Senin, 22 Januari 2018 | Cianjur, Indonesia

Pasien BPJS Dipaksa Beli Obat dari Luar

PPMC: Tak Ada Istilah Obat yang Tak Ditanggung, Semua Pelayanan di RSUD Menjadi Kewajiban RSUD

Gie/BBS

Selasa, 09 Januari 2018 - 06:30 WIB

Karikatur: Nandang S/BC
Karikatur: Nandang S/BC
A A A

Beritacianjur.com - PERMASALAHAN di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sayang Cianjur tak kunjung selesai. Bahkan, ketika masalah yang satu belum terpecahkan, kini muncul lagi masalah lainnya. Kok bisa?

Ya, setelah adanya dugaan praktik pungutan liar (pungli) pada rekrutmen calon pegawai di lingkungan RSUD Cianjur, kini muncul masalah lainnya, yakni banyaknya keluhan dari pasien BPJS Kesehatan yang selalu harus beli obat dari luar atau di apotek yang berada dekat dengan RSUD.

Kondisi tersebut salah satunya dialami Anew (51), warga Bojongherang Cianjur. Saat mengurusi saudaranya yang dirawat di RSUD, ia mengaku harus menebus obat dari luar dengan alasan stok obat di rumah sakit habis.

“Aneh juga sebenarnya, katanya BPJS tapi kok obat tetap harus beli dari luar. Jadi ya ada biaya lagi dan cukup memberatkan untuk pasien. Alasan rumah sakit sih katanya karena tidak tercover BPJS dan ketersediaan obat di RSUD terbatas. Kalau alasannya seperti itu kan seolah-olah kita dipaksa,“ ungkapnya kepada Berita Cianjur, Senin (8/1/2018).

Anew mengatakan, pengalaman tersebut tak hanya dialaminya, namun sejumlah pasien lainnya pun mengalami hal yang sama. “Iya bukan hanya saya saja, tapi banyak pasien lainnya juga yang diminta beli obat ke luar. Apalagi di IGD, hampir semuanya pada beli obat ke apotek, padahal saat ngobrol-ngobrol, mereka juga pasien BPJS,“ katanya.

Keheranan Anew tak berhenti disitu saja, namun ia juga sangat heran karena obat yang dibelinya dari luar tersebut, tidak terlihat dipakai oleh dokter atau perawat yang memeriksa pasien.

“Kalau saya lihat-lihat, obat dari luar itu entah dipakai atau engga, karena perawat tetap pakai obat yang ada di depo RSUD. Jadi buat apa kita beli? Banyak pasien lain yang mengeluh, mudah-mudahan persoalan ini bisa segera diatasi,“ harapnya.

Menanggapi persoalan tersebut, Sekjen Perhimpunan Pergerakan Masyarakat Cianjur (PPMC), Ari Muhammad mengaku heran. Pasalnya, seharusnya rumah sakit tidak diperkenankan meminta pasien BPJS Kesehatan untuk menebus obat di luar dengan alasan apapun.

“Ini seharusnya tidak terjadi. Semua pelayanan di RSUD menjadi kewajiban RSUD untuk menyediakan dengan obatnya. Pasien atau masyarakat jangan tinggal diam, harus segera melaporkannya kepada lembaga terkait,“ ujarnya kepada Berita Cianjur, Senin (8/1/2018).

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No 28 Tahun 2014, sambung Ari, tak ada istilah obat tak ditanggung oleh BPJS Kesehatan. Menurutnya, pasien BPJS berhak mendapatkan obat yang tercantum dalam formularium nasional (fornas) dengan model pembiayaan paket inasibijis (diagnosa penyakit pasien menurut dokter).

“Jika ada obat di luar fornas, tetap dapat diberikan dan menjadi tanggung jawab rumah sakit,“ jelasnya.

Ari menegaskan, masih banyak pasien BPJS Kesehatan atau masyarakat umum yang belum mengetahui detail terkait pelayanan kesehatan. Seharusnya, tegas Ari, RSUD gencar melakukan sosialisasi sesuai aturan yang ada.

“RSUD harus sosialisasi dong, minimal ada pengumuman atau keterbukaan. Pasien BPJS itu bukan gratis, karena sudah dibayarkan Negara. Analoginya sama seperti pegawai RSUD yang dibayar pemerintah, ya pasien BPJS juga sama,“ tegasnya.

Ia menyoroti soal peranan Direktur Utama RSUD Cianjur, Ratu Tulia, yang seharusnya cepat tanggap ketika muncul berbagai persoalan. Selain harus gencar bersosialisasi, seorang dirut juga tak boleh kecolongan oleh oknum  pegawainya. 

“Jika dirutnya tidak cepat tanggap, jangan salahkan masyarakat jika muncul dugaan atau pemikiran negatif terhadap kepemimpinan dirutnya. Jika persoalannya ini sudah terindikasi pungli atau adanya permainan yang menyangkut menyalahi aturan, aparat hukum juga harus ikut bertindak,“ ucapnya.

