Sabtu, 18 Nopember 2017 - Pukul 05:51

Jabatan, Amanah atau Aman Ah?
Kang Anton

Jabatan, Amanah atau Aman Ah?

FAKTA atau sekelumit masalah yang pernah terangkum di Berita Cianjur, menjadi perhatian bahkan membuat bingung masyarakat Cianjur. Pemimpinnya ada, tapi masalahnya seolah…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

salam dari cianjur

Jabatan, Amanah atau Aman Ah?

Oleh: Kang Anton - Minggu 12 Nopember 2017 | 18:33 WIB

Jabatan, Amanah atau Aman Ah?

FAKTA atau sekelumit masalah yang pernah terangkum di Berita Cianjur, menjadi perhatian bahkan membuat bingung masyarakat Cianjur. Pemimpinnya ada, tapi masalahnya seolah dibiarkan tanpa ada penyelesaian yang jelas. Ada apa dengan Cianjur?

 

Ya, belakangan ini diberitakan adanya temuan jual beli buku paket yang jelas-jelas dilarang, tim kualifikasi Porda yang tak pernah diperhatikan, petani penggarap yang menjerit karena dibebankan utang akibat gagal panen, pungutan liar (pungli) berkedok retribusi sampah, serta sekelumit masalah lainnya.

 

Soal adanya dugaan jual beli buku paket secara paksa di tingkat PAUD, SD dan SMP, jelas ini masalah serius. Betapa tidak, dengan adanya persoalan ini, tak sedikit orangtua murid yang menjerit karena merasa berat. Jangankan untuk beli buku, untuk kebutuhan sehari-hari saja sudah repot.

 

Terakhir, meski pihak sekolah saat dikonfirmasi membantah mewajibkan pembelian buku paket, namun pernyataan sejumlah orangtua murid malah sebaliknya. Entin (45), warga Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Cianjur terang-terangan menyebut, anaknya yang bersekolah di salah satu SMP favorit itu merengek meminta dibelikan buku paket, karena malu harus terus nebeng kepada temannya setiap akan mengerjakan tugas. Parahnya, Entin mengaku, untuk membeli buku paket anaknya, dirinya terpaksa harus menggadaikan barang berharganya ke Pegadaian Cianjur.

 

Tak hanya Entin, orangtua murid lainnya di salah satu SD yang berada di daerah Lemburtengah, Kelurahan Solokpandan, Hendra (32), mengalami hal yang sama. Seorang buruh bangunan yang memiliki dua orang anak yang duduk di sekolah yang sama, harus merogoh kocek sebesar Rp1.200.000 untuk pembelian buku paket satu orang anaknya dalam satu tahun. Kebayang, buruh yang berpenghasilan tidak lebih Rp100.000 per hari jika sedang ada objekan, dipaksa membayar buku paket dua orang anaknya sebesar Rp2.400.000.

 

Saat dikonfirmasi, Dinas Pendidikan selalu mengatakan akan segara diatasi. Namun hingga saat ini masih saja terjadi. Apa kabar Kadisdik Cianjur? Ke mana saja selama ini?

 

Persoalan kedua soal tim Porda yang tak pernah diperhatikan. Meski akhirnya PSSI melalui KONI mengucurkan anggaran sebesar Rp25.000.000, namun jumlah itu tak mencukupi dan persoalan anggaran dari pemerintah bukanlah satu-satunya solusi.

 

Gara-gara perhatian yang kurang dan buruknya komunikasi dari PSSI dan KONI, persoalan ini menjadi ramai. Bahkan ketika tim Porda menggelar aksi ‘ngencleng’ ke jalan, pemberitaannya menjadi isu nasional. Terbukti, hampir semua televisi nasional turut memberitakan keprihatinan para atlet Cianjur. Jelas, ini sangat memalukan. Namun kita tak bisa menyalahkan para atlet yang menggelar aksi. Teorinya adalah sebab akibat.

 

Program ‘Bapak Angkat’ yang dibicarakan KONI hanya sekadar wacana. Faktanya tetap saja hanya mengandalkan anggaran pemerintah. Jika Ketua PSSI dan KONI mampu merangkul para atlet, bukan tak mungkin para atlet tetap mau berjuang meski dalam kondisi prihatin.

 

Setelah ramai soal ‘sepatu calangap’ (sepatu atlet sepakbola yang sudah tidak layak pakai), masalah lain dari sekian banyak masalah di Cianjur pun sempat membuat masyarakat kaget. Belum lama ini, masyarakat Cianjur dikagetkan dengan nasib miris petani penggarap yang tertindas oleh kebijakan yang diterapkan Balai Pengembangan Benih Padi (BPBP) Cihea, serta dugaan adanya pungli berkedok retribusi sampah yang memberatkan warga.

 

Hingga saat ini, semua masalah tersebut belum terselesaikan. Wajar jika masyarakat masih kebingungan. Betapa tidak, meski di setiap bidang ada pemimpinnya, ada ketua atau kepala dinasnya, namun apa kerja mereka hingga masalah yang terjadi belum juga bisa terselesaikan?

 

Jabatan itu bukan hak, tapi amanah yang harus sungguh-sungguh dilaksanakan dan harus dipertanggungjawabkan. Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kepala BPBP, Ketua PSSI dan Ketua KONI, mereka dipilih atau diangkat untuk dapat bekerja membantu kepala daerah dalam menjalankan roda pemerintahan dengan baik. Jika tidak mampu bekerja, lalu untuk apa ada mereka?

 

Ya, seharusnya bisa amanah dan menunjukkan kinerja serta memberikan pelayanan maksimal terhadap masyarakat. Ingat, amanah bukan ‘aman ah’ alias menjadi pemimpin yang hanya mengamankan posisi kursi jabatan untuk kepentingan pribadi. Ingat, masyarakat menunggu hasil kerja.(*)

Komentar