Sabtu, 21 Oktober 2017 - Pukul 08:08

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

aktualita

Koalisi Merah Putih Tengah Kencang Digembosi

Oleh: Disma M. Taryum - Rabu 09 September 2015 | 07:19 WIB

Koalisi Merah Putih Tengah Kencang Digembosi

kmp/net

BERITACIANJUR.COM, JAKARTA – Bergabungnya Partai Amanat Nasional (PAN) dengan pemerintah dan kencangnya serangan terhadap Ketua DPR Setya Novanto dan Wakil Ketua DPR Fadli Zon yang hadir di acara jumpa pers Donald Trump di New York Amerika Serikat, dianggap sebagai alat untuk menggembosi kekuatan oposisi, Koalisi Merah Putih (KMP).

 

Menurut pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI), Muhammad Budyatna, cara ini sedang intensif digunakan kekuatan penguasa. "Itu cara penguasa mempreteli kekuatan KMP yang mendeklarasikan diri sebagai kekuatan penyeimbang pemerintah," kata Budyatna, Selasa (8/9).

 

Masalahnya ujar Budyatna, Prabowo sebagai 'petinggi' di KPM tidak bereaksi. Ini bisa membuat pendukungnya apatis karena figur yang diharapkan bisa mengkritik pemerintahan malah diam.

 

"Sudah jelas satu-persatu kekuatan KMP dipreteli, Prabowo kok malah jadi lembek. PAN itu lari di samping memang pragmatis ingin mendapatkan kursi menteri, tapi bisa juga lari karena intimidasi dan ketua umumnya diduga juga punya kasus hukum," tegasnya.

 

Demikian juga halnya dengan isu pelanggaran etika yang dilakukan Ketua DPR Setya Novanto dan Wakil Ketua DPR Fadli Zon. Menurut Budyatna, gencarnya kecama dari blunder pimpinan DPR itu adalah sebuah gerakan untuk melemahkan KMP.

 

"Ini sebenarnya salah KMP juga memilih Setya Novanto jadi Ketua DPR, sebab Setya diduga banyak kasus sehingga mudah dimainkan untuk menjatuhkannya. Jadi isu mereka dengan Donald Trump bagian dari upaya mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap KMP," tegasnya.

 

Budyatna juga mengingatkan, diamnya semua gerakan mahasiswa dan rakyat juga merupakan gambaran tidak adanya pemimpin yang berani tampil untuk menggerakan mereka.

 

"Dalam sejarah Indonesia, rakyat tidak mungkin bergerak sendiri, harus ada seorang tokoh yang berani tampil melawan ketidakadilan. Jadi kalau saa ini semua elemen masyarakat diam, yah karena tidak ada tokoh yang mau memimpin. Di sini seharusnya Prabowo tampil," pungkasnya. (net)

Komentar