Sabtu, 24 Februari 2018 | Cianjur, Indonesia

Polisi Gelar Rekontruksi Pembunuhan Seorang Remaja

Angga Purwanda

Rabu, 06 Desember 2017 - 21:55 WIB

Foto: Angga Purwanda/BC
Foto: Angga Purwanda/BC
A A A

Keluarga Korban Sebut Banyak Adegan Reka Ulang Tak Sesuai Fakta
Beritacianjur.com - PROSES reka ulang (rekontruksi) kasus penganiayaan yang menyebabkan tewasnya HF (14), warga Kampung Kawung Gading RT 03/12, Desa Sukakerta, Kecamatan Cilaku dinilai tidak sesuai fakta. Keluarga korban menyatakan terlalu banyak perbedaan adegan yang direka ulang dengan pernyataan HF yang akhirnya meninggal pada Agustus lalu.

Kasus penganiayaan itu berawal saat pelaku, yakni Harun Al Rasyid menuduh HF mencuri tanaman di kebun tempatnya bekerja. Harun saat itu melakukan penganiayaan dengan alasan hendak menasihati HF agar tidak mencuri lagi di kebun tersebut. Informasi yang beredar menyebutkan, jika pelaku memukul remaja itu dengan gagang cangkul secara spontan.

Pewakilan keluarga korban, Asep Jamaludin, mengatakan, proses rekontruksi yang dilaksanakan itu tidak benar, karena banyak adegan reka ulang yang tidak sesuai dengan pernyataan alamarhum HF (korban) yang disampaikan kepada pihak keluarga saat korban masih hidup.

”Itu salah, tidak sesuai dengan kenyataan yang dikatakan korban. Korban mengalami luka sobek yang cukup dalam, karena dipukul dengan besi bukan gagang cangkul. Dari pernyataan itu saja sudah berbeda,” kata Asep, kepada wartawan, Rabu (6/12/2017).

Asep menyebutkan, penganiayan yang dilakukan tersangka terhadap korban, berdampak buruk yang akhirnya korban terkapar selama beberapa minggu. Luka di kepalanya terus membusuk tanpa ada penanganan medis, sebab HF dan keluarganya merahasiakan kejadian tersebut karena merasa takut dengan ancaman tersangka, Harun.

Tak hanya itu, Asep yang juga menyaksikan proses rekonstruksi merasa banyak adegan yang tidak sesuai fakta. Hal-hal yang dikatakan korban, tidak ada satupun yang dicantumkan dalam reka adegan tersebut. Termasuk pernyataan HF, yang mengaku jika ia dianiaya juga oleh pemilik kebun tempat Harun bekerja, yaitu Slamet.

Padahal, Asep yakin jika sebelum meninggal HF memberikan keterangan yang sebenarnya. ”Kelemahan kami (keluarga) memang terletak pada kesaksian. Setelah HF meninggal, tidak ada lagi saksi korban. Ditambah lagi, saat kejadian memang tidak ada saksi yang menyaksikan makanya kami mengalah,” katanya.

Akan tetapi, Asep juga tidak bisa berbuat banyak, karena masyarakat setempat juga ketakutan untuk memberikan kesaksian. Soalnya, Harun selama ini dikenal sok jagoan di lingkungan tersebut. Menurut dia, masyarakat tidak ingin terlibat terlalu jauh dalam kasus HF yang sempat viral karena terkait isu sara lantaran pemilik kebun berasal dari etnis tertentu.

”Tapi keluarga bersedia membuktikan semua kebenarannya, kalau mau dibongkar silahkan bongkar saja makam HF dan lakukan otopsi!” ujarnya.

Cara tersebut dinilai menjadi jalan paling tepat untuk membuktikan pernyataan HF sebelum meninggal. Asep mengatakan, jika tidak memastikan sekali lagi, dikhawatirkan publik hanya mengetahui fakta yang kemungkinan bisa direka-reka oleh Harun. Apalagi, Harun juga dikenal sebagai orang yang berani dan terus bertingkah seperti jawara kampung.

Sementara itu, Wakil Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Cianjur Lidya Indayani Umar selaku pendamping pihak keluarga HF mendukung langkah tersebut.

”Kasus ini melibatkan anak yang berujung kematian. Korban sudah meninggal, tidak ada saksi lain dan itu akhirnya menjadi kendala bagi pihak keluarga dalam kasus ini. Keterlibatan masyarakat juga dibutuhkan di sini untuk membela korban,” kata Lidya.

Menurut dia, kesadaran hukum di lingkungan masyarakat yang masih rendah membuat kasus ini memberatkan korban. Padahal, di lingkungan itu HF dikenal baik dan tidak mungkin mencuri. Namun, lagi-lagi tidak banyak orang yang mau bersaksi dan membantu pihak keluarga HF.

”Saya mohon masyarakat harus bicara yang sebenar-benarnya, karena sejauh ini pelaku terlihat santai saja bercerita dari sudut pandang pribadinya. Sementara kesaksian korban, diabaikan dan tidak ada dalam rekonstruksi,” ujarnya.

Oleh karena itu, Lidya sangat mengharapkan agar masyarakat tidak takut untuk membantu keluarga HF dalam proses hukum. Terlebih, selama ini pun Harun dikenal banyak berulah dan merugikan warga sekitar. Pihak P2TP2A akan membantu dan mendampingi korban, ataupun saksi yang meringankan korban selama proses hukum berlangsung.

Kabag Ops Polres Cianjur Warsito mengatakan, rekonstruksi dengan 16 adegan penganiayaan terhadap HF itu dilakukan untuk memperjelas permasalahan yang terjadi. Pasalnya, kasus itu sempat viral dan sarat akan isu sara hingga membuat ormas setempat meminta kepolisian menangkap pemilik kebun tempat Harun bekerja.

”Karena pemilik kebun yang juga menjadi saksi pihak pelaku merupakan keturunan Tionghoa. Diduga, pemilik kebun juga melakukan penganiayaan, sampai kasus ini pun dikait-kaitkan dengan sentimen ras. Tapi, setelah olah TKP saksi dikatakan tidak terlibat,” kata Warsito.

Warsito mengatakan, kasus tersebut telah menemui titik terang karena pelaku sudah tertangkap. Maka dari itu masyarakat juga tidak perlu resah dan diminta untuk mempercayakan prosesnya pada pihak terkait.

”Tapi, kalaupun masyarakat punya keterangan disertai alat bukti maka itu pasti kami proses. Semua masih bisa dikembangkan,” ujarnya. (*)

Komentar Berita

Berita Lainnya

Aktualita 23/02/2018 08:00 WIB

Bupati Dilaporkan ke Presiden dan KPK

AROGAN dan kebijakannya menyengsarakan rakyat. Itulah alasan sejumlah aktivis melaporkan Bupati Cianjur, Irvan Rivano Muchtar (IRM) ke Presiden Joko Widodo, KPK, ICW, BPK, DPR RI dan Ombudsman, Kamis…

Aktualita 23/02/2018 07:55 WIB

Pembagian Insentif Guru Honor Diduga Jadi Ajang Kampanye

PEMBAGIAN insentif dari Bupati Cianjur, Irvan Rivano Muchtar untuk guru honorer K2 se-Kecamatan Karangtengah, terindikasi ditumpangi kepentingan politik.

Aktualita 22/02/2018 08:00 WIB

Hei Bupati, Mundur atau Dimundurkan?

ATURAN dilabrak, Undang-Undang dipecundangi dan hukum dikebiri. Ini hanya terjadi di Cianjur yang konon katanya lebih maju dan agamis.

Bisnis Line 21/02/2018 21:45 WIB Advertorial

Mahasiswa AKPER Deklarasi Anti Narkoba

SEBAGAI salah satu bentuk keprihatinan maraknya peredaran narkoba dan salah satu upaya untuk menekan peredaran narkoba, Akademi Keperawatan (AKPER) Pemkab Cianjur mendeklarasikan anti narkoba. Deklarasi…

Ragam 21/02/2018 18:57 WIB Advertorial

Paguyuban Baladewa : Musik dan Budaya Menyatukan Nusantara

Komunitas napak tilas dan kesenian sunda buhun, yang tergabung dalam wadah Kesenian Paguyuban Baladewa, menggelar parhelatan latihan bersama pada Selasa (20/02), kemarin. Latihan dalam rangka meningkatkan…

Aktualita 21/02/2018 08:00 WIB

Pemkab Cianjur Diduga Serobot Lahan Kritis

PERKANTORAN baru Pemkab Cianjur di Kecamatan Campaka, diduga menyerobot lahan yang diperuntukkan kegiatan program Penanganan Lahan Kritis dan Sumber Daya Air Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM). Benarkah?

Cianjur Euy 20/02/2018 21:17 WIB

Kelanjutan Pembangunan Jalur Puncak II Tidak Jelas

PEMERINTAH pusat maupun provinsi terkesan silih lempar kewengan terkait kelanjutan pembangunan jalur Puncak II. Padahal, jalur itu diharapkan jadi alternatif mengatasi kemacetan di kawasan Puncak.

Cianjur Euy 20/02/2018 20:46 WIB

Polres Cianjur Antisipasi Penyebaran Isu Hoax dan SARA

MARAKNYA informasi bohong (Hoax, red) di tengah masyarakat yang beredar melalui media sosial atau dari mulut ke mulut mendapat perhatian serius dari jajaran Polres Cianjur.

Cianjur Euy 20/02/2018 20:15 WIB

25 Siswa Bintara Latihan Kerja di Polres Cianjur

SEBANYAK 25 siswa bintara Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Jawa Barat tahun angkatan 2018 melaksanakan latihan kerja di Polres Cianjur. Latihan kerja yang diikuti siswa bintara itu dilaksanakan sejak…

Aktualita 20/02/2018 08:00 WIB

Masyarakat yang Mana?

SETELAH diduga mencatut nama Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, kini kantor baru Pemkab Cianjur di Campaka yang belum berizin, diklaim dibangun atas permintaan masyarakat Cianjur. Masyarakat yang…