Selasa, 24 April 2018 | Cianjur, Indonesia

Puncak Musim Hujan, Waspadai Banjir dan Longsor

Angga Purwanda

Rabu, 06 Desember 2017 - 11:27 WIB

Ilustrasi/M Yanuar G/BC
Ilustrasi/M Yanuar G/BC
A A A

Diapit Dua Tebing, Longsor Susulan Mengancam Curug Ciismun

Beritacianjur.com - BENCANA alam terus melanda Cianjur. Setelah angin kencang disertai hujan lebat menerjang puluhan perahu dan warung di Pantai Jayanti Cidaun yang mengakibatkan 700 nelayan menganggur, kini bencana longsor menerpa Curug Ciismun di Kebun Raya Cibodas.

Di saat banyak wisatawan yang berkunjung, warung dan studio foto kecil di lokasi Curug Ciismun tertimpa longsor. Bahkan saat ini, objek wisata curug yang berada di Desa Cimacan Kecamatan Cipanas tersebut, terancam longsoran susulan dari dua tebing yang mengapitnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, longsoran terjadi karena di bagian atas tebing menuju lokasi curug merupakan sebuah kawasan pertanian sayuran yang dikelola oleh masyarakat setempat.

Tidak adanya drainase yang menyangga air yang mengalir dari perkebunan, disinyalir menjadi salah satu penyebab rawannya tempat wisata yang menjadi magnet pengunjung Kebun Raya Cibodas tersebut.

Kepala Seksi Jasa Pelayanan dan Informasi Kebun Raya Cibodas, Solehudin mengaku, sudah mendatangkan tim geologi untuk mengkaji tebing yang rawan longsor tersebut. Dari beberapa hasil kajian, kemungkinan longsor bisa terjadi karena erosi yang disebabkan oleh pemanfaatan lahan di atas tebing untuk pertanian.

"Hasil kajian dari geoteknologi, di atas tebing harus ditanami pohon keras pencegah erosi.Kami senantiasa mengajak masyarakat sekitar jika ada sosialisasi dari tim geologi tersebut," kata Solehudin kepada wartawan, Selasa (5/12/2017).

Ia menyebutkan, pihaknya telah beberapa kali melakukan pertemuan dengan masyarakat dan mereka pun setuju. Namun, jelas dia, dalam perjalanan waktu banyak pohon yang ditanam tidak tumbuh sebagaimana yang diharapkan sehingga potensi longsor bisa terjadi.

Untuk mengantisipasi kemungkinan longsor yang bisa terjadi kapan saja, pihaknya sudah memasang plang peringatan kepada pengunjung agar menjauhi titik-titik yang kemungkinan bisa terjadi longsor. "Dalam keadaan darurat kami bisa membunyikan sirine peringatan agar pengunjung segera berpindah ke tempat yang lebih aman," katanya.

Pihaknya berharap adanya pembebasan lahan di atas tebing agar lahan tersebut sepenuhnya bisa dikelola untuk konservasi tanah dan mencegah terjadinya erosi.

Sementara itu, meski Curug Ciismun masih ditutup, namun minat pengunjung masih banyak pada hari kemarin. Secara resmi Kebun Raya Cibodas telah membuka kembali tempat wisata sejak dua hari kemarin. Namun untuk lokasi Curug Ciismun masih ditutup melihat kondisi cuaca yang bisa saja berubah setiap waktunya.

Dua pasangan yang berasal dari Sumatera Selatan, Safaat (25) dan Fani (23) mengatakan, mengaku tak puas rasanya kalau tak mengunjungi Curug Ciismun jika datang ke Kebun Raya Cibodas. "Sebelum menikah saya sempat ke sini, dulu batu-batunya masih banyak yang besar, sekarang memang berubah, mungkin ada perubahan dari alam juga," ujar Safaat.

Tak hanya wisatawan lokal, Curug Ciismun menjadi magnet bagi wisatawan asing terutama dari kawasan Timur Tengah. Biasanya mereka tak hanya mengunjungi curug tapi memilih tempat lain di sekitar Kebun Raya Cibodas untuk makan bersama keluarga.

