Senin, 23 Oktober 2017 - Pukul 07:40

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

aktualita

Setnov dan Fadli Zon Dituntut Mundur

Oleh: Maharaya Akbar - Minggu 06 September 2015 | 08:54 WIB

Setnov dan Fadli Zon Dituntut Mundur

setnov - donald thrump/net

BERITACIANJUR.COM,  JAKARTA – Kehadiran Ketua DPR RI, Setya Novanto (Setnov) dan Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon dalam kampanye bakal calon Presiden Amerika Serikat dari partai Republik, Donald Trump terus menuai kritik. Keduanya bahkan dituntut mundur dari jabatannya karena dinilai telah mempermalukan bangsa Indonesia.

 

Kritik bahkan kecaman keras datang dari berbagai kalangan, mulai warga biasa hingga politisi.  Bahkan, atas tindakan keduanya, Setnov maupun Fadhli diminta mundur dari jabatannya melalui sebuah petisi yang muncul dari sebuah situs. Bahkan, sampai sejauh ini petisi itu sudah ditandatangani oleh ribuan orang.

 

Keberatan banyak pihak terhadap keduanya karena, saat itu berkampanye dengan Trump, beberapa anggota DPR malah asik selfie dengan wanita. Apalagi, Trump yang dikenal sebagai sosok rasis dan anti imigran memperkenalkan Setnov dan anggota DPR lainnya kepada simpatisan Trump saat kampanye itu berlangsung.

 

Padahal, awalnya lawatan mereka ke AS untuk menghadiri Konferensi Dunia IV Pimpinan Parlemen Dunia di markas PBB yang berlangsung 31 Agustus-2 September bukan untuk menjadi simpatisan raja properti itu. (net)

 

Komentar