Minggu, 24 Juni 2018 | Cianjur, Indonesia

Polisi Gelar Rekontruksi Pembunuhan Seorang Remaja

Angga Purwanda

Rabu, 06 Desember 2017 - 21:55 WIB

Foto: Angga Purwanda/BC
Foto: Angga Purwanda/BC
A A A

Keluarga Korban Sebut Banyak Adegan Reka Ulang Tak Sesuai Fakta
Beritacianjur.com - PROSES reka ulang (rekontruksi) kasus penganiayaan yang menyebabkan tewasnya HF (14), warga Kampung Kawung Gading RT 03/12, Desa Sukakerta, Kecamatan Cilaku dinilai tidak sesuai fakta. Keluarga korban menyatakan terlalu banyak perbedaan adegan yang direka ulang dengan pernyataan HF yang akhirnya meninggal pada Agustus lalu.

Kasus penganiayaan itu berawal saat pelaku, yakni Harun Al Rasyid menuduh HF mencuri tanaman di kebun tempatnya bekerja. Harun saat itu melakukan penganiayaan dengan alasan hendak menasihati HF agar tidak mencuri lagi di kebun tersebut. Informasi yang beredar menyebutkan, jika pelaku memukul remaja itu dengan gagang cangkul secara spontan.

Pewakilan keluarga korban, Asep Jamaludin, mengatakan, proses rekontruksi yang dilaksanakan itu tidak benar, karena banyak adegan reka ulang yang tidak sesuai dengan pernyataan alamarhum HF (korban) yang disampaikan kepada pihak keluarga saat korban masih hidup.

”Itu salah, tidak sesuai dengan kenyataan yang dikatakan korban. Korban mengalami luka sobek yang cukup dalam, karena dipukul dengan besi bukan gagang cangkul. Dari pernyataan itu saja sudah berbeda,” kata Asep, kepada wartawan, Rabu (6/12/2017).

Asep menyebutkan, penganiayan yang dilakukan tersangka terhadap korban, berdampak buruk yang akhirnya korban terkapar selama beberapa minggu. Luka di kepalanya terus membusuk tanpa ada penanganan medis, sebab HF dan keluarganya merahasiakan kejadian tersebut karena merasa takut dengan ancaman tersangka, Harun.

Tak hanya itu, Asep yang juga menyaksikan proses rekonstruksi merasa banyak adegan yang tidak sesuai fakta. Hal-hal yang dikatakan korban, tidak ada satupun yang dicantumkan dalam reka adegan tersebut. Termasuk pernyataan HF, yang mengaku jika ia dianiaya juga oleh pemilik kebun tempat Harun bekerja, yaitu Slamet.

Padahal, Asep yakin jika sebelum meninggal HF memberikan keterangan yang sebenarnya. ”Kelemahan kami (keluarga) memang terletak pada kesaksian. Setelah HF meninggal, tidak ada lagi saksi korban. Ditambah lagi, saat kejadian memang tidak ada saksi yang menyaksikan makanya kami mengalah,” katanya.

Akan tetapi, Asep juga tidak bisa berbuat banyak, karena masyarakat setempat juga ketakutan untuk memberikan kesaksian. Soalnya, Harun selama ini dikenal sok jagoan di lingkungan tersebut. Menurut dia, masyarakat tidak ingin terlibat terlalu jauh dalam kasus HF yang sempat viral karena terkait isu sara lantaran pemilik kebun berasal dari etnis tertentu.

”Tapi keluarga bersedia membuktikan semua kebenarannya, kalau mau dibongkar silahkan bongkar saja makam HF dan lakukan otopsi!” ujarnya.

Cara tersebut dinilai menjadi jalan paling tepat untuk membuktikan pernyataan HF sebelum meninggal. Asep mengatakan, jika tidak memastikan sekali lagi, dikhawatirkan publik hanya mengetahui fakta yang kemungkinan bisa direka-reka oleh Harun. Apalagi, Harun juga dikenal sebagai orang yang berani dan terus bertingkah seperti jawara kampung.

Sementara itu, Wakil Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Cianjur Lidya Indayani Umar selaku pendamping pihak keluarga HF mendukung langkah tersebut.

”Kasus ini melibatkan anak yang berujung kematian. Korban sudah meninggal, tidak ada saksi lain dan itu akhirnya menjadi kendala bagi pihak keluarga dalam kasus ini. Keterlibatan masyarakat juga dibutuhkan di sini untuk membela korban,” kata Lidya.

Menurut dia, kesadaran hukum di lingkungan masyarakat yang masih rendah membuat kasus ini memberatkan korban. Padahal, di lingkungan itu HF dikenal baik dan tidak mungkin mencuri. Namun, lagi-lagi tidak banyak orang yang mau bersaksi dan membantu pihak keluarga HF.

”Saya mohon masyarakat harus bicara yang sebenar-benarnya, karena sejauh ini pelaku terlihat santai saja bercerita dari sudut pandang pribadinya. Sementara kesaksian korban, diabaikan dan tidak ada dalam rekonstruksi,” ujarnya.

Oleh karena itu, Lidya sangat mengharapkan agar masyarakat tidak takut untuk membantu keluarga HF dalam proses hukum. Terlebih, selama ini pun Harun dikenal banyak berulah dan merugikan warga sekitar. Pihak P2TP2A akan membantu dan mendampingi korban, ataupun saksi yang meringankan korban selama proses hukum berlangsung.

Kabag Ops Polres Cianjur Warsito mengatakan, rekonstruksi dengan 16 adegan penganiayaan terhadap HF itu dilakukan untuk memperjelas permasalahan yang terjadi. Pasalnya, kasus itu sempat viral dan sarat akan isu sara hingga membuat ormas setempat meminta kepolisian menangkap pemilik kebun tempat Harun bekerja.

”Karena pemilik kebun yang juga menjadi saksi pihak pelaku merupakan keturunan Tionghoa. Diduga, pemilik kebun juga melakukan penganiayaan, sampai kasus ini pun dikait-kaitkan dengan sentimen ras. Tapi, setelah olah TKP saksi dikatakan tidak terlibat,” kata Warsito.

Warsito mengatakan, kasus tersebut telah menemui titik terang karena pelaku sudah tertangkap. Maka dari itu masyarakat juga tidak perlu resah dan diminta untuk mempercayakan prosesnya pada pihak terkait.

”Tapi, kalaupun masyarakat punya keterangan disertai alat bukti maka itu pasti kami proses. Semua masih bisa dikembangkan,” ujarnya. (*)

Komentar Berita

Berita Lainnya

Ragam 11/06/2018 22:35 WIB

Charfest 2018 Sukses Ajak Donasi Warga Cianjur

Charity Festival (Charfest) 2018 digelar di 4 lokasi berbeda di Cianjur. Circle Of Donate (COD), Rengginang Eyang dan BW Squad menjadi pempelopor kegiatan sosial ini. Charfest berhasil mengumpulkan donasi…

Ragam 11/06/2018 22:23 WIB

Perbaiki Masjid, CTC Gulirkan Bantuan Guna Tingkatkan Kepedulian Sosial.

Cianjur Tiger Club (CTC) menggelar bakti sosial dalam momentum Ramadan. Meskipun sudah jadi agenda rutin, tapi kini bantuan sosial diberikan pada sejumlah masjid untuk pembangunan dan perbaikan bangunan.

Bisnis Line 11/06/2018 22:20 WIB

Telkomsel Dorong Percepatan Adopsi Layanan Broadband 4G LTE

Memanfaatkan momen Ramadhan tahun 2018 Telkomsel kembali menghadirkan program Ramadhan Fair yaitu bazaar smartphone dengan beragam promo dan layanan menarik seperti smartphone bundling dan paket data…

Aktualita 08/06/2018 07:00 WIB

Usut Tuntas Pengelolaan PPJ

MENGUATNYA dugaan penyimpangan pengelolaan Pajak Penerangan Jalan (PPJ) di Cianjur, membuat sejumlah aktivis untuk segera melaporkannya ke pihak kepolisian. Benarkah?

Si Maung 08/06/2018 03:08 WIB

Tiga Pemain Persib yang Makin Disorot

SETELAH menutup libur Idul Fitri dengan kemenangan telak 3-0 atas PSMS Medan pada Selasa (5/6/2018) lalu, ada tiga pemain Persib yang kian mendapat simpati dari bobotoh, bahkan menyedot perhatian publik…

Bisnis Line 07/06/2018 21:17 WIB

Tingkatkan Kepedulian Sosial, BNI Cianjur Gelar Santunan ke Yatim dan Jompo

BULAN Ramadhan menjadi momentum bagi ummat muslim untuk berlomba dalam berbuat kebaikan. Salah satunya dengan bakti sosial. Seperti yang dilakukan Bank BNI Cianjur, pada Kamis, (7/6/2018) menggelar santunan…

Aktualita 07/06/2018 08:00 WIB

Dugaan Penyelewengan Pengelolaan PPJU Makin Menguat

DUGAAN adanya kejanggalan atau penyelewengan pengelolaan Pajak Penerangan Jalan Umum (PPJU) di Cianjur, semakin menguat. Benarkah?

Cianjur Euy 06/06/2018 20:11 WIB

PJU dan Rambu-rambu di Jalur Alternatif Mudik Ditambah

DINAS Perhubugan (Dishub) Kabupaten Cianjur akan menyiapkan penambahan penerangan jalan umum (PJU) maupun rambu-rambu lalulintas di beberapa ruas jalur altenatif di wilyah itu yang dinilai masih minim…

Cianjur Euy 06/06/2018 20:02 WIB

Tak Laik Jalan, Dishub Kandangkan Angkutan Mudik

SEJUMLAH kendaraan umum untuk kebutuhan angkutan mudik Idul Fitri 1439 Hijriyah di Kabupaten Cianjur, terpaksa dikandangkan sementara karena tak laik jalan. Kendaraan bisa kembali beroperasi apabila perusahaan…

Ragam 06/06/2018 11:14 WIB

Kayuh Sepeda, Bocah Ini Nekat Mudik dari Cianjur ke Majalengka

NEKAT dan luar biasa. Itulah ungkapan yang pas disematkan untuk Ade Rahman, santri pesantren di kawasan Ciketung, Cipanas, Cianjur. Betapa tidak, dengan mengayuh sepeda, santri ini nekat mudik dari Cianjur…