Rabu, 20 Juni 2018 | Cianjur, Indonesia

Banyak Anak Tak Divaksin, Waspadai Wabah Difteri!

Sepanjang 2017, Dinkes Cianjur Catat 3 Temuan Kasus, Dua Anak Meninggal Dunia

Angga Purwanda/Gie/bbs

Selasa, 12 Desember 2017 - 07:31 WIB

Foto: Ilustrasi/Net
Foto: Ilustrasi/Net
A A A

Beritacianjur.com - PENYAKIT difteri yang terus mewabah meresahkan banyak masyarakat. Di Cianjur, tercatat sudah ada dua anak yang meninggal dunia akibat mengidap penyakit yang sebenarnya nyaris punah.

Menghadapi kondisi tersebut, Menteri Kesehatan Nila Djuwita F Moeloek meminta kepada PT Bio Farma mempercepat produksi vaksin DPT (Difteri, Pertusis, dan Tetanus) untuk tahun 2018.

Permintaan tersebut, sambung Nila, berkaitan juga dengan penyakit difteri yang telah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

Sejak kemarin, Kemenkes melakukan imunisasi ulang atau ORI (Outbreak Response Immunization) di tiga provinsi, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Ketiganya dipilih karena tingginya prevalensi dan kepadatan masyarakat.

Nila menjelaskan, Pemberian vaksin DPT dilakukan dengan prosedur 061, artinya penyuntikan imunisasiterbagi menjadi tiga tahap.Setelah penyuntikan pertama, imunisasi akan diulangi pada bulan berikutnya dan enam bulan setelahnya. Dengan demikian, diperlukan waktu delapan bulan untuk mengevaluasi kasus merebaknya difteri.

Hingga akhir 2017, Nila menyebutkan stok vaksin DPT masih mencukupi. Saat ini terdapat 3,5 juta vial, dengan satu vial berisi sepuluh dosis.

"Untuk 2018, kami duduk dengan PT Bio Farma, mereka kami minta produksinya dipercepat. Karena pemberian ORI sekarang sekarang, 1 bulan kemudian dan 6 bulan setelahnya, jadi tiga kali," kata Nila di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSIP) Sulianti Saroso, Jakarta, Senin (11/12/2017).

Nila menuturkan, tidak ada target pemberian vaksin DPT. Vaksin DPT akan terus diberikan ke semua daerah. Sebab, penyebaran difteri menurutnya dipengaruhi oleh mobilitas dan kepadatan penduduk.

Dalam kesempatan itu, Nila mengimbau kepada masyarakat untuk tak mengkhawatirkan daya tampung rumah sakit terkait ruang isolasi. Pasalnya, di Indonesia hanya terdapat 100 rumah sakit yang memiliki ruang isolasi.

Ruang isolasi bagi pengidap difteri tak harus bertekanan negatif. Sebab, difteri tak menyebar melalui udara, melainkan melalui percikan ludah yang berjarak 5-7 meter.

"Ruang isolasi bisa dibuat. Jadi hanya dipisahkan gitu. Kalau petugas kesehatan masuk harus pakai masker, yang menunggu pasien juga pakai," ucap Nila.

Sementara itu, para pasien terdampak difteri yang saat ini menjalani perawatan tidak ditanggung oleh BPJS. Ini terjadi setelah status kejadian luar biasa (KLB) ditetapkan oleh pemerintah daerah masing-masing.

"Sebelum ada status (KLB) pembayaran tergantung penggunaan, apakah dia masuk dengan BPJS dan umum. Semenjak KLB artinya dibiayai pemda, bukan BPJS lagi," ucap Direktur Utama RSPI Sulianti Saroso dr Rita Rogayah, Senin (11/12/2017).

Rita menjelaskan, sejak status KLB semua pasien ditanggung sebagai pasien kelas 3. Ini juga diungkapkan oleh Menteri Kesehatan saat berkunjung ke RSPI Sulianti Saroso.

"Ini ditanggung oleh pemerintah daerah melalui rumah sakit dan Kementerian Kesehatan. Total biaya vaksin DPT karena ini kan bertahap dari usia dua bulan, tiga bulan, empat bulan kemudian 18 bulan, kelas 1, kelas 2 lalu kelas 5. Itu di bulan imunisasi anak sekolah. Bisa sekitar 1,6 triliun," ucap Nila.

Dari Januari-November di RSPI Sulianti Saroso tercatat 61 pasien pasien difteri dengan 3 pasien meninggal yaitu pasien anak. Satu pasien anak dari Tangerang.

Saat ini, 33 pasien yang dirawat belum positif difteri karena masih menunggu hasil lab sekitar 2 minggu. Tapi gejala klinisnya telah mendukung difteri sehingga perawatannya langsung ditangani seperti pasien positif difteri.

Diberitakan sebelumnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cianjur mencatat sepanjang tahun 2017 terdapat tiga temuan kasus difteri yang tersebar di sejumlah wilayah Cianjur. Hal itu diungkapkan Kasi Surveilans dan Imuniasi Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Cianjur, Asep Helmiono, Kamis (7/12/2017).

Asep menyebutkan, untuk temuan kasus terbaru terjadi pada 15 November lalu, di Desa Cijedil, Kecamatan Cugenang. Dimana, seorang anak usia sekolah dasar (SD) postif difteri.

Untuk mencegah kembali terjadinya kasus difteri di Kabupaten Cianjur, pihaknya gencar melakukan sosialisasi untuk mendorong agar masyarakat mau melakukan vaksin dan imunisasi secara rutin.

“Kasus difteri baru ditemukan lagi setelah dua tahun terakhir, sebab di 2015 dan 2016 tidak ada kasus difteri di Tatar Santri, dengan jumlah kasus yang mencapai tiga kasus selama setahun," katanya.

Dua kasus lainnya, menurut Asep, ditemukan di Desa Sukasari Kecamatan Cilaku pada Maret 2017 dan di Desa Sukamulya, Kecamatan Cikadu awal September 2017.

"Untuk jumlah warga yang terjangkit, di Cikadu paling banyak, sampai ada beberapa orang yang positif termasuk ada yang meninggal juga.  Karena sebelum meninggal timbul gejala seperti halnya orang terkena difteri, maka kami masukan ke data kasus di tahun ini," tuturnya.

Dia mengatakan, dalam penanganannya Dinkes langsung turun tangan ke lokasi. Hal itu dilakukan untuk mendata dan menindaklanjuti mereka yang terkena difteri, serta mengantisipasi penularan terhadap keluarga atau lingkungan di sekitarnya.

"Untuk yang di Cikadu itu langsung turun dari Kementerian Kesehatan, karena itu satu keluarga yang terjangkit. Dikhawatirkan meluas lagi. Sementara temuan yang lainnya langsung kami yang menangani dan sudah masa penyembuhan," ungkapnya.

Asep mengimbau masyarakat, agar menggencarkan pola hidup bersih dan sehat.  Selain itu, ketika ada yang terindikasi difteri,  segera hindari kontak dan membawa ke layanan kesehatan untuk ditangani lebih lanjut.

Menurut Asep, rata-rata yang masih ditemukan difteri adalah daerah yang masyarakatnya masih belum sadar untuk divaksin atau imunisasi secara lengkap. Namun, jika sudah lengkap dipastikan hingga beberapa tahun ke depan Cianjur akan terbebas dari difteri.

"Seperti halnya di Cijedil, warga di sana belum sepenuhnya sadar imunisasi. Bahkan saat program imunisasi, tidak sedikit yang menolak lantaran menganggap ketika sudah diimunisasi,anak jadi panas atau demam, padahal itu gejala normal. Maka dari itu kami sadarkan warga agar imunisasi supaya terhindar dari difteri," tutupnya.(*)

 

Difteri di Cianjur:

  • Sepanjang 2017, terdapat tiga temuan kasus difteri yang tersebar di sejumlah wilayah Cianjur.
  • Temuan terbaru terjadi pada 15 November lalu, di Desa Cijedil, Kecamatan Cugenang. Seorang anak usia sekolah dasar (SD) postif difteri.
  • Dua kasus lainnya ditemukan di Desa Sukasari Kecamatan Cilaku pada Maret 2017, serta di Desa Sukamulya, Kecamatan Cikadu awal September 2017.
  • Di Cikadu, dua orang meninggal dan empat lainnya dirawat intensif lantaran mengidap penyakit difteri. Kelima orang di antaranya merupakan kakak-beradik dan satu orang lagi masih bersaudara.
  • Kasus difteri paling tinggi di Cianjur terjadi pada 2000. Jumlah pengidapnya mencapai puluhan orang, dengan wilayah paling banyak di Cugenang dan Cikalong. Namun setelahnya berangsur turun hingga hanya satu atau dua kasus per tahun, dan sejak 2011 belum ditemukan lagi hingga sebelum kasus di Cikadu muncul.

Komentar Berita

Berita Lainnya

Ragam 11/06/2018 22:35 WIB

Charfest 2018 Sukses Ajak Donasi Warga Cianjur

Charity Festival (Charfest) 2018 digelar di 4 lokasi berbeda di Cianjur. Circle Of Donate (COD), Rengginang Eyang dan BW Squad menjadi pempelopor kegiatan sosial ini. Charfest berhasil mengumpulkan donasi…

Ragam 11/06/2018 22:23 WIB

Perbaiki Masjid, CTC Gulirkan Bantuan Guna Tingkatkan Kepedulian Sosial.

Cianjur Tiger Club (CTC) menggelar bakti sosial dalam momentum Ramadan. Meskipun sudah jadi agenda rutin, tapi kini bantuan sosial diberikan pada sejumlah masjid untuk pembangunan dan perbaikan bangunan.

Bisnis Line 11/06/2018 22:20 WIB

Telkomsel Dorong Percepatan Adopsi Layanan Broadband 4G LTE

Memanfaatkan momen Ramadhan tahun 2018 Telkomsel kembali menghadirkan program Ramadhan Fair yaitu bazaar smartphone dengan beragam promo dan layanan menarik seperti smartphone bundling dan paket data…

Aktualita 08/06/2018 07:00 WIB

Usut Tuntas Pengelolaan PPJ

MENGUATNYA dugaan penyimpangan pengelolaan Pajak Penerangan Jalan (PPJ) di Cianjur, membuat sejumlah aktivis untuk segera melaporkannya ke pihak kepolisian. Benarkah?

Si Maung 08/06/2018 03:08 WIB

Tiga Pemain Persib yang Makin Disorot

SETELAH menutup libur Idul Fitri dengan kemenangan telak 3-0 atas PSMS Medan pada Selasa (5/6/2018) lalu, ada tiga pemain Persib yang kian mendapat simpati dari bobotoh, bahkan menyedot perhatian publik…

Bisnis Line 07/06/2018 21:17 WIB

Tingkatkan Kepedulian Sosial, BNI Cianjur Gelar Santunan ke Yatim dan Jompo

BULAN Ramadhan menjadi momentum bagi ummat muslim untuk berlomba dalam berbuat kebaikan. Salah satunya dengan bakti sosial. Seperti yang dilakukan Bank BNI Cianjur, pada Kamis, (7/6/2018) menggelar santunan…

Aktualita 07/06/2018 08:00 WIB

Dugaan Penyelewengan Pengelolaan PPJU Makin Menguat

DUGAAN adanya kejanggalan atau penyelewengan pengelolaan Pajak Penerangan Jalan Umum (PPJU) di Cianjur, semakin menguat. Benarkah?

Cianjur Euy 06/06/2018 20:11 WIB

PJU dan Rambu-rambu di Jalur Alternatif Mudik Ditambah

DINAS Perhubugan (Dishub) Kabupaten Cianjur akan menyiapkan penambahan penerangan jalan umum (PJU) maupun rambu-rambu lalulintas di beberapa ruas jalur altenatif di wilyah itu yang dinilai masih minim…

Cianjur Euy 06/06/2018 20:02 WIB

Tak Laik Jalan, Dishub Kandangkan Angkutan Mudik

SEJUMLAH kendaraan umum untuk kebutuhan angkutan mudik Idul Fitri 1439 Hijriyah di Kabupaten Cianjur, terpaksa dikandangkan sementara karena tak laik jalan. Kendaraan bisa kembali beroperasi apabila perusahaan…

Ragam 06/06/2018 11:14 WIB

Kayuh Sepeda, Bocah Ini Nekat Mudik dari Cianjur ke Majalengka

NEKAT dan luar biasa. Itulah ungkapan yang pas disematkan untuk Ade Rahman, santri pesantren di kawasan Ciketung, Cipanas, Cianjur. Betapa tidak, dengan mengayuh sepeda, santri ini nekat mudik dari Cianjur…