Senin, 22 Januari 2018 | Cianjur, Indonesia

Pasien BPJS Harus Lapor!

Jika RSUD atau Dokter Menyuruh Beli Obat dari Luar dengan Uang Pribadi

Gie/BBS

Rabu, 10 Januari 2018 - 06:30 WIB

Karikatur: Nandang S/BC
Karikatur: Nandang S/BC
A A A

Beritacianjur.com - KELUHAN pasien BPJS Kesehatan yang disuruh dokter atau pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sayang Cianjur membeli obat di luar dengan uang pribadi, masih terus bermunculan.

Dengan alasan ketersediaan obat atau tidak tercover BPJS yang disampaikan pihak RSUD Cianjur, sejumlah pasien terpaksa mengeluarkan biaya ratusan ribu hingga jutaan rupiah, untuk membeli obat yang seharusnya sudah ditanggung BPJS.

Kondisi tersebut dialami Mulyana (50), warga Desa Nagrak Cianjur. Saat mengantar anaknya berobat di RSUD Cianjur beberapa waktu lalu, ia mengaku harus mengeluarkan uang Rp800 ribu rupiah untuk membeli obat di luar rumah sakit.

“Iya itu benar Pak. Awalnya saya gak mengira kalau harus ada pengeluaran untuk obat, soalnya kan anak saya punya BPJS. Daripada gak ada obat, ya terpaksa beli,“ ujarnya kepada Berita Cianjur, Selasa (9/1/2018).

Saat ditanya soal upaya dirinya untuk menggantikan pengeluaran biaya pribadi untuk obat anaknya, Mulyana mengaku tak paham dan sampai anaknya diizinkan pulang ke rumah, tak ada informasi dari RSUD Cianjur mengenai hal tersebut.

“Kalau saya kan gak tahu. Kalau memang bisa diganti atau diklaim, harusnya ada pemberitahuan dong dari RSUD Cianjur. Ini kan gak ada, buktinya sampai anak saya yang sekarang sudah pulang ke rumah, uang Rp800 ribu saya gak diganti,“ ungkapnya.

Keluhan lain datang dari Uday (33), warga Haurwangi Cianjur. Selama menunggu anggota keluarganya yang dirawat di RSUD, ia mengaku melihat sejumlah pasien yang harus mengeluarkan uang pribadinya untuk membeli obat suntik.

“Alhamdulillah kalau saya pribadi sih engga mengalami. Tapi tetangga saya di ruangan rawat, ada yang sampai habis uang sebesar Rp600 ribu untuk membeli obat suntik. Padahal saat ngobrol, dia punya BPJS juga,“ katanya.

Sementara itu, Wawan (51), warga Bojongherang Cianjur mengaku melihat banyak kejanggalan yang terjadi di RSUD Cianjur, mulai dari pasien BPJS yang tetap diminta beli obar di luar rumah sakit, adanya pasien BPJS kelas 1 namun mendapatkan fasilitas di kelas 2, hingga persoalan ketidakadilan saat antre pengembilan obat BPJS.

Terkait obat, saat mengurusi saudaranya yang dirawat di RSUD, Wawan mengaku harus menebus obat dari luar dengan alasan stok obat di rumah sakit habis.

“Aneh juga sebenarnya, katanya BPJS tapi kok obat tetap harus beli dari luar. Jadi ya ada biaya lagi dan cukup memberatkan untuk pasien. Alasan rumah sakit sih katanya karena tidak tercover BPJS dan ketersediaan obat di RSUD terbatas. Kalau alasannya seperti itu kan seolah-olah kita dipaksa,“ bebernya.

Wawan mengatakan, pengalaman tersebut tak hanya dialaminya, namun sejumlah pasien lainnya pun mengalami hal yang sama. “Iya bukan hanya saya saja, tapi banyak pasien lainnya juga yang diminta beli obat ke luar. Apalagi di IGD, hampir semuanya pada beli obat ke apotek, padahal saat ngobrol-ngobrol, mereka juga pasien BPJS,“ katanya.

Keheranan Anew tak berhenti disitu saja, namun ia juga sangat heran karena obat yang dibelinya dari luar tersebut, tidak terlihat dipakai oleh dokter atau perawat yang memeriksa pasien.

“Kalau saya lihat-lihat, obat dari luar itu entah dipakai atau engga, karena perawat tetap pakai obat yang ada di depo RSUD. Jadi buat apa kita beli? Banyak pasien lain yang mengeluh, mudah-mudahan persoalan ini bisa segera diatasi,“ harapnya.

Persoalan lain, sambung Wawan, terdapat pasien BPJS Kesehatan kelas 1 yang fakta di lapangannya malah diberikan fasilitas kelas 2. Sementara mengenai ketidakadilan dalam antrean, Wawan mengatakan, tak jarang saat puluhan pasien BPJS mengantre obat, selalu ada petugas berseragam RSUD yang langsung masuk mengambil obat tanpa ikut antre.

“Saat antre obat, beberapa kali ada pasien yang dibantu petugas RSUD yang saat ngambil obat tak antre dulu, seperti ada jalur khusus, mereka langsung nyelonong masuk dan ambil obat,“ ucapnya.

Menanggapi persoalan masih adanya pasien BPJS Kesehatan yang masih harus membeli obat dari luar menggunakan uang pribadi, Sekjen Perhimpunan Pergerakan Masyarakat Cianjur (PPMC), Ari Muhammad menegaskan, pasien tidak boleh lagi mengeluarkan uang sepeserpun jika telah menjadi pengguna jaminan kesehatan nasional yang dikelola oleh BPJS.

“Pasien BPJS itu tidak boleh lagi mengeluarkan biaya di rumah sakit, apapun alasannya. Jika obat habis, maka pihak rumah sakit atau apotek yang mengusahakannya, karena obat sudah tergabung dalam paket pembayaran," tegasnya.

Ari meminta masyarakat aktif untuk melaporkan jika ada rumah sakit dan dokter nakal yang meminta uang lagi dan menyuruh menebus obat di luar.

Sebelumnya, Ari memaparkan, berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No 28 Tahun 2014, tak ada istilah obat tak ditanggung oleh BPJS Kesehatan. Menurutnya, pasien BPJS berhak mendapatkan obat yang tercantum dalam formularium nasional (fornas) dengan model pembiayaan paket inasibijis (diagnosa penyakit pasien menurut dokter).

“Jika ada obat di luar fornas, tetap dapat diberikan dan menjadi tanggung jawab rumah sakit,“ jelasnya.

Ari menegaskan, masih banyak pasien BPJS Kesehatan atau masyarakat umum yang belum mengetahui detail terkait pelayanan kesehatan. Seharusnya, tegas Ari, RSUD gencar melakukan sosialisasi sesuai aturan yang ada.

“RSUD harus sosialisasi dong, minimal ada pengumuman atau keterbukaan. Pasien BPJS itu bukan gratis, karena sudah dibayarkan Negara. Analoginya sama seperti pegawai RSUD yang dibayar pemerintah, ya pasien BPJS juga sama,“ tegasnya.

Ia menyoroti soal peranan Direktur Utama RSUD Cianjur, Ratu Tulia, yang seharusnya cepat tanggap ketika muncul berbagai persoalan. Selain harus gencar bersosialisasi, seorang dirut juga tak boleh kecolongan oleh oknum pegawainya. 

“Jika dirutnya tidak cepat tanggap, jangan salahkan masyarakat jika muncul dugaan atau pemikiran negatif terhadap kepemimpinan dirutnya. Jika persoalannya ini sudah terindikasi pungli atau adanya permainan yang menyangkut menyalahi aturan, aparat hukum juga harus ikut bertindak. Namun persoalan banyak keluhan ini, pihak RSUD dan BPJS seharusnya segera memberikan penjelasan,“ ucapnya.

Saat hendak dikonfirmasi mengenai persoalan pasien BPJS, baik pihak RSUD Cianjur dan BPJS masih sulit dihubungi.

Diberitakan sebelumnya, permasalahan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sayang Cianjur tak kunjung selesai. Bahkan, ketika masalah yang satu belum terpecahkan, kini muncul lagi masalah lainnya. Kok bisa?

Ya, setelah adanya dugaan praktik pungutan liar (pungli) pada rekrutmen calon pegawai di lingkungan RSUD Cianjur, kini muncul masalah lainnya, yakni banyaknya keluhan dari pasien BPJS Kesehatan yang selalu harus beli obat dari luar atau di apotek yang berada dekat dengan RSUD.

Tak hanya di Cianjur, persoalan pasien BPJS Kesehatan yang diminta beli obat dari luar rumah sakit ini, sebenarnya sudah lama berlangsung dan terjadi juga di sejumlah daerah. Bahkan persoalan ini juga pernah disoroti langsung oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nila Djuwita F Moeloek.

Jika ada dokter yang menganjurkan pasiennya membeli obat lain di apotek tertentu, kata Nila, maka dokter tersebut diduga bisa terlibat dalam praktik gratifikasi. Menurutnya, pembelian obat dari luar rumah sakit tidak dibenarkan. Pasalnya, semua biaya pengobatan para pasien BPJS ditanggung pemerintah.

Dikarenakan anjuran-anjuran demikian sudah sering dipraktikkan oleh para dokter, Nila mengingatkan para pasien untuk langsung memprotes atau membuat laporan jika mengalami kasus-kasus seperti itu.

"Kalau dokter menganjurkan pasien BPJS untuk membeli obat di apotek tertentu maka ada kemungkinan dia bekerja sama dengan apotek atau perusahaan obat itu. Yah, tentu sang dokter menerima komisi dari sana. Nah, itulah yang disebut ada kemungkinan terjadi gratifikasi," tegasnya.(*)

Komentar Berita

Berita Lainnya

Cianjur Euy 12 jam yang lalu

Sampah Berserakan di Area Asamul Husna

PEDAGANG yang biasa mangkal di sekitar area Taman Asmaul Husna, Kampung Panaruban, Desa/Kecamatan Haurwangi belum sepenuhnya sadar akan pentingnya kebersihan lingkungan.

Cianjur Euy 12 jam yang lalu

Akhirnya Keluarga Otim Punya Rumah Baru

RAUT wajah Otim (47) tampak berseri seri dipenuhi kebahagian. Bagaimana tidak bahagia, Minggu (21/1) dirinya bisa bertemu langsung dengan Dedi Mulyadi, Calon Wakil Gubernur Jabar.

Cianjur Euy 13 jam yang lalu

Kepengurusan Kampung KUBA Dibentuk

PROGRAM Kampung Utama Berakhlakul Karimah (KUBA) mulai dibumikan di seluruh wilayah Kabupaten Cianjur. Mensukseskan program yang digagas Bupati Cianjur itu, kepengurusan Kampung KUBA mulai dibentuk di…

Bisnis Line 13 jam yang lalu

Gurihnya Sensasi Soto Bogor Siliwangi Bikin Nagih

SIAPA yang tak suka dengan gurihnya sajian kuah soto hangat? Selain memiliki cita rasa rempah yang kuat, irisan daging yang dipotong dadu, taburan bawang goreng, kacang kedelai, dan tomat segar terasa…

Cianjur Euy 13 jam yang lalu

Kecewa Kebijakan Pemkab, Warga Segel Eks SD Bujensa

SEBUAH spanduk penolakan terbentang di pagar tembok eks SDN Ibu Jenab 1 (Bujensa, red). Spanduk penolakan itu ditempel oleh warga yang menilai Pemkab Cianjur tidak menjalankan komitmen yang dibuat terkait…

Cianjur Euy 13 jam yang lalu

Stok Surplus, Pemkab Cianjur Tolak Impor Beras

CAPAIAN produksi padi di Kabupaten Cianjur tahun 2017 mencapai 105 persen. Capaian itu lebih tinggi dari tahun sebelumnya, yang hanya mencapai 100,88 persen.

Cianjur Euy 13 jam yang lalu

Mayat Pria Tanpa Identias Ditemukan Mengambang

MAYAT pria tanpa identitas ditemukan mengambang di genangan air Blok Sungai Citarum, Kampung Cinangsi RT 02/10, Desa Kertamukti, Kecamatan Haurwangi, Minggu (21/1/2018) sekitar pukul 13.00 WIB.

Cianjur Euy 18/01/2018 22:54 WIB

Aksi Maling Zaman Now

AKHIR-akhir ini kawanan maling spesial kantor desa tengah giat melancarkan aksinya ke sejumlah desa di wilayah Timur Kabupaten Cianjur.

Cianjur Euy 18/01/2018 22:53 WIB

Pencetakan e KTP Dipusatkan di Kecamatan Ciranjang

PEMERINTAH Kabupaten Cianjur menunjuk Kecamatan Ciranjang sebagai tempat pusat layanan pembuatan e-KTP dan Kartu Keluarga (KK) bagi masyarakat yang ada di 5 Kecamatan. Antaralain, Kecamatan Ciranjang,…

Bisnis Line 18/01/2018 22:51 WIB

Cugenang Jadi Pencanangan Gerakan Pemasangan Patok Tanah PTSL

MINGGU ketiga di bulan Januari 2018 Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kantor Pertanahan Kabupaten Cianjur mulai menggarap program nasional sertifikasi tanah dalam program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap…