Selasa, 17 Oktober 2017 - Pukul 08:57

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

aktualita

Pilkada Cianjur Rawan Konflik, Kapolda Deteksi Dini

Oleh: Putra Lugina Sukma - Selasa 08 September 2015 | 07:36 WIB

Pilkada Cianjur Rawan Konflik, Kapolda Deteksi Dini

kapolda jabar/net

BERITACIANJUR.COM, CIANJUR – Jelang Pilkada Serentak 2015 yang akan dihelat 9 Desember nanti, diluar dugaan Cianjur mendapat predikat sebagai kabupaten paling rawan konflik kedua di Jawa Barat (Jabar). Isyarat mengenai tingginya tingkat kerawanan konflik ini antara lain disampaikan Bawaslu dan KPU RI.  

 

Alhasil, kerja ekstra keras untuk mengantisipasi kemungkinan pecahnya konflik jelang Pilkada Serentak 2015 dilakukan aparat kepolisian. Bahkan, sebagai langkah awal untuk mengantisipasi kemungkinan timbulnya konflik, Kapolda Jabar Irjen Pol Drs Moechgiyarto SH,M.Hum sengaja turun langsung ke Cianjur, Senin (7/9).

 

Dalam kunjungannya ke Polres Cianjur, Moechgiyarto antara lain meminta agar seluruh jajaran kepolisan Cianjur lebih teliti dalam mengawasi jalanya tahapan pelaksanaan pilkada serentak. Hal itu dinilai menjadi lebih penting mengingat adanya isyarat yang disampaikan  petinggi KPU maupun Bawaslu yang menilai Cianjur sebagai daerah rawan konflik kedua di Jabar.

 

Informasi yang didapat menyebutkan, saat berlangsung diskusi tertutup dengan sejumlah petinggi Polres Cianjur, Moechgiyarto antara lain banyak menyoroti problematika yang terjadi hampir dalam kurun setahun terakhir. Tak terkecuali, rawannya pelaksanaan pilkada 2015.

 

Bahkan, ia meminta kepada jajaran Polres Cianjur untuk lebih banyak mengerahkan petugas ke lapangan agar konflik politik yang sekrang ini dikhawatirkan banyak pihak bisa diminimalisir dengan baik.

 

Dalam wawancara dengan sejumlah awak media, ia mengatakan, sementara ini pihaknya tidak bisa berpendapat lebih serius terkait predikat Cianjur sebagai daerah rawan konflik kedua di Jabar.

 

“Yang mengatakan rawan konflik itu kan bukan kita, tapi KPU. Jadi tanyakan saja ke KPU kalau soal anggapan itu. Soalnya menurut saya, semua wilayah juga sangat berpotensi menjadi daerah rawan konflik, jadi bukan hanya Cianjur saja,” ungkap Moechgiyarto sambil menuju mobil saat mau pulang.

 

Dikatakan, sebagai aparat penegak hukum, peran kepolisian tentu sangat vital. Bahkan, ketika terjadi konflik yang tidak terselesaikan, pihak kepolisianlah yang akan menjadi sasaran kesalahannya. Meski begitu, pihaknya optimis mampu menjaga situasi aman jelang pemilihan 9 Desember mendatang.

 

“Kita ini sebagai objek vital dalam masalah keamanan negara. Makanya kita sangat tegaskan kepada jajaran yang berada di kabupaten/kota untuk mengawasi dan mengawal jalannya pilkada  dengan baik,” paparnya.

 

Diakuinya, jumlah personil yang ada untuk mengamankan jalannya pelaksanaan pilbup dinilai masih jauh dari ideal. Namun, itu tentu bukan alasan bagi pihak kepolisian untuk menuntaskan pekerjaan sesuai dengan tupoksinya (tugas pokok dan fungsinya).

 

“Kami telah berkomitmen dengan baik untuk menjaga keamanan, khsusunya di Cianjur yang katanya disebutkan sebagai rawan konflik. Tentunya pengamanan ini pun akan dibantu juga dengan aparatur lain,” tuturnya.

 

Masih terkait soal kerawanan konflik pilkada, tanggapan serius juga disampaikan Kapolres Cianjur, AKBP Asep Guntur Rahayu saat ditemui di ruang kerjanya.  “Potensi konfliknya cukup besar. Lebih besar dari sebelum-sebelumnya, seperti pileg dan pilpres 2014 apalagi pilkada sebelumnya,” ujar Asep.

 

Untuk itu, Asep mengaku telah mempersiapkan berbagai skenario menghadapi kemungkinan konflik paling buruk sekalipun. Meski begitu,  dia tetap berharap, potensi konflik yang sudah dianalisanya itu, tidak akan terjadi.

 

“Kalau diadakan survai, masyarakat pasti menginginkan tidak terjadi kerusuhan. Namun, berdasarkan pengamatan kami, potensi itu memang selalu ada dan mungkin saja terjadi, karena momennya adalah pilkada,” ujarnya.

 

Menurut Asep, potensi konflik muncul dikarenakan adanya ketokohan yang cukup kuat dari masing-masing pasangan calon. Sehingga ada kedekatan dan keterikatan secara emosional antara para pasangan calon dengan konstituen atau pendukungnya.

 

Karena itu, lanjutnya, kemudian  muncul fanatisme masing-masing pendukungnya. Ujungnya, ketika ada hal yang tidak diinginkan menimpa pasangan calon yang didukungnya, secara otomatis memantik reaksi dari para pendukung setianya masing-masing.

 

“Tidak seperti ketika di pilpres, tidak ada kedekatan dan ikatan emosional secara pribadi dengan calon presiden yang didukungnya,” katanya.

 

Asep memprediksi, potensi konflik sebenarnya mulai muncul ketika penetapan pasangan calon 24 Agustus lalu, dimana KPU akan menentukan dan menetapkan pasangan calon yang akan bertarung dalam pilkada nanti.

 

Misalnya, kata Asep, mengenai pasangan calon dari perseorangan, jika keputusan KPUD Cianjur tidak sesuai dengan apa yang menjadi keinginan dpendukung pasangan tersebut, maka dinilainya sudah menjadi potensi konflik. Karena, pendukung pasangan tersebut akan kecewa, lantaran perjuanganya untuk menggolkan dukunganya menjadi sia-sia.

 

“Itu potensi konfliknya sudah ada. Lain dengan pasangan yang diusung oleh parpol, karena aturannya adalah jumlah kursi di legislatif,” kata dia.

 

Untuk menghadapi berbagai macam konflik pada pesta demokrasi ini, menurut Asep, kepolisian dari  Mabes, Polda hingga Polres, sudah mempersiapkan langkah-langkah antisipasinya.

 

“Polres Cianjur pun sudah diperintahkan secara khusus untuk membuat perkiraan intelijen yang secara khusus memuat data dan segala hal yang berkenaan dengan gelaran pilkada dengan segala kemungkinannya. Kami sudah melakukan operasi khusus, yakni Operasi Cipta Kondusif yang dititikberatkan kepada tujuan untuk menciptakan kondusifitas dan keamanan di Cianjur,’ ujarnya.

 

Dikatakan Asep, pihaknya sudah membentuk lima tim khusus, mengahadapi pilkada ini. Dijelaskan, Tim 1 dipimpin langsung Kapolres, Tim 2 Wakapolres, Tim 3 Kabag OPS, Tim 4 Kabag Rend an Tim 5 dipimpin  Kabag Sumda.

 

“Kami keliling dan terjun langsung ke masyarakat untuk mendapatkan dan menggali segala informasi yang meresahkan masyarakat, khususnya berkenaan dengan pilkada,” ujarnya. (nuk)

Komentar