Berkaitan dengan bencana longsor di Cianjur, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat di seluruh Indonesia khususnya Cianjur, untuk lebih mengantisipasi banjir, longsor dan bencana lainnya. Pasalnya, puncak musim hujan diperkirakan akan terjadi pada Desember 2017 hingga Februari 2018.

Hal tersebut disampaikan Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi (Kapusdatim) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho. Menurutnya, di bulan-bulan tersebut semua pihak wajib waspada bencana.

"Puncak hujan terjadi pada Desember, Januari dan Februari, nah di situlah kita harus siap mengantisipasi banjir dan longsor," ujarnya di Graha BNPB, Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Selasa (5/12/2017).

Sutopo membeberkan, hingga saat ini sudah tercatat 2.175 bencana yang terjadi selama 2017. Sebanyak 95% bencana di Indonesia tersebut, merupakan bencana hidrometeorologi atau bencana yang dipengaruhi oleh cuaca.

"Ya, 95% bencana di indonesia adalah bencana hidrometeorologi yaitu bencana yang dipengaruhi oleh cuaca banjir, longsor, kekeringan, puting beliung, kebakaran hutan dan cuaca ekstrem," jelasnya.

Saat ini, sambung Sutopo, Indonesia telah masuk ke darurat ekologis yang disebabkan perusakan hutan, degradasi lahan, dan perusakan sungai.

Diberitakan sebelumnya, cuaca ekstrem berupa hujan disertai angin kencang yang diakibatkan adanya belokan siklon tropis “Dahlia” (badai kekuatan besar, red) di sekitar Jawa Barat, bisa menyebabkan berbagai potensi bencana alam kapan saja.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cianjur, Ahmad Rifai mengatakan, bencana yang berpotensi terjadi antara lain, angin puting beliung, gelombang tinggi, longsor, pergerakan tanah dan hujan dengan intensitas tingggi.

Untuk mengantisipasinya, Rifai mengaku telah mengeluarkan surat status siaga bencana. “Kami telah mengimbau masyarakat agar senantiasa waspada menghadapi cuaca ekstrem, melalui surat imbauan cuaca ekstrem yang ditujukan kepada para camat se-Kabupaten Cianjur,” ungkap Rifai kepada wartawan, Senin (4/12/2017).

Tak hanya itu, pihaknya juga meminta masyarakat agar mengaktifkan kembali sistem keamanan Lingkungan (siskamling). “Peran serta masyarakat dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana dengan memerhatikan cuaca ekstrem. Kami juga telah mengaktifkan posko siaga darurat melalui piket siaga darurat bencana sampai dengan Maret 2018 mendatang,” katanya.

Sedangkan untuk peningkatan deteksi dini bencana, Rifai menyebutkan telah meningkatkan pemeliharaan sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) tsunami dan pergerakan tanah.

Terpisah, Pakar Meteorologi Institut Teknologi Bandung, Armi Susandi mengimbau kepada pemerintah, khususnya Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan masyarakat, agar mempersiapkan diri dan lingkungannya terutama di sisi struktural. Pasalnya, ia memperkirakan siklon tropis bakal kembali terjadi.

Seperti diketahui, BPBD Provinsi Jabar mencatat sejumlah peristiwa akibat siklon tropis Cempakadan Dahlia terhitung 24 November sampai 1 Desember 2017, terdiri dari 61 kejadian bencana tanah longsor, 10 bencana banjir, dan 31 bencana angin puting beliung. 

"Diperkirakan ada kemungkinan terjadi kembali. Antisipasi upaya struktural dan persiapan masyarakat agar bisa mempersiapkan diri dan lingkungannya untuk menghadapi bencana, seperti siklon tropis ini pada masa mendatang," ujarnya saat dihubungi Senin (4/12/2017).

Meski begitu, pihaknya tak dapat memastikan waktu siklon tropis tersebut. "Belum bisa kami prediksi, tetapi kemungkinan pada masa peralihan," ucapnya. 

Ia mengungkapkan, masyarakat dapat melihat dan merasakan indikasi awal siklon tropis. "Biasanya awan gelap yang besar hampir menutup seluruh pandangan disertai angin kencang dan hujan gerimis sampai sedang. Setelah itu baru hujan besar dalam 1-2 hari ke depan," ucapnya.

