Kamis, 18 Januari 2018 | Cianjur, Indonesia

Sidang Sri Saracen Hadirkan Dua Saksi Ahli

Angga Purwanda

Senin, 06 November 2017 - 19:56 WIB

Angga Purwanda
Angga Purwanda
A A A

Terdakwa Protes Dengan Pernyataan Saksi Ahli

PENGADILAN Negeri (PN) Cianjur kembali menggelar sidang Sri Rahayu Ningsih, terdakwa penyebar kebencian melalui media sosial yang juga anggota kelompok Saracen, Senin (6/11/2017) kemarin pagi.

Sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, Rudi Suparmono, yang juga Ketua PN Cianjur itu, digelar di ruang sidang utama Cakra. Sidang untuk keempat kalinya itu, beragendakan pemeriksaan saksi ahli yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum.

Dalam sidang itu, dua saksi ahli yang dihadirkan adalah, Herman Fransiskus dari Digital Forensik Mabes Polri, dan Asisda Wahyu, ahli linguistik atau ahli bahasa. Sidang yang berlangsung lebih kurang tiga jam itu, sempat diwarnai protes dari terdakwa, Sri Rahayu yang tidak terima dengan keterangan yang diberikan saksi ahli yang menyimpulkan bahwa terdakwa telah berujar kebencian selama satu tahun.

“Saya keberatan dengan pernyataan saksi ahli yang menyebut saya telah berujar kebencian selama satu tahun di media sosial,” kata Sri, saat diberikan waktu oleh majelis hakim.
Herman Fransiskus, saksi ahli pertama yang diminta keterangan oleh majelis hakim, mengungkapkan, bahwa ia menemukan tiga akun facebook di perangkat keras telepon selular milik Sri Rahayu Ningsih.

Selain itu, Herman juga menemukan, beberapa gambar dalam sim card telepon tersebut yang ada kaitannya dengan beberapa ujaran kebencian. "Ada tiga akun facebook di telepon selular milik Sri. Akun tersebut isinya berbeda-beda dan menampilkan beberapa gambar yang dibackup dalam sim card," kata Herman.  Herman meyakinkan, bahwa akun facebook dalam telepon tersebut milik Sri dilihat dari nomor IMEI telepon tersebut.

Sementara untuk saksi ahli kedua, Asisda Wahyu yang merupakan ahli linguistik atau ahli bahasa, mengatakan, terdapat dua postingan Sri yang mengandung unsur SARA yang sensitif ditulis di media sosial dan dilihat oleh khalayak ramai. Asisda menyebutkan, bahwa dua postingan tersebut mengandung unsur kebencian. "Penyidik menyodorkan beberapa postingan kepada saya, saya menilai beberapa di antaranya mengandung unsur kebencian," kata Wahyu.

Kuasa Hukum terdakwa, Yudi Junadi, sempat mempertanyakan metode apa yang digunakan oleh saksi ahli ketika mengkaji postingan-postingan dalam akun media sosial Sri. Saksi ahli menjawab bahwa ia mengkaji berdasarkan dari kaidah normatif bahasa.

Mendapat jawaban seperti itu, Yudi langsung menyodorkan fotokopi buku yang diterbitkan oleh Komnas HAM tentang ujaran kebencian. "Saya hanya ingin bertanya apa bedanya ujaran kebencian dengan ujaran biasa, lalu apa yang menjadi metode saksi ahli untuk mengkaji sehingga kalimat tersebut masuk ke dalam ujaran kebencian," kata Yudi.

Kuasa hukum terdakwa juga menyebutkan, saksi dan tim ahli yang dihadirkan harus kembali belajar membedakan antara kandungan free speech, SARA dan ujaran kebencian. Selain itu, mereka juga diniliai harus mempelajari konteks kasus hukum yang didakwakan pada Sri Rahayu.

Menurutnya, pihak kepolisian dan saksi ahli tidak menggunakan pedoman yang merujuk pada pengertian free speech, SARA dan ujaran kebencian. Oleh karenanya, kuasa hukum, menilai apa yang disampaikan ahli dalam persidangan tersebut tidak jelas.

"Yang digunakan itu terkait isu SARA untuk kasus ujaran kebencian, padahal keduanya beda. Ujaran kebencian itu dalam kontek dan teksnya digunakan untuk memicu konflik. Seharusnya seorang ahli bahasa tahu, mana level postingan terdakwa ini membahayakan dan membedakan antaran free speech dan hatespeech. jadi bisa disimpulkan kalau pedoman mereka tidak jelas," katanya.

Kuasa hukum juga, mendorong pemerintah dan Komnas HAM untuk mengeluarkan buku pedoman yang membedakan, khususnya terkait free speech dan hatespeech, supaya kepolisian dan pengananan kasus bisa dilakukan tanpa bias. "Persoalannya hari ini sejumlah kasus nuansa SARA tidak pakai kedua pedoman itu. Seperti yang dialami oleh Sri Rahayu. Ini bias, freespeech dimasukan dalam kasus hatespeech. Kalau hatespeech itu dengan tegas ada ungkapan usir atau bunuh suku, ras, agama, dan antar golongan tertentu," tuturnya.

Komentar Berita

Berita Lainnya

Cianjur Euy 3 jam yang lalu

Muhammad Zimaam Hanya Bisa Berbaring Diatas Tempat Tidur

Muhammad Zimaam (2) putra pasangan suami istri (pasutri) Ririn Saprina (33) dan Irawan Kusuma Atmaja (34) warga Jalan Mayor Harun Kabir No. 4, Kelurahan Bojong Herang, Kecamatan Cianjur hanya bisa tergolek…

Cianjur Euy 6 jam yang lalu

Jelang Penerapan Trayek Baru, Angkum Wajib Uji KIR

DINAS Perhubungan (Dishub) Kabupaten Cianjur bertindak tegas dengan melakukan pemeriksaan dan uji KIR angkutan umum (Angkum) jelang penerapan rekayasa lalulintas dan trayek angkum baru, yang akan dilaksanakan…

Cianjur Euy 6 jam yang lalu

Kapolres Cianjur Pimpin Sertijab Kasat dan Kapolsek

KAPOLRES Cianjur, AKBP Soliyah SIK, MH, memimpin upacara serah terima jabatan dan kenal pamit Kasat dan Kapolsek jajaran Polres Cianjur, Rabu (17/1/2018) pagi. Kegiatan yang digelar di Aula Amanah, Primkopol…

Kick Off 19 jam yang lalu

Poin Perdana Maung di Partai Perang Para Mantan, Ini Catatan Gomez

PERANG para mantan mewarnai duel antara Persib kontra Sriwijaya FC. Maung Bandung berhasil membuka Piala Presiden 2018 dengan kemenangan.

Cianjur Euy 16/01/2018 21:47 WIB

Pekan Depan, Trayek Angkum Baru Diterapkan

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Cianjur, pekan depan akan mulai memberlakukan sistem satu arah di sejumlah ruas jalan di dalam kota Cianjur dan trayek angkutan umum (Angkum, red) baru. Hal itu dilakukan…

Cianjur Euy 16/01/2018 21:45 WIB

30 Persen DD Dialokasikan Untuk Padat Karya

UNTUK meningkatkan perekonomian masyarakat, sebesar 30 persen Dana Desa (DD) tahun ini harus dialokasikan untuk program padat karya. Hal itu, diungkapkan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa…

Cianjur Euy 16/01/2018 21:43 WIB

Irda Didesak Tindak Tegas!

INSPEKTORAT Daerah (Irda) Kabupaten Cianjur diminta fokus dan serius dalam melakukan pemeriksaan terhadap pegawai dan pejabat di lingkungan RSUD Sayang, Cianjur yang diduga terlibat melakukan pungutan…

Cianjur Euy 16/01/2018 07:55 WIB

Satu Pelaku Pesta Seks Sesama Jenis Ditetapkan sebagai Tersangka

SATU dari lima orang pelaku pesta seks sesama jenis di salah satu Komplek Villa di kawasan Cipanas, Sabtu (13/1/2018) sekitar pukul 22.00 Wib, akhirnya ditetapkan sebagai tersangka.

Cianjur Euy 15/01/2018 22:55 WIB

Manfaatkan Pekarangan Rumah Untuk Bertani

Pemerintah Desa Tanjungsari, Kecamatan Sukaluyu mendorong warga setempat untuk memanfaatkan pekarangan rumah untuk mengembangkan pertanian. Pasalnya lahan pertanian diwilayah itu terus berkurang, akibat…

Cianjur Euy 15/01/2018 22:53 WIB

Waspadai Angin Kencang, Pemkab Diminta Tebang Pohon

Kondisi cuaca ekstrim yang terjadi mengharuskan warga dan pengendara yang melintas di sejumlah ruas jalan di Cianjur agar mewaspadai bahaya pohon tumbang akibat terjangan angin kencang.