Senin, 22 Januari 2018 | Cianjur, Indonesia

Proyek Rp 3,2 Miliar Dibiarkan Terbengkalai

Angga Purwanda

Minggu, 05 November 2017 - 20:38 WIB

Net
Net
A A A

Tak Adanya Sinkronisasi Pemerintah Pusat dan Daerah Dinilai Menjadi Pemicu

TAK adanya sinkronisasi antara pemerintah pusat dan daerah dinilai menjadi pemicu terbengkalainya kawasan Agropolitan di Desa Sindangjaya, Kecamatan Cipanas.
Hal itu, diungkapkan Ketua Agropolitan Cipanas, Mulyadi, saat dihubungi wartawan melalui telepon selularnya, Minggu (5/11/2017).

Padahal, jelas Mulyadi, pembangunan kawasan tersebut oleh pemerintah pusat menelan anggaran hingga Rp 3,2 miliar. Namun, ucap Mulyadi, kini kondisinya mulai ditumbuhi ilalang di sekitar bangunan yang awalnya berdiri megah itu.

Mulyadi mengatakan, terbengkalainya program yang awalnya untuk puasat sayuran dan kawasan wisata membut konsep agropolitan tidak tuntas dan program pemberdayaan petani lokal menjadi tidak jalan.

“Kawasan yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan petani, kini kondisinya tak terurus karena tak ada campur tangan lagi baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah,” jelas Mulyadi.

Mulyadi menuturkan, saat dibangun 2002 lalu program ini melibatkan lima instansi pemerintah yakni, Kementerian Keuangan, Departemen Permukiman Prasarana Wilayah Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur, Departemen Pertanian, dan Departemen Perindustrian dan Perdagangan.

“Aktivitas di agropolitan kini bisa dikatakan aktif gak aktif. Bangunan mulai tak terawat bahkan dipenuhi dengan rumput ilalang. Padahal, tujuan awalnya untuk mensejahterakan para petani dan para pemuda agar lebih tertarik kepada pertanian,” tuturnya.

"Saya berharap sekali kepada pemerintah pusat maupun daerah agar agropolitan ini kembali diaktifkan dan diperhatikan, masalahnya sudah sejak lama saya bersama pengurus lainnya selalu mengeluarkan biaya sendiri ketika ada perbaikan. Kalau misalkan mau dikuasai oleh Pemda silahkan saja tapi diperhatikan, bukan hanya membangun saja tapi tidak ada kelanjutannya," katanya.

Dari keterangan para pengelola agropolitan tidak memperoleh gaji. Mereka mencari sumber dana untuk pembiayaan overhead dan keperluan lain dari sewa bangunan, shooting, melakukan pelatihan-pelatihan dengan biaya pelatihan Rp 200.000/peserta termasuk akomodasi dan makan selama mengikuti pelatihan.

Seiring berjalannya waktu, dengan berakhirnya bantuan dana dari pemerintah pusat untuk mengembangkan agropolitan, maka menyusut pula kegiatan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Cianjur.
Sesekali melakukan pembinaan berupa penyuluhan jika ada dana tersedia dalam anggaran. Dengan kata lain, kelembagaan lokal yang ada di kawasan Agropolitan Cianjur baik secara konseptual maupun operasional belum mampu mengimplementasikan kaidah desentralisasi dan otonomi daerah.

Seorang penunggu wisma di lokasi agropolitan, Yuyun (31) mengatakan, sudah hampir enam bulan tak pernah ada tamu yang datang. Menurutnya, mereka yang datang ke agropolitan itu biasanya untuk berwisata, seperti melihat perkebunan, belanja sayuran bahkan kalau dari tamu jauh apa lagi rombongan suka menginap di Wisma tersebut.

"Kalau tamu yang nginap biasanya ingin menikmati suasana udara sejuk, juga bisa melihat langsung keindahan pemandangan Gunung Gede Pangrago. Tiga wisma kami beri tarif Rp 1 juta per malamnya, tapi sekarang sudah enam bulan tidak pernah ada tamu yang datang dan menginap," kata Yuyun.

Komentar Berita

Berita Lainnya

Cianjur Euy 17 jam yang lalu

Sampah Berserakan di Area Asamul Husna

PEDAGANG yang biasa mangkal di sekitar area Taman Asmaul Husna, Kampung Panaruban, Desa/Kecamatan Haurwangi belum sepenuhnya sadar akan pentingnya kebersihan lingkungan.

Cianjur Euy 17 jam yang lalu

Akhirnya Keluarga Otim Punya Rumah Baru

RAUT wajah Otim (47) tampak berseri seri dipenuhi kebahagian. Bagaimana tidak bahagia, Minggu (21/1) dirinya bisa bertemu langsung dengan Dedi Mulyadi, Calon Wakil Gubernur Jabar.

Cianjur Euy 17 jam yang lalu

Kepengurusan Kampung KUBA Dibentuk

PROGRAM Kampung Utama Berakhlakul Karimah (KUBA) mulai dibumikan di seluruh wilayah Kabupaten Cianjur. Mensukseskan program yang digagas Bupati Cianjur itu, kepengurusan Kampung KUBA mulai dibentuk di…

Bisnis Line 17 jam yang lalu

Gurihnya Sensasi Soto Bogor Siliwangi Bikin Nagih

SIAPA yang tak suka dengan gurihnya sajian kuah soto hangat? Selain memiliki cita rasa rempah yang kuat, irisan daging yang dipotong dadu, taburan bawang goreng, kacang kedelai, dan tomat segar terasa…

Cianjur Euy 17 jam yang lalu

Kecewa Kebijakan Pemkab, Warga Segel Eks SD Bujensa

SEBUAH spanduk penolakan terbentang di pagar tembok eks SDN Ibu Jenab 1 (Bujensa, red). Spanduk penolakan itu ditempel oleh warga yang menilai Pemkab Cianjur tidak menjalankan komitmen yang dibuat terkait…

Cianjur Euy 17 jam yang lalu

Stok Surplus, Pemkab Cianjur Tolak Impor Beras

CAPAIAN produksi padi di Kabupaten Cianjur tahun 2017 mencapai 105 persen. Capaian itu lebih tinggi dari tahun sebelumnya, yang hanya mencapai 100,88 persen.

Cianjur Euy 17 jam yang lalu

Mayat Pria Tanpa Identias Ditemukan Mengambang

MAYAT pria tanpa identitas ditemukan mengambang di genangan air Blok Sungai Citarum, Kampung Cinangsi RT 02/10, Desa Kertamukti, Kecamatan Haurwangi, Minggu (21/1/2018) sekitar pukul 13.00 WIB.

Cianjur Euy 18/01/2018 22:54 WIB

Aksi Maling Zaman Now

AKHIR-akhir ini kawanan maling spesial kantor desa tengah giat melancarkan aksinya ke sejumlah desa di wilayah Timur Kabupaten Cianjur.

Cianjur Euy 18/01/2018 22:53 WIB

Pencetakan e KTP Dipusatkan di Kecamatan Ciranjang

PEMERINTAH Kabupaten Cianjur menunjuk Kecamatan Ciranjang sebagai tempat pusat layanan pembuatan e-KTP dan Kartu Keluarga (KK) bagi masyarakat yang ada di 5 Kecamatan. Antaralain, Kecamatan Ciranjang,…

Bisnis Line 18/01/2018 22:51 WIB

Cugenang Jadi Pencanangan Gerakan Pemasangan Patok Tanah PTSL

MINGGU ketiga di bulan Januari 2018 Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kantor Pertanahan Kabupaten Cianjur mulai menggarap program nasional sertifikasi tanah dalam program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap…