Rabu, 13 Desember 2017 | Cianjur, Indonesia

Polisi Gelar Rekontruksi Pembunuhan Seorang Remaja

Angga Purwanda

Rabu, 06 Desember 2017 - 21:55 WIB

Foto: Angga Purwanda/BC
Foto: Angga Purwanda/BC
A A A

Keluarga Korban Sebut Banyak Adegan Reka Ulang Tak Sesuai Fakta
Beritacianjur.com - PROSES reka ulang (rekontruksi) kasus penganiayaan yang menyebabkan tewasnya HF (14), warga Kampung Kawung Gading RT 03/12, Desa Sukakerta, Kecamatan Cilaku dinilai tidak sesuai fakta. Keluarga korban menyatakan terlalu banyak perbedaan adegan yang direka ulang dengan pernyataan HF yang akhirnya meninggal pada Agustus lalu.

Kasus penganiayaan itu berawal saat pelaku, yakni Harun Al Rasyid menuduh HF mencuri tanaman di kebun tempatnya bekerja. Harun saat itu melakukan penganiayaan dengan alasan hendak menasihati HF agar tidak mencuri lagi di kebun tersebut. Informasi yang beredar menyebutkan, jika pelaku memukul remaja itu dengan gagang cangkul secara spontan.

Pewakilan keluarga korban, Asep Jamaludin, mengatakan, proses rekontruksi yang dilaksanakan itu tidak benar, karena banyak adegan reka ulang yang tidak sesuai dengan pernyataan alamarhum HF (korban) yang disampaikan kepada pihak keluarga saat korban masih hidup.

”Itu salah, tidak sesuai dengan kenyataan yang dikatakan korban. Korban mengalami luka sobek yang cukup dalam, karena dipukul dengan besi bukan gagang cangkul. Dari pernyataan itu saja sudah berbeda,” kata Asep, kepada wartawan, Rabu (6/12/2017).

Asep menyebutkan, penganiayan yang dilakukan tersangka terhadap korban, berdampak buruk yang akhirnya korban terkapar selama beberapa minggu. Luka di kepalanya terus membusuk tanpa ada penanganan medis, sebab HF dan keluarganya merahasiakan kejadian tersebut karena merasa takut dengan ancaman tersangka, Harun.

Tak hanya itu, Asep yang juga menyaksikan proses rekonstruksi merasa banyak adegan yang tidak sesuai fakta. Hal-hal yang dikatakan korban, tidak ada satupun yang dicantumkan dalam reka adegan tersebut. Termasuk pernyataan HF, yang mengaku jika ia dianiaya juga oleh pemilik kebun tempat Harun bekerja, yaitu Slamet.

Padahal, Asep yakin jika sebelum meninggal HF memberikan keterangan yang sebenarnya. ”Kelemahan kami (keluarga) memang terletak pada kesaksian. Setelah HF meninggal, tidak ada lagi saksi korban. Ditambah lagi, saat kejadian memang tidak ada saksi yang menyaksikan makanya kami mengalah,” katanya.

Akan tetapi, Asep juga tidak bisa berbuat banyak, karena masyarakat setempat juga ketakutan untuk memberikan kesaksian. Soalnya, Harun selama ini dikenal sok jagoan di lingkungan tersebut. Menurut dia, masyarakat tidak ingin terlibat terlalu jauh dalam kasus HF yang sempat viral karena terkait isu sara lantaran pemilik kebun berasal dari etnis tertentu.

”Tapi keluarga bersedia membuktikan semua kebenarannya, kalau mau dibongkar silahkan bongkar saja makam HF dan lakukan otopsi!” ujarnya.

Cara tersebut dinilai menjadi jalan paling tepat untuk membuktikan pernyataan HF sebelum meninggal. Asep mengatakan, jika tidak memastikan sekali lagi, dikhawatirkan publik hanya mengetahui fakta yang kemungkinan bisa direka-reka oleh Harun. Apalagi, Harun juga dikenal sebagai orang yang berani dan terus bertingkah seperti jawara kampung.

Sementara itu, Wakil Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Cianjur Lidya Indayani Umar selaku pendamping pihak keluarga HF mendukung langkah tersebut.

”Kasus ini melibatkan anak yang berujung kematian. Korban sudah meninggal, tidak ada saksi lain dan itu akhirnya menjadi kendala bagi pihak keluarga dalam kasus ini. Keterlibatan masyarakat juga dibutuhkan di sini untuk membela korban,” kata Lidya.

Menurut dia, kesadaran hukum di lingkungan masyarakat yang masih rendah membuat kasus ini memberatkan korban. Padahal, di lingkungan itu HF dikenal baik dan tidak mungkin mencuri. Namun, lagi-lagi tidak banyak orang yang mau bersaksi dan membantu pihak keluarga HF.

”Saya mohon masyarakat harus bicara yang sebenar-benarnya, karena sejauh ini pelaku terlihat santai saja bercerita dari sudut pandang pribadinya. Sementara kesaksian korban, diabaikan dan tidak ada dalam rekonstruksi,” ujarnya.

Oleh karena itu, Lidya sangat mengharapkan agar masyarakat tidak takut untuk membantu keluarga HF dalam proses hukum. Terlebih, selama ini pun Harun dikenal banyak berulah dan merugikan warga sekitar. Pihak P2TP2A akan membantu dan mendampingi korban, ataupun saksi yang meringankan korban selama proses hukum berlangsung.

Kabag Ops Polres Cianjur Warsito mengatakan, rekonstruksi dengan 16 adegan penganiayaan terhadap HF itu dilakukan untuk memperjelas permasalahan yang terjadi. Pasalnya, kasus itu sempat viral dan sarat akan isu sara hingga membuat ormas setempat meminta kepolisian menangkap pemilik kebun tempat Harun bekerja.

”Karena pemilik kebun yang juga menjadi saksi pihak pelaku merupakan keturunan Tionghoa. Diduga, pemilik kebun juga melakukan penganiayaan, sampai kasus ini pun dikait-kaitkan dengan sentimen ras. Tapi, setelah olah TKP saksi dikatakan tidak terlibat,” kata Warsito.

Warsito mengatakan, kasus tersebut telah menemui titik terang karena pelaku sudah tertangkap. Maka dari itu masyarakat juga tidak perlu resah dan diminta untuk mempercayakan prosesnya pada pihak terkait.

”Tapi, kalaupun masyarakat punya keterangan disertai alat bukti maka itu pasti kami proses. Semua masih bisa dikembangkan,” ujarnya. (*)

Komentar Berita

Berita Lainnya

Bisnis Line 18 jam yang lalu

Kemitraan Berdampak Positif Bagi KUMKM

SEJUMLAH pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Cianjur mengikuti sinergi kerjasama antara Rumah Pangan Kita (RPK) dengan Pusat Layanan Usaha Terpadu Koperasi Usaha Mikro Kecil dan…

Bisnis Line 18 jam yang lalu

Honda Suguhkan New Revo yang Lebih Keren

MESKI segmen motor bebek tak sehebat atau tak sedahsyat matik, Astra Honda Motor (AHM) mencoba terus untuk tetap memenuhi kebutuhan pecinta motor Honda Revo. Kali ini Honda resmi mempermak sekaligus memperkenalkan…

Ragam 20 jam yang lalu

Semarak VM TDI Cianjur

CIANJUR-Komunitas pecinta vape (rokok elektrik) varian therion, kini memasuki usia 8 bulan di Cianjur. Terkenal dengan nama Therion DNA Cianjur Chapter, komunitas ini memiliki rutinitas VM(Vape Meet)…

Ragam 20 jam yang lalu

GRANAT Advokasi Bahaya Narkoba ke KVC

CIANJUR-Maraknya oknum yang menyalahgunakan Vape (rokok elektrik) sebagai perangkat penyalahgunaan narkoba, membuat Gerakan Nasional Anti Narkotika (GRANAT) Cianjur geram. Pasalnya, di Kabupaten Cianjur…

Cianjur Euy 20 jam yang lalu

Kapolres Cianjur Bersilaturhmi Dengan Awak Media

KAPOLRES Cianjur, AKBP Soliyah SIK, MH menggelar silaturahmi dengan awak media yang bertugas di Kabupaten Cianjur, di sebuah rumah makan ternama di bilangan Jalan Dr Muwardi (Bypass), Kelurahan Bojongherang,…

Cianjur Euy 21 jam yang lalu

Kepolisian Akan Tindak Spekulan Nakal

KEPOLISIAN Resor (Polres) Cianjur akan menindak tegas setiap spekulan komoditas bahan pokok yang nakal yang mengakibatkan harga komoditas di pasaran menjadi menjadi melonjak.

Aktualita 12/12/2017 07:40 WIB

Pak Bupati, Mana Janjimu?

JANJI Bupati Cianjur, Irvan Rivano Muchtar menggratiskan biaya pelayanan kesehatan kelas III di RSUD Sayang Cianjur, tak kunjung terealisasi.

Cianjur Euy 12/12/2017 07:37 WIB

Disnaker: Persoalan PT Ikon Harus Dibawa ke Pengadilan

DINAS Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Cianjur angkat bicara terkait nasib ratusan buruh PT Ikon Garmindo, yang hingga kini belum bisa menerima hak-haknya semasa bekerja di pabrik milik pengusaha…

Cianjur Euy 12/12/2017 07:31 WIB

Banyak Anak Tak Divaksin, Waspadai Wabah Difteri!

PENYAKIT difteri yang terus mewabah meresahkan banyak masyarakat. Di Cianjur, tercatat sudah ada dua anak yang meninggal dunia akibat mengidap penyakit yang sebenarnya nyaris punah.

Bisnis Line 12/12/2017 07:24 WIB

Tingkat Pesanan Kamar Hotel Meningkat

JELANG perayaan Natal dan Tahun Baru 2018 sejumlah hotel dan penginapan di Cianjur mulai dibanjiri pemesan. Tingkat pemesanan kamar hotel dan penginanpan itu mencapai 30 persen, Senin (11/12/2017).