Sabtu, 18 Nopember 2017 - Pukul 05:51

Jabatan, Amanah atau Aman Ah?
Kang Anton

Jabatan, Amanah atau Aman Ah?

FAKTA atau sekelumit masalah yang pernah terangkum di Berita Cianjur, menjadi perhatian bahkan membuat bingung masyarakat Cianjur. Pemimpinnya ada, tapi masalahnya seolah…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

aktualita

Euforia Pecinta Ayam Pelung tak Sehebat Dulu

Oleh: Angga Purwanda - Selasa 14 Nopember 2017 | 21:20 WIB

Euforia Pecinta Ayam Pelung tak Sehebat Dulu

foto: Angga Purwanda/BC

*Hanya Dapat Dinikmati Saat Gelaran kontes

 

AYAM Pelung yang selama ini menjadi ikon Kabupaten Cianjur, sepertinya mulai sedikit ditinggalkan. Hal itu, terlihat dari turunnya masyarakat yang mencari ayam asli Tatar Santri itu.

 

Peminat ayam kontes itu kini tak sebanyak beberapa tahun lalu, karena saat ini pergeseran minat didukung banyak faktor, membuat namanya hanya bergaung di telinga sebagian orang saja.

 

Salah seorang peternak sekaligus penjual ayam pelung Cianjur, Jalal (48) mengaku, mulai kehilangan euforia peminat ayam dengan jengger berwarna merah cerah itu. Pasalnya, semakin hari peminatnya terus berkurang terbukti dengan semakin jarangnya pembeli datang ke lapak berjualannya di kawasan Kecamatan Cugenang.

 

”Biasanya, banyak yang sengaja datang dari dalam atau luar kota untuk membeli ayam pelung. Sekarang, sudah jarang yang datang. Sebagian besar peternak dan pedagang di sini merasakan itu,” kata Jalal, kepada wartawan, belum lama ini.

 

Jalal mengatakan, baru bisa merasakan tingginya minat terhadap ayam pelung saat berada di arena kontes. Menurut Jalal, di saat kontes barulah terlihat banyaknya peminat ayam pelung meskipun rata-rata merupakan orang lama.

 

Menurut dia, peminat kontes bisa terus bertambah, tapi tidak dengan penjualan ayam pelung. Menurunnya penjualan ayam pelung mulai terasa sejak 2005 lalu, ketika Tol Cipularang mulai beroperasi.

 

Wisatawan luar Cianjur lebih banyak mengakses tol untuk pergi ke wilayah Bandung dan sekitarnya. Padahal, sebelum ada jalan tol, banyak sekali orang yang melintas dan berhenti untuk melihat atau membeli ayam pelung.

 

”Kalau sekarang, jalur dari puncak saja sudah sepi. Jangankan pedagang ayam pelung, pengusaha rumah makan saja sepi karena akses jalan tol,” ujarnya.

 

Bukan asal bicara, Jalal yang sudah berternak dan berbisnis ayam pelung sejak 18 tahun lalu itu tahu betul perkembangan bisnis tersebut. Sejak ia kecil, ayam pelung menjadi fenomena tersendiri karena namanya yang tersohor.

 

Setelah mulai menggeluti bisnis ayam yang didapat secara turun temurun, ia pun menyadari jika perbedaan minat terhadap si ayam mulai kentara. Dulu, Jalal atau pedagang ayam yang lain mampu menjual hingga puluhan ekor ayam yang dipatok dengan harga Rp 500 ribu – 4 juta itu setiap bulan. Kini, hanya 2-10 ayam yang bisa dijualnya per bulan.

 

”Sistem penjualan sekarang lebih canggih, karena orang belanja via online. Tinggal pesan nanti diantar, jadinya lebih praktis dan cepat. Kalau dulu orang justru menyengaja datang ke Cianjur,” katanya.

 

Namun, Jalal tetap bertahan untuk berjualan secara konvensional dengan membiarkan pembeli datang. Menurut dia, menjual dengan cara tersebut jauh lebih istimewa karena pembeli dapat melihat langsung ayam yang dijualnya.

 

Ia menambahkan, menurunnya penjualan juga terjadi karena pedagang ayam pelung mulai tersebar di berbagai daerah. Mulai Jawa Barat hingga Jawa Tengah, kini sudah memiliki penjual ayam pelung. Tidak heran, jika pembelian di Cianjur pun menjadi lesu.

 

”Makanya, kami benar-benar mengharapkan supaya pemerintah bantu. Salah satunya untuk mempromosikan ayam pelung, biar orang-orang tahu dan beli langsung dari tempat asalnya, Cianjur,” ucap warga Desa Layung tersebut.

 

Promosi yang kontinyu, dinilai dapat membantu peternak dan penjual untuk terus meningkatkan penjualan. Sekaligus untuk melestarikan hewan khas Cianjur itu. Jalal juga mengharapkan, pemerintah setempat dapat segera menyelesaikan proses pendaftaran hak paten ayam pelung.

 

Menurut Jalal, adanya hak paten dapat membantu peternak untuk memelihara ayam yang terjamin. Terutama, agar mereka bisa mendapatkan vaksin dengan lebih mudah dengan adanya hak paten. Pasalnya, kebutuhan vaksin dinilai penting untuk ternak ayam mereka.

 

”Terakhir kali kami dapat vaksin tahun 2006 lalu, setelah itu tidak ada sama sekali bantuan dari pemerintah,” katanya.

 

Besar harapan Jalal dan peternak lainnya agar pemerintah setempat dapat lebih memperhatikan kelangsungan ayam pelung. Akan tetapi, diketahui jika proses hak paten membutuhkan waktu yang panjang. Pasalnya, banyak tahapan yang harus dilalui untuk mendapatkan hak paten atas ayam pelung Cianjur hingga 2-3 tahun ke depan.

 

Sementara itu, pegiat Ayam Pelung, Gofar, mengaku, ia tengah berusaha untuk mengembalikan pamor Ayam Pelung seperti beberapa tahun lalu. Saat ini, sambung Gofar, tengah menggalakan program untuk memurnikan ayam yang merupakan ras asli Cianjur itu.

 

“Saya tengah berupaya untuk mengembalikan pamor Ayam Pelung agar kembali seperti dulu. Upaya yang dilakukan ini (pemurnian bibit Ayam Pelung, red) dengan cara menernakan bibit ras asli Ayam Pelung yang kini hampir tak ada,” jelas Gofar.

 

Selama ini, sambung Gofar, banyak Ayam Pelung yang di ternakan dan dikawin silangkan dengan ayam pedaging. Padahal, jelas Cucu dari Juri Kontes Ayam Pelung pertama di Cianjur itu, Ayam Pelung merupakan ayam kontes.(*)

Komentar