Rabu, 26 Juli 2017 - Pukul 11:45

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

traveling

Ada 'Niagara' di Cianjur, Ayo Jelajah dan Buktikan!

Oleh: Zulfah Robbania - Selasa 08 September 2015 | 17:00 WIB

Ada 'Niagara' di Cianjur, Ayo Jelajah dan Buktikan!

curug cikondang/net

Ada Niagara di Cianjur? Ya, begitulah orang menyebutkan, curug atau air terjun ini dikenal luas dengan sebutan Niagara mini. Mungkin pemberian nama ini diberikan karena ukurannya yang besar.

 

Terkait nama Curug Cikondang, ternyata tidak berkaitan dengan artian “terkenal” atau sejenisnya. Penamaan Cikondang, bahkan oleh warga pun tidak diketahui asal mulanya.

Untuk sampai ke Curug Cikondang yang berada di Desa Sukadana, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, bisa ditempuh dengan dua jalur. Yakni jalur pertama dari Warungkondang atau dari Situs Gunung Padang, sedangkan yang kedua dari arah Cibeber. Untuk jarak tempuh, sekitar dua jam dari kota.

 

Akses untuk smapai ke Curug Cikondang memang tidak terlalu baik. Meski begitu, pemandangan menuju Curug Cikondang mampu menepis rasa ketidaknyamanan akibat jalan yang rusak. Hamparan “karpet hijau” alami dari perkebunan teh dan sawah menjadi suguhan yang menyejukkan mata.

 

Pemandangan tersebut hampir bisa dilihat sepanjang jalan menuju curug. Bahkan, Curug Cikondang berada diantara hamparan kebun teh PTP VIII dan terasering sawah. Namun, bagi anda yang ingin langsung pergi ke Curug Cikondang dengan kondisi musim panas seperti ini, sebaiknya hati-hati.

 

Dihimbau bagi anda yang menggunakan mobil, untuk tidak membuka kaca jendela, begitu pun dengan yang menggunakan motor dihimbau tetap menggunakan masker. Hal ini disebabkan debu yang berseliweran dari tanah merah kering akibat tertiup angin.

 

Setiba di kawasan Curug Cikondang, terdapat lahan parkir luas. Namun, disebutkan warga, areal parkir tersebut khusus bagi pengendara mobil dengan tarif Rp 5.000. Sedangkan pengendara motor, area parkirnya berada di depan, persis jalan masuk menuju area curug.

 

Dari area parkir, pengunjung harus berjalan kaki kurang lebih satu kilometer untuk sampai ke area curug. Medan menuju curug tidak terlalu sulit. Jalan lurus, berbelok dan menurun akan sering ditemui.

 

Selain pemandangan kebun teh dan sawah, aktivitas pencucian para penambang emas oleh warga lokal juga bisa jadi “tontotan” menarik lainnya. Maklum, Kecamatan Campaka, selain memiliki potensi bidang pertanian dan perkebunan juga memiliki potensi pertambangan, salah satunya emas.

 

Deburan air terjun makin terdengar jelas, ini tandanya kami makin dekat dengan lokasi curug. Medan yang ditemui pun sering berupa turunan. Untuk memudahkan para pengunjung, pengelola membuat jalan setapak berupa batu. Mungkin pembuatan ini dimaksudkan sebagai antisipasi jika kondisi musim hujan, yang dipastikan jalanan menuju curug akan sangat licin karena tanah merah.

 

Pemandangan indah pun langsung terhampar. Air terjun setinggi 50 meter menyambut setiap pengunjung yang datang. Namun, lagi-lagi karena musim kemarau, debit air Curug Cikondang sangat berkurang. Sehingga sebutan Niagara Mini sedikit kurang tergambarkan. Tapi itu tidak mengurangi pemandangan yang disuguhkan.

 

Pemandangan indah ini, tentunya akan mengundang banyak wisatawan jika dikelola dengan baik. Sayangnya, sampai saat ini, pengelolaan masih belum maksimal. Hal ini terlihat dari tidak adanya sarana seperti toilet, tempat pemandian umum atau mushola.

 

Bahkan, karena kurang pengelolaan, sekedar untuk tempat sampah pun tidak ada. Padahal, curug ini sudah dikenal luas dan menjadi tujuan wisata selanjutnya dari Kecamatan Campaka setelah Situs Gunung Padang. (bbs)

Komentar