan terdapat total 6.066 program studi (prodi) yang kekurangan dosen di PTS maupun PTN yang ada di bawah Kemenristek Dikti. Terdiri dari 1.469 prodi PTN, dan 4.597 prodi PTS.

 

"Adapun jumlah program studi di lembaga lainnya yang juga kekurangan dosen adalah sebanyak 2.583 prodi. Jadi jika dijumlahkan dengan prodi yang ada di bawah kemenristek dikti, adalah terdapat 8.649 prodi yang kekurangan dosen," ujar Nasir ketika ditemui seusai pelantikan pejabat eselon 2 Kemenristek Dikti di Jakarta, Jumat (4/9).

 

Adapun saat ini rasio dosen berbanding mahasiswa yakni 1:80, bahkan ada yang mencapai 1:100. Padahal rasio normal untuk perguruan tinggi adalah 1:45 untuk ilmu sosial, dan 1:30 untuk ilmu eksakta.

 

Karena itu, Nasir mengungkapkan, Kemenristek Dikti telah secara remsi mengeluarkan peraturan menteri (Permen) terkait nomor induk dosen khusus (NIDK) pada awal September ini. Jika tidak segera ditangani, menurut Nasir, rasio dosen-mahasiswa tersebut akan menjadi hambatan dalam pengembangan kualitas terutama PTS.

 

NIDK nantinya dapat digunakan oleh dosen yang telah pensiun. Tunjangan dosen yang menggunakan NIDK ditanggung perguruang tinggi setempat. (net)

Komentar