Sabtu, 18 Nopember 2017 - Pukul 06:00

Jabatan, Amanah atau Aman Ah?
Kang Anton

Jabatan, Amanah atau Aman Ah?

FAKTA atau sekelumit masalah yang pernah terangkum di Berita Cianjur, menjadi perhatian bahkan membuat bingung masyarakat Cianjur. Pemimpinnya ada, tapi masalahnya seolah…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

aktualita

Warga Resah, Dengan Rencana Penertiban Oleh Pemkab

Oleh: - Selasa 14 Nopember 2017 | 20:16 WIB

Warga Resah, Dengan Rencana Penertiban Oleh Pemkab

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Cianjur akan segera menertibkan sejumlah bangunan yang berada di bantaran Sungai Cianjur.  Hal itu, dibuktikan dengan dikeluarkan surat edaran bagi warga akan segera mengosongkan setiap bangunan yang ada di kawasan itu.

 

 

Rencana  pemkab itu membuat sejumlah penghuni bangunan yang ada di kawasan itu resah dan bingung, seperti yang diutarakan Mingming Julian (41), warga Jalan Amalia Rubini, Gang Rinjani I RT 02/14, Kelurahan Sayang, Kecamatan Cianjur yang mengaku bingung dengan adanya rencana penertiban oleh Pemkab Cianjur.

 

 

Mingming yang sudah lebih kurang 20 tahun tinggal di sempadan Sungai Cianjur itu, mendapatkan surat edaran untuk segera mengosongkan bangunan rumah yang selama ini menjadi tempat perlindungan ia dan keluarganya.

 

 

“Bingung, harus bagaimana. Sementara Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) hanya memberikan waktu sekitar 10 untuk dapat mengosongkan seluruh rumah yang ada di kawasan sempadan Sungai Cianjur ini,” jelas Mingming, kepada wartawan, Selasa (14/11/2017).

 

 

Mingming mengatakan, di rumah yang berukuran sekitar 3X6 meter itu dihuni oleh sembilan orang anggota keluarga. Mingming menyebutkan,  mertuanya yang pertama kali menempati rumah tersebut sejak tahun 1980.

 

 

Mertuanya yang sudah tinggal 35 tahun berasal dari kawasan Cianjur selatan. Mereka membeli bangunan tersebut seharga Rp 6 ribu dan diberi surat. "Beberapa tahun setelah membeli rumah tersebut mertua saya ada yang memberitahu jika rumah tersebut berada di tanah negara," katanya.

 

 

Menurutnya orangtuanya yang sehari-hari bekerja sebagai tukang becak ini terpaksa bertahun-tahun tinggal di tempat yang tak layak dan berbahaya karena keadaan ekonomi. Mingming mengatakan bahwa rumahnya sudah dua kali kebanjiran karena berada tepat di bibir sungai. "Kami memang selalu waswas kalau hujan turun dengan deras, tapi kami mau tinggal dimana lagi karena sudah berpuluh-puluh tahun tinggal di sini," kata Mingming.

 

 

Pria yang bekerja di sebuah bengkel milik tetangganya ini mengaku bahwa keluarganya saat ini sudah mengemas semua barang-barang dan sedang mencari kontrakan. Namun ia bingung dengan kelanjutan sekolah anak-anaknya jika harus pindah terlalu jauh.

 

 

Mingming mengatakan orangtuanya sempat dipanggil oleh pihak kelurahan membahas rencana penertiban kawasan tersebut. Ia berharap ada solusi dari pemerintah yang baik bagi keluarganya. "Kalau harus mencari kontrakan dan diberi waktu sepuluh hari, kami bingung dengan biaya kontrakan tersebut. Saya berharap ada sedikit belas kasihan dari pemerintah sebagai pengganti agar kami bisa mengontrak rumah," ujarnya.

 

 

Penghasilan mertuanya sebagai tukang becak dan dirinya sebagai pegawai bengkel hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sembilan penghuni rumah tersebut. "Beginilah keadaan kami, bertahan hidup di tempat berbahaya dan selalu waswas saat hujan deras. Sekarang harus pindah mencari kontrakan, kami harus kepada siapa mengadu," katanya.(angga purwanda)

Komentar