Tidak hanya itu, temperatur permukaan laut yang tinggi juga menjadi salah satu ciri dari siklon tropis, tetapi indikasi ini hanya dapat dipantau dari satelit. "Terhentikan pola tekanan rendah dan temperatur permukaan laut yang tinggi, keduanya dapat dipantau dari satelit," pungkasnya.(*)

Komentar Berita

Berita Lainnya

Cianjur Euy 39 menit yang lalu

Siswa SMK Berikan Sarung Cinta Untuk Mak Icih

RAUT sumringah terlihat dari wajah Mak Icih, saat puluhan siswa dari salah satu SMK kesehatan swasta di Sukabumi mendatangi kediamannya di Kampung Cikaret, Gang Al Falah, Desa Sukamaju, Kecamatan Cianjur.

Cianjur Euy 40 menit yang lalu

IPM Kabupaten Cianjur Jeblok, Paling Bontot di Jawa Barat

INDEKS Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Cianjur, masih relatif jeblok. Posisinya pada 2017 berada paling bontot dari 27 kota/kabupaten di Jawa Barat. Hal itu, diungkapkan anggota DPRD Kabupaten Cianjur,…

Cianjur Euy 41 menit yang lalu

Perpres TKA Berdampak Plus Minus Bagi Daerah

PENERAPAN Peraturan Presiden Nomor 20/2018 tentang penggunaan tenaga kerja asing (TKA) memiliki dampak positif dan negatif bagi dunia kerja di daerah. Sebab, hingga kini masih banyak calon tenaga kerja…

Si Maung 15 jam yang lalu

Laga El Clasico Panas Sebelum Laga Dimulai

LAGA Persib kontra Persija memang baru akan dimulai Sabtu (28/4/2018) mendatang. Namun panasnya laga bertajuk “El Clasico” sudah terasa sebelum laga dimulai.

Si Maung 15 jam yang lalu

Pede, Gomez Targetkan Kemenangan di Jakarta

BUKAN imbang tapi menang. Itulah target Pelatih Persib, Roberto Carlos Mario Gomes, pada laga bertajuk “El Clasico” yang bakal digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (28/4/2018)…

Cianjur Euy 23/04/2018 18:46 WIB

Laporan Keuangan Desa di Cianjur Belum Seragam

PEMERINTAHAN Desa (Pemdes) di Kabupaten Cianjur masih belum seragam dalam sistem laporan keuangan desa. Ada yang masih menggunakan Sistem Pengelolaan Keuangan Desa (Silokades) tapi juga yang sudah menerapkan…

Cianjur Euy 23/04/2018 18:45 WIB

Satlantas Pantau Ruas Infrastruktur Jalan

SATUAN Lalulintas Polres Cianjur, mengagendakan survei pemantauan ruas-ruas infrastruktur jalan menjelang arus mudik Idul Fitri 2018. Hal itu diungkapkan Kasatlantas Polres Cianjur, AKP Rendy Setia Permana,…

Bisnis Line 23/04/2018 18:30 WIB

Baru Dibuka, 'Sabore Kitchen' Diburu Pecinta Gelato

BISNIS kuliner di Kabupaten Cianjur semakin dilirik. Banyak lokasi kafe dan restoran 'anyar' tumbuh di kota yang terkenal dengan kota tauco ini. Tak heran jika antar outlet kuliner saling adu konsep,…

Cianjur Euy 22/04/2018 20:53 WIB

Mutia, Gadis Cilik Asal Cidaun Berprestasi di Seni Membaca Dongeng Sunda

TINGGAL dan mengenyam pendidikan di wilayah yang jauh dari pusat ibu kota kabupaten, tak menjadikan halangan bagi Mutia Karin, siswa kelas IV SD Negeri Puncak Lawang, Kecamatan Cidaun untuk berkarya dan…

Cianjur Euy 22/04/2018 20:07 WIB

Dishub Cianjur Akan Rubah Sistem Tarif Angkum

DINAS Perhubungan (Dishub) Kabupaten Cianjur berencana merubah sistem tarif angkutan umum (Angkum). Kebijakan rencana itu untuk menyesuaikan kondisi angkum pasca perubahan trayek beberapa waktu lalu.