Kamis, 24 Agustus 2017 - Pukul 13:44

Image
Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

MCK di Sungai, Wabah Penyakit Kulit Ancam Warga Cianjur

Oleh: Misbah Hidayat - Selasa 08 September 2015 | 14:02 WIB

MCK di Sungai, Wabah Penyakit Kulit Ancam Warga Cianjur

Warga Sukaluyu Cianjur, MCK di sungai...

BERITACIANJUR.COM, CIANJUR – Wabah penyakit kulit mengancam ribuan warga Cianjur. Ini terjadi menyusul masih banyaknya warga yang menggunakan air sungai sebagai satu-satunya sumber pemenuhan kebutuhan hidup, khususnya untuk kegiatan Mandi, Cuci, Kakus (MCK).

 

Disaat yang bersamaan warga bersangkutan tak pernah memperhatikan jaminan kebersihan dan kesehatan air sungai yang dikonsumsinya. Padahal, selain secara kasat mata terlihat kotor, kondisi air sungai juga sudah banyak tercemar tumpukan sampah rumah tangga maupun jenis limbah lainnya.

 

Staf Seksi Kesehatan Lingkungan (Kesling) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten  Cianjur Sukmawulan mengatakan, dampak dari adanya pencemaran aliran sungai memang bisa mengakibatkan munculnya bibit penyakit yang setiap waktu bisa menjangkiti warga Cianjur.

 

“Biasanya, penyakit yang ditimbulkan akibat air sungai kotor itu seperti penyakit kulit,” ucapnya kepada “BC”, Senin (7/9).

 

Dijelaskan, ada tiga ciri yang bisa menjadi tolak ukur dalam memastikan air sungai yang sudah tercemar. Diantaranya air bisa dibedakan secara fisik, bakterilogi, dan kimia, sehingga kondisi air yang tercemar mudah dibedakan.

 

“Seperti halnya melihat perbedaan air dengan panca indra mungkin secara warna dan keruhnya itu mudah dibedakan,” paparnya. 

 

Menurutnya, air  sungai yang dikatagorikan sebagai air permukaan jauh lebih mudah tercemar. Karenanya, air sungai sangat berpotensi menjadi media penyebar penyakit. Potensi dimaksud menjadi jauh lebih besar lagi akibat adanya  prilaku masyarakat yang tidak sadar terhadap pentingnya kebersihan lingkungan.

 

“Makanya kita selalu menggalakan gerakan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada masyarakat agar tidak membuang sampah ke mana saja, termasuk ke aliran sungai,” katanya.

 

Salah seorang warga Desa Cikondang Kecamatan Cibeber, Abdul Halim menuturkan, sejauh ini memang masih banyak masyarakat di kampungnya yang memanfaatkan air sungai untuk memenuhi kebutuhan mencuci pakaian dan piring.

 

“Iya kalau dilihat dari kondisi air kemungkinan bisa saja air yang berada di sungai ini tercemar. Namun sejauh ini masyarakat tidak memperhatikan kondisi tersebut, karena mereka sangat membutuhkan air terlebih di musim kemarau seperti ini,” ujarnya. (gap)

Komentar