Rabu, 26 Juli 2017 - Pukul 11:47

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

inspirasi

Ahmed Antara Kejeniusan dan 'Anti' Islam

Oleh: BeritaCianjur.Com - Jumat 18 September 2015 | 16:19 WIB

Ahmed Antara Kejeniusan dan 'Anti' Islam

internet

KISAH luar biasa Ahmed Mohamed, remaja muslim AS 14 tahun pembuat jam digital (dikira bom), yang kini terkenal di seluruh dunia berawal dari dukungan para pengguna media sosial, kemudian diajak ketemu Presiden Obama, diundang magang di ‘Google’, diajak ke markas facebook, dan sejumlah simpati besar lainnya.

 

Walau dibumbui tekanan rasial dan 'anti' muslim di negeri Paman Sam, kisah ketenaran dan kejeniusan Ahmed jadi inspirasi yang hebat bagi semua orang di dunia, khususnya para remaja. Selebihnya 'cerita' Ahmed ini jadi momen untuk mengingatkan warga dunia, bahwa muslim tidak identik dengan terorisme.

 

Kisah ini jadi heboh bermula dari kejadian Ahmed ditangkap pada Senin (14/9) waktu setempat, lantaran membawa jam digital yang ia kembangkan di kamarnya dan dibawa ke sekolah, MacArthur High School di Irving, Texas. Ketika itu petugas sekolah mengira itu adalah bom.
 

Dugaan bom tak terbukti. Akhirnya polisi setempat memutuskan untuk tidak mengajukan tuntutan lanjutan, setelah mengetahui bahwa jam itu bukan bom. Alasannya,hal tersebut baru dugaan belum pembuktian.
 

Setelah diteliti lebih detil, benda tersebut hanya sebuah jam digital yang dirancang Ahmed di kamarnya, sebagai salah proyek rekayasa. Kasus ini langsung jadi perbincangan, karena reaksi guru dan sekolah dinilai terlalu berlebihan.
 

Kepada Dallas Morning News Ahmed pun mengungkapkan, maksud sebenarnya membawa jam digital itu sekadar ingin memberi tahu kepada guru teknik, tentang apa yang ia kembangkan. Benda Itu merupakan sebuah rangkaian dari papan sirkuit, suplai daya, yang dihubungkan pada panel layar penunjuk waktu secara digital.

 

Dukungan dari Media Sosial

Dukungan terhadap bocah muslim ini pun mengalir deras hingga hadir tagar #IStandWithAhmed dan #FreeAhmedMohamed sebagai tanda dukungan membebaskan Ahmed.
 

Pihak sekolah akhirnya meminta maaf kepada Ahmed atas kejadian tersebut. Mereka mengakui kesalahan dan perisitiwa ini dijadikan momen pembelajaran atas kasus rasialisme.

 

Dua hari setelah Ahmed ditangkap, Rabu (16/9), ia muncul dalam sebuah konferensi pers untuk memberi keterangan selama enam menit, terkait dengan penangkapannya. Di akhir temu wicara, ia pun tak lupa  mengucapkan terima kasih kepada para pendukungnya.
 

Secara khusus bocah penggemar robot itu, mengucap terima kasih kepada pendiri sekaligus CEO Facebook Mark Zuckerberg, Presiden AS Barack Obama, dan Hillary Clinton.
 

Ketiga tokoh besar itu telah memberi dukungan kepada Ahmed melalui publikasi di media sosial.
 

"Jam yang keren, Ahmed. Apakah kamu mau membawanya ke Gedung Putih? Kita harus menginspirasi lebih banyak anak-anak seperti kamu yang menyukai ilmu pengetahuan. Itu akan membuat Amerika besar," tulis Obama melalui akun Twitter resmi kepresidenan AS, @POTUS.
 

Sementara Hillary Clinton, mengatakan bahwa asumsi dan ketakutan tidak akan membuat warga tetap aman. Ia memberi dