Sabtu, 21 Oktober 2017 - Pukul 07:58

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

aktualita

Ini Dia Sejumlah 'Plesiran' Wakil Rakyat Yang Bikin Heboh

Oleh: fl/bc.com/bbs - Selasa 08 September 2015 | 15:08 WIB

Ini Dia Sejumlah 'Plesiran' Wakil Rakyat Yang Bikin Heboh

Fadli Zon selfie dengan Donald Trumph saat berkunjung ke AS...

BERITACIANJUR.COM, JAKARTA.-- Kunjungan kerja anggota Dewan Perwakilan Rakyat ke luar negeri kembali menuai cibiran publik. Kali ini bahkan sungguh-sungguh menjadi blunder karena lawatan ‘kontroversial’ itu dilakukan oleh Ketua DPR Setya Novanto dan salah satu wakilnya, Fadli Zon.
 

Kecaman pun langsung datang dari berbagai pihak. Namun sesungguhnya ini bukan kali pertama publik menggunjingkan kunjungan kerja DPR ke luar negeri. Banyak kritik terlontar, menyebut berbagai lawatan itu alih-alih untuk kepentingan kerja parlemen, justru menjadi semacam ajang pelesiran –yang celakanya ekuivalen dengan terhamburnya anggaran negara.

 

Berikut sejumlah catatan kegiatan kunjungan kerja ke luar negeri para wakil rakyat yang menuai reaksi keras dari publik, seperti dihimpun oleh CNN Indonesia:
 

 

Maroko, September 2010

 

Kunjungan kerja ke Maroko pada akhir September 2010 menjadi sorotan luas setelah pengakuan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang mencengangkan. Saat itu Ahok masih menjabat anggota DPR dari Fraksi Golkar.
 

Ia menjadi bagian dari delegasi Grup Kerja Sama Bilateral DPR RI dan Parlemen Maroko. Bersama rombongannya, Ahok pun terbang ke Maroko di Afrika Utara.

 

Namun sesampainya di negeri orang, Ahok geram lantaran sejumlah rekan serombongannya memanfaatkan duit dinas untuk pelesiran ke negeri matador, Spanyol.

 

"Nyolong waktu, nyolong duit, lari ke Spanyol bawa uang dobel. Namanya kerjasama antarparlemen dengan Maroko, kok jalannya ke Spanyol?" ujar Ahok, kesal.

 

Yunani, Oktober 2010
 

Sekitar sebulah berselang setelah insiden lawatan ke Maroko itu, tepatnya Oktober 2010, 11 anggota Badan Kehormatan DPR berserta beberapa staf mereka melakukan kunjungan kerja ke Yunani di tenggara Eropa.
 

Mereka menyebut kunjungan itu dilakukan dalam rangka menyempurnakan tata tertib dan kode etik DPR, dan Yunani dipilih dengan alasan merupakan negara demokrasi tertua di dunia, yang etika anggota parlemennya di sana patut ditiru.
 

Entah alasan itu masuk akal atau tidak, yang jelas kunjungan itu menuai badai kritik karena dianggap tak terlalu penting untuk dilakukan.
 

Tekanan publik akhirnya membuat Ketua DPR saat itu, Marzuki Alie, angkat bicara. Dia menyatakan kunjungan kerja Dewan ke luar negeri perlu ditata dan disesuaikan kembali demi efisiensi anggaran.
 

Menurut Marzuki, penyempurnaan aturan bukan hanya diperlukan bagi alat kelengkapan dewan, tetapi juga sebagai pedoman bagi pimpinan DPR yang akan memberikan persetujuan atau penolakan terhadap rencana kunjungan tersebut.
 

 

Inggris, Mei 2011
 

 

Di tengah masa reses anggota Dewan, Mei 2011, sebanyak 13 anggota Komisi X Bidang Pendidikan, Olahraga, dan Sejarah; serta anggota Badan Urusan Rumah Tangga DPR, berangkat ke Inggris untuk melakukan kunjungan kerja.
 

Masalah dimulai ketika mereka, untuk memanfaatkan sisa hari terakhir kunjungannya, memilih untuk menyambangi Stadion Old Trafford yang menjadi kandang klub sepak bola dunia Manchester United.


Keputusan untuk bertandang ke markas Setan Merah itu disepakati rombongan setelah mereka ‘mati gaya’ tak punya kegiatan di London.
 

Wakil Ketua BURT DPR saat itu, Indrawati Sukadis, menyatakan rekan-rekannya mengusulkan agar mereka berkunjung ke Old Trafford. Indrawati selaku pimpinan rombongan pun menyetujui ide itu sehingga berangkatlah 13 orang delegasi DPR di Inggris itu ke Old Trafford.
 

Di luar soal Old Trafford itu, para anggota DPR tersebut sesungguhnya pergi ke Inggris untuk studi banding mekanisme rumah tangga parlemen di negeri itu. Mereka yakin hal itu dapat meningkatkan sekaligus menguatkan kinerja DPR dalam melayani rakyat.

 

Australia, April-Mei 2011
 

Kunjungan ke Negeri Kanguru ini dilakukan oleh 16 anggota Komisi VIII Bidang Agama dan Sosial DPR untuk menggodok Rancangan Undang-Undang Fakir Miskin. Mereka mengagendakan dialog dengan pejabat-pejabat Australia mengenai fasilitas jaminan sosial di sana.
 

Namun ketika itu Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia menilai kunjungan kerja tersebut tak memetik banyak manfaat alias sia-sia, dan memboroskan anggaran negara.

 

Menurut PPIA, menyusun RUU Fakir Miskin tak harus sampai bertandang ke Australia. Apalagi, sindir mereka, banyak di antara anggota Dewan itu yang tak fasih Bahasa Inggris. Materi-materi yang dipaparkan pejabat Australia pun sesungguhnya dapat diambil lewat internet.
 

 

Jerman, November 2012
 

Rombongan Badan Legislasi DPR berkunjung ke negeri Der Panzer pada November 2012 untuk mengkaji penyusunan RUU Keinsinyuran.
 

Di Jerman, kegiatan para wakil rakyat mendapat ‘pengawalan’ ketat dari Perhimpunan Pelajar Indonesia di Berlin. Para pelajar mengkritisi kegiatan itu sebagai agenda mubazir dan ‘salah alamat.’


"Pertemuan dengan Deutsches Institut fur Normung bisa dibilang salah alamat karena DIN itu lembaga untuk standardisasi 'produk', bukan standardisasi profesi seperti yang menjadi agenda utama anggota DPR," kata Ketua PPI Berlin Yoga Kartiko kala itu.

 

Perancis dan China, Desember 2012
 

Lawatan ke Perancis dan China pada 10-16 Desember 2012 dilakukan secara terpisah oleh dua rombongan anggota Komisi IV Bidang Pertanian, Pangan, Maritim, dan Kehutanan DPR.
 

Kunjungan dalam rangka menyusun RUU Peternakan dan Kesehatan Hewan itu ditaksir menghabiskan dana lebih dari Rp1,2 miliar, dan memicu perdebatan karena tak semua anggota DPR setuju dengan kunjungan kerja it. (fl/bbs)

Komentar