Sementara itu, saat hendak dikonfirmasi mengenai persoalan pasien BPJS, dikatakan sekretaris pribadinya, Dirut RSUD, Ratu Tri Yulia tengah mengikuti kegiatan. “Mohon maaf Pak, kebetulan Ibu Dirut hari ini ada kegiatan. Punten Pak kalau boleh tahu konfirmasi perihal apa? Nanti saya sampaikan,“ pungkasnya.

Tak hanya di Cianjur, persoalan pasien BPJS Kesehatan yang diminta beli obat dari luar rumah sakit ini, sebenarnya sudah lama berlangsung dan terjadi juga di sejumlah daerah. Bahkan persoalan ini juga pernah disoroti langsung oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nila Djuwita F Moeloek.

Jika ada dokter yang menganjurkan pasiennya membeli obat lain di apotek tertentu, kata Nila, maka dokter tersebut diduga bisa terlibat dalam praktik gratifikasi. Menurutnya, pembelian obat dari luar rumah sakit tidak dibenarkan. Pasalnya, semua biaya pengobatan para pasien BPJS ditanggung pemerintah.

Dikarenakan anjuran-anjuran demikian sudah sering dipraktikkan oleh para dokter, Nila mengingatkan para pasien untuk langsung memprotes atau membuat laporan jika mengalami kasus-kasus seperti itu.

"Kalau dokter menganjurkan pasien BPJS untuk membeli obat di apotek tertentu maka ada kemungkinan dia bekerja sama dengan apotek atau perusahaan obat itu. Yah, tentu sang dokter menerima komisi dari sana. Nah, itulah yang disebut ada kemungkinan terjadi gratifikasi," tegasnya.(*)

Komentar Berita

Berita Lainnya

Cianjur Euy 13 jam yang lalu

Sampah Berserakan di Area Asamul Husna

PEDAGANG yang biasa mangkal di sekitar area Taman Asmaul Husna, Kampung Panaruban, Desa/Kecamatan Haurwangi belum sepenuhnya sadar akan pentingnya kebersihan lingkungan.

Cianjur Euy 13 jam yang lalu

Akhirnya Keluarga Otim Punya Rumah Baru

RAUT wajah Otim (47) tampak berseri seri dipenuhi kebahagian. Bagaimana tidak bahagia, Minggu (21/1) dirinya bisa bertemu langsung dengan Dedi Mulyadi, Calon Wakil Gubernur Jabar.

Cianjur Euy 13 jam yang lalu

Kepengurusan Kampung KUBA Dibentuk

PROGRAM Kampung Utama Berakhlakul Karimah (KUBA) mulai dibumikan di seluruh wilayah Kabupaten Cianjur. Mensukseskan program yang digagas Bupati Cianjur itu, kepengurusan Kampung KUBA mulai dibentuk di…

Bisnis Line 13 jam yang lalu

Gurihnya Sensasi Soto Bogor Siliwangi Bikin Nagih

SIAPA yang tak suka dengan gurihnya sajian kuah soto hangat? Selain memiliki cita rasa rempah yang kuat, irisan daging yang dipotong dadu, taburan bawang goreng, kacang kedelai, dan tomat segar terasa…

Cianjur Euy 13 jam yang lalu

Kecewa Kebijakan Pemkab, Warga Segel Eks SD Bujensa

SEBUAH spanduk penolakan terbentang di pagar tembok eks SDN Ibu Jenab 1 (Bujensa, red). Spanduk penolakan itu ditempel oleh warga yang menilai Pemkab Cianjur tidak menjalankan komitmen yang dibuat terkait…

Cianjur Euy 13 jam yang lalu

Stok Surplus, Pemkab Cianjur Tolak Impor Beras

CAPAIAN produksi padi di Kabupaten Cianjur tahun 2017 mencapai 105 persen. Capaian itu lebih tinggi dari tahun sebelumnya, yang hanya mencapai 100,88 persen.

Cianjur Euy 13 jam yang lalu

Mayat Pria Tanpa Identias Ditemukan Mengambang

MAYAT pria tanpa identitas ditemukan mengambang di genangan air Blok Sungai Citarum, Kampung Cinangsi RT 02/10, Desa Kertamukti, Kecamatan Haurwangi, Minggu (21/1/2018) sekitar pukul 13.00 WIB.

Cianjur Euy 18/01/2018 22:54 WIB

Aksi Maling Zaman Now

AKHIR-akhir ini kawanan maling spesial kantor desa tengah giat melancarkan aksinya ke sejumlah desa di wilayah Timur Kabupaten Cianjur.

Cianjur Euy 18/01/2018 22:53 WIB

Pencetakan e KTP Dipusatkan di Kecamatan Ciranjang

PEMERINTAH Kabupaten Cianjur menunjuk Kecamatan Ciranjang sebagai tempat pusat layanan pembuatan e-KTP dan Kartu Keluarga (KK) bagi masyarakat yang ada di 5 Kecamatan. Antaralain, Kecamatan Ciranjang,…

Bisnis Line 18/01/2018 22:51 WIB

Cugenang Jadi Pencanangan Gerakan Pemasangan Patok Tanah PTSL

MINGGU ketiga di bulan Januari 2018 Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kantor Pertanahan Kabupaten Cianjur mulai menggarap program nasional sertifikasi tanah dalam program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap…