Rabu, 18 Oktober 2017 - Pukul 10:50

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

sosialita

Tampak Seksi Dengan High Heels, Namun Awas Kepleset!

Oleh: Raka Pramudya - Senin 07 September 2015 | 17:00 WIB

Tampak Seksi Dengan High Heels, Namun Awas Kepleset!

hak tinggi/net

Wajib rasanya bagi seorang wanita untuk memiliki sepasang sepatu tumit tinggi atau high heels. Selain mempercantik penampilan, mengenakan sepatu tumit tinggi juga membuat seorang wanita merasa lebih percaya diri. Akan tetapi, tidak sedikit pula risiko yang ditimbulkan dari mengenakan sepatu ini.

 

Jika sepatu yang dikenakan terlalu tinggi, Anda bisa merasa tidak nyaman hingga terjatuh. Selain itu, sebuah studi terbaru yang dilakukan di Stanford University, Amerika Serikat menyatakan, mengenakan sepatu tumit tinggi dapat mempercepat penuaan hingga 20 tahun.

 

Untuk meneliti, para ahli mengukur bagaimana seorang wanita dengan fisik yang sehat berjalan sambil mengenakan sepatu dengan tinggi hak yang berbeda-beda. Responden wanita diminta mengenakan sepatu kasual sneakers yang rata, sepatu bertumit tinggi 1,5 inci, dan 3,25 inci atau sekitar 4 cm dan 8 cm.

 

Selain itu, para responden wanita juga diminta berjalan dengan dan tanpa mengenakan rompi seberat 20 persen dari berat tubuh mereka. Kemudian, para peneliti mengamati gerak tumit para responden ketika mereka berjalan dan berdiri.

 

Hasil dari studi yang dipublikasikan pada Journal of Orthopaedic Research ini dapat dikatakan cukup mengejutkan, khususnya bagi para wanita pecinta sepatu tumit super tinggi atau stiletto heels. Sebab, ketika Anda berjalan dengan mengenakan sepatu tumit tinggi, tumit bisa dengan mudahnya  bergeser hingga berubah bentuk. Apalagi saat kaki Anda menyentuh lantai atau tanah.

 

Kondisi ini juga membuat lutut Anda tegang dan kaku, sehingga cara berjalan Anda menjadi seperti manula atau wanita yang menderita arthritis. Akan lebih buruk apabila Anda cenderung memiliki kelebihan berat badan, sebab tubuh Anda lebih menekan persendian. Lutut yang tegang dan kaku akan menciptakan beragam masalah saat Anda berjalan.

 

"Pemakaian sepatu tumit tinggi khususnya bila dikombinasikan dengan berat badan yang berlebih dapat menyebabkan peningkatan risiko dalam tubuh seorang wanita," tulis para peneliti.

 

Oleh karena itu, tidak ada masalah mengenakan sepatu tumit tinggi untuk menghadiri acara-acara tertentu, khususnya acara yang bersifat formal sesekali sajaAkan lebih baik jika tidak terlalu sering mengenakan sepatu jenis ini. Anda pun bisa menyiasatinya dengan frekuensi yang bergantian untuk mengenakan sepatu lebih rata.

 

Berikut adalah empat keuntungan yang bisa Anda nikmati saat tak selalu mengenakan sepatu tumit tinggi.

 

Kaki Anda bertambah Panjang

Pada sebuah jurnal yang terbit pada tahun 2012, para peneliti menemukan bahwa pengguna sepatu tumit tinggi memiliki otot betis yang cenderung jadi lebih pendek. Hal tersebut disebabkan karena saat berjalan menggunakan sepatu tumit tinggi, tekanan besar berada pada ibu jari kaki, mata kaki, dan kondisi kaki keseluruhan selalu tegang. Sedangkan berjalan dengan sepatu datar membuat otot kaki kembali ke keadaan normal dan terhindar dari risiko jadi lebiih pendek.

 

Punggung bebas sakit

Sepatu tumit tinggi memang membuat bokong terlihat lebih indah. Namun ada pengorbanan di balik hal tersebut. Ternyata efek pada bokong ini terjadi akibat adanya tekanan di bagian tulang ekor serta otot punggung yang menyebabkan nyeri. Tubuh pengguna sepatu tumit tinggi tak akan stabil.

 

Menurut ahli, banyak wanita pengguna sepatu tumit tinggi mengalami sakit punggung yang luar biasa. Mengganti sepatu tumit tinggi dengan yang sepatu datar dapat membuat tubuh kembali pada postur alaminya.

 

Lutut terasa lebih nyaman

Ketika mengenakan sepatu tumit tinggi, artinya tekanan tubuh berada pada otot tendon dan ligamen yang berpusat pada lutut. Jika terlalu lama mengenakan sepatu tumit tinggi, maka tak jarang lutut akan terasa sangat sakit hingga dapat membuat seseorang tak lagi mampu berlari.

 

Keseimbangan tubuh lebih baik

Lewat studi kasus pada para flight attendant di Korea Selatan, penggunaan sepatu tumit tinggi selama bertahun-tahun dapat mengubah keseimbangan seseorang menjadi sangat buruk. Ketika mengenakan sepatu dengan ukuran hak yang lebih rendah, tentunya dapat mengembalikan kondisi kaki layaknya sebelum "terkontaminasi" sepatu tumit tinggi meskipun perlahan. Dengan begitu stabilitas dan keseimbangan tubuh juga akan menjadi lebih baik.

 

Sejarah Sepatu Hak Tinggi

Sebagian besar masyarakat kelas bawah di Mesir kuno berjalan tanpa alas kaki. Namun lukisan pada dinding yang diperkirakan berasal dari tahun 3500 SM menggambarkan versi awal dari sepatu yang dikenakan oleh sebagian besar masyarakat kelas atas Mesir kuno.

 

Ada juga beberapa penggambaran yang memperlihatkan masyarakat kelas atas baik pria maupun wanita mengenakan sepatu berhak ketika melakukan satu upacara. Selain itu, para tukang jagal Mesir kuno juga memakai sepatu hak tinggi untuk memudahkan mereka berjalan di atas genangan darah binatang mati.

 

Di Yunani kuno, terdapat sandal dengan tudung yang disebut "kothorni", atau yang dikenal sebagai "buskin" pada zaman Renaissance. Kothorni adalah sepatu dengan sol tinggi yang terbuat dari kayu atau gabus yang populer terutama di kalangan aktor pertunjukan yang akan mengenakan sepatu yang lebih tinggi untuk menunjukkan status sosial mereka. Di Romawi kuno, pelacuran adalah hal dilegalkan, dan para pelacur wanita dapat dengan mudah dikenali dengan sepatu hak tinggi yang mereka kenakan sebagai ciri khas.

 

Kothorni

Selama Abad Pertengahan, baik laki-laki maupun perempuan memakai "patten", sejenis sepatu dengan sol tinggi terbuat dari kayu. Sepatu-sepatu tersebut merupakan cikal bakal dari sepatu hak tinggi. Sol tinggi dari kayu ini berfungsi untuk menjaga agar sepatu terhindar dari lumpur dan puing-puing lain di jalanan ketika berjalan di luar ruangan.

 

Patten

Sepatu dengan tumit yang tinggi juga digunakan oleh para pengendara kuda di Timur Tengah yang menggunakan sepatu hak tinggi untuk memudahkan kaki pengendara agar tetap berada di sanggurdi. Hal ini seperti yang digambarkan pada sebuah mangkuk keramik yang berasal dari abad ke-9 dari Persia.

 

Pada abad ke-15, sejenis sepatu berhak yang dinamakan "chopines", diciptakan di Turki dan populer di seluruh Eropa sampai pertengahan abad ke-17. Chopines hanya digunakan secara eksklusif oleh perempuan. Tinggi chopines ini dapat berkisar dari 7 sampai 30 inchi, sehingga dibutuhkan tongkat atau pelayan untuk membantu mereka yang mengenakannya ketika berjalan.

 

Chopines biasanya dirancang dengan gabus atau kayu yang ditumpuk pada bagian tumitnya. Orang-orang Venesia kemudian membuat chopines menjadi simbol status sosial dan kekayaan bagi para wanita. Selain itu sepatu hak tinggi ini juga digunakan agar para wanita menjadi sulit untuk bergerak sehingga dapat mencegah wanita untuk berselingkuh atau kabur dari rumah suaminya.

 

Chopines

Pada tahun 1533, laki-laki sudah mulai mengenakan sepatu hak lagi. Istri Raja Prancis Henry II, Ratu Catherine de' Medici yang berasal dari Italia, menugaskan seorang tukang sepatu untuk menciptakan sepatu bergaya dengan hak yang lebih tinggi dan merupakan adaptasi perpaduan dari chopines dan patten (dimana sol kayu ditinggikan baik pada bagian tumit dan jari kaki) yang dimaksudkan untuk melindungi kaki pemakainya dari debu kotoran dan lumpur.

 

Tetapi tidak seperti chopines, sepatu rancangannya ini memiliki bagian tumit yang lebih tinggi dari jari kaki. Sepatu dengan model ini kemudian dipakai secara luas di Italia, yang kemudian diwajibkan dan melarang pemakaian chopine.

 

Sepatu hak tinggi ini kemudian dengan cepat mendapat perhatian dari para pemerhati mode dari Perancis dan kemudian menyebar ke negara-negara lainnya. Baik pria maupun wanita terus mengenakan sepatu hak tinggi mengikuti mode keluarga kerajaan sepanjang abad ke-17 dan ke-18.

 

Ketika Revolusi Perancis terjadi di akhir abad 18, pemakaian sepatu hak tinggi menjadi amat dibenci karena asosiasi para pemakainya dengan kekayaan dan bangsawan. Sepanjang sebagian besar abad ke-19, sepatu dan sandal dengan hak datar biasa digunakan oleh pria maupun wanita. Pada akhir abad 19, sepatu hak tinggi mulai muncul kembali dalam mode dan menjadi sangat populer digunakan terutama di kalangan wanita sampai saat ini. (bbs)

Komentar