Jumat, 17 Agustus 2018 | Cianjur, Indonesia

Jabatan, Amanah atau Aman Ah?

Kang Anton

Minggu, 12 November 2017 - 18:33 WIB

A A A

FAKTA atau sekelumit masalah yang pernah terangkum di Berita Cianjur, menjadi perhatian bahkan membuat bingung masyarakat Cianjur. Pemimpinnya ada, tapi masalahnya seolah dibiarkan tanpa ada penyelesaian yang jelas. Ada apa dengan Cianjur?

Ya, belakangan ini diberitakan adanya temuan jual beli buku paket yang jelas-jelas dilarang, tim kualifikasi Porda yang tak pernah diperhatikan, petani penggarap yang menjerit karena dibebankan utang akibat gagal panen, pungutan liar (pungli) berkedok retribusi sampah, serta sekelumit masalah lainnya.

Soal adanya dugaan jual beli buku paket secara paksa di tingkat PAUD, SD dan SMP, jelas ini masalah serius. Betapa tidak, dengan adanya persoalan ini, tak sedikit orangtua murid yang menjerit karena merasa berat. Jangankan untuk beli buku, untuk kebutuhan sehari-hari saja sudah repot.

Terakhir, meski pihak sekolah saat dikonfirmasi membantah mewajibkan pembelian buku paket, namun pernyataan sejumlah orangtua murid malah sebaliknya. Entin (45), warga Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Cianjur terang-terangan menyebut, anaknya yang bersekolah di salah satu SMP favorit itu merengek meminta dibelikan buku paket, karena malu harus terus nebeng kepada temannya setiap akan mengerjakan tugas. Parahnya, Entin mengaku, untuk membeli buku paket anaknya, dirinya terpaksa harus menggadaikan barang berharganya ke Pegadaian Cianjur.

Tak hanya Entin, orangtua murid lainnya di salah satu SD yang berada di daerah Lemburtengah, Kelurahan Solokpandan, Hendra (32), mengalami hal yang sama. Seorang buruh bangunan yang memiliki dua orang anak yang duduk di sekolah yang sama, harus merogoh kocek sebesar Rp1.200.000 untuk pembelian buku paket satu orang anaknya dalam satu tahun. Kebayang, buruh yang berpenghasilan tidak lebih Rp100.000 per hari jika sedang ada objekan, dipaksa membayar buku paket dua orang anaknya sebesar Rp2.400.000.

Saat dikonfirmasi, Dinas Pendidikan selalu mengatakan akan segara diatasi. Namun hingga saat ini masih saja terjadi. Apa kabar Kadisdik Cianjur? Ke mana saja selama ini?

Persoalan kedua soal tim Porda yang tak pernah diperhatikan. Meski akhirnya PSSI melalui KONI mengucurkan anggaran sebesar Rp25.000.000, namun jumlah itu tak mencukupi dan persoalan anggaran dari pemerintah bukanlah satu-satunya solusi.

Gara-gara perhatian yang kurang dan buruknya komunikasi dari PSSI dan KONI, persoalan ini menjadi ramai. Bahkan ketika tim Porda menggelar aksi ‘ngencleng’ ke jalan, pemberitaannya menjadi isu nasional. Terbukti, hampir semua televisi nasional turut memberitakan keprihatinan para atlet Cianjur. Jelas, ini sangat memalukan. Namun kita tak bisa menyalahkan para atlet yang menggelar aksi. Teorinya adalah sebab akibat.

Program ‘Bapak Angkat’ yang dibicarakan KONI hanya sekadar wacana. Faktanya tetap saja hanya mengandalkan anggaran pemerintah. Jika Ketua PSSI dan KONI mampu merangkul para atlet, bukan tak mungkin para atlet tetap mau berjuang meski dalam kondisi prihatin.

Setelah ramai soal ‘sepatu calangap’ (sepatu atlet sepakbola yang sudah tidak layak pakai), masalah lain dari sekian banyak masalah di Cianjur pun sempat membuat masyarakat kaget. Belum lama ini, masyarakat Cianjur dikagetkan dengan nasib miris petani penggarap yang tertindas oleh kebijakan yang diterapkan Balai Pengembangan Benih Padi (BPBP) Cihea, serta dugaan adanya pungli berkedok retribusi sampah yang memberatkan warga.

Hingga saat ini, semua masalah tersebut belum terselesaikan. Wajar jika masyarakat masih kebingungan. Betapa tidak, meski di setiap bidang ada pemimpinnya, ada ketua atau kepala dinasnya, namun apa kerja mereka hingga masalah yang terjadi belum juga bisa terselesaikan?

Jabatan itu bukan hak, tapi amanah yang harus sungguh-sungguh dilaksanakan dan harus dipertanggungjawabkan. Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kepala BPBP, Ketua PSSI dan Ketua KONI, mereka dipilih atau diangkat untuk dapat bekerja membantu kepala daerah dalam menjalankan roda pemerintahan dengan baik. Jika tidak mampu bekerja, lalu untuk apa ada mereka?

Ya, seharusnya bisa amanah dan menunjukkan kinerja serta memberikan pelayanan maksimal terhadap masyarakat. Ingat, amanah bukan ‘aman ah’ alias menjadi pemimpin yang hanya mengamankan posisi kursi jabatan untuk kepentingan pribadi. Ingat, masyarakat menunggu hasil kerja.(*)

Komentar Berita

Berita Lainnya

Aktualita 14/08/2018 08:00 WIB

Kepala DPPPH dan Barjas Saling Tuding

SALING tuding antara Kepala DPPPH Cianjur, Ahmad Nano dan pejabat Bagian Barang dan Jasa (Barjas) Sekretariat Daerah Kabupaten Cianjur terkait dugaan kasus korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), langsung…

Aktualita 13/08/2018 08:00 WIB

Korupsi dan Pungli Terpantau Ramai Lancar

KORUPSI dan pungutan liar (pungli) di Cianjur terpantau ramai lancar. Itulah kalimat yang didapat Tim Nawacita -9 agenda prioritas pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, saat mengunjungi sejumlah wilayah…

Cianjur Euy 12/08/2018 22:31 WIB

Polres Cianjur Siap Amankan Kirab Obor Asian GamesXVIII

KEPOLISIAN Resor (Polres) Cianjur, Jawa Barat akan bekerja maksimal (all out) dalam pelaksanaan pengamanan perjalanan kirab obor api Asian GamesXVIII yang akan melintas dan diinapkan di Pendopo Kabupaten…

Aktualita 08/08/2018 23:28 WIB

Presidium Rakyat: Pimpinan DPRD Tak Bermoral

RATUSAN massa Presidium Rakyat Sugih Mukti kecewa usai menggelar aksi damai di Gedung DPRD Cianjur, Rabu (8/8/2018).

Cianjur Euy 08/08/2018 08:00 WIB

Petani Penggarap di Cianjur Tagih Janji Presiden

Tim Nawacita Presiden, Ruri Jumar Saef mewakili Ketua Tim Joko Daryanto, yang juga adik Jokowi blusukan ke Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Selasa (7/8/2018).

Aktualita 07/08/2018 08:00 WIB

Presidium Rakyat Melawan!

BUPATI Cianjur harus diingatkan kembali bahwa gerakan moral Presidium Rakyat tidak akan pernah berhenti, selama aparat penegak hukum tidak menindak tegas penguasa yang dianggap banyak melakukan pelanggaran…

Cianjur Euy 06/08/2018 21:11 WIB

Dua Rumah Ludes Terbakar

Dua unit rumah di Gang Mujahidin, Kelurahan Sayang, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat ludes terbakar, Senin (6/8/2018) pagi.

Aktualita 06/08/2018 07:00 WIB

Masalah Lagi, Korupsi Lagi

BELUM kelar dengan sederet dugaan penyimpangan atau kasus korupsi, kini kabar tak sedap kembali menerpa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur. Ada apa?

Cianjur Euy 06/08/2018 06:55 WIB

Rekanan Proyek Irigasi Untung Banyak

Pelaksanaan proyek rehabilitasi jaringan irigasi DI Cihea kembali mendapat sorotan tajam pemerhati pembangunan.

Cianjur Euy 05/08/2018 20:57 WIB

Untuk Memberikan Pemahaman Tentang Islam Kaafah

KABUPATEN Cianjur akan menjadi tuan rumah Jambore Nasional para dai Persaudaraan Muslimin Indonesia (PARMUSI). Sediannya jambore tersebut akan dilaksanakan bertepatan dengan ulang tahun Parmusi 26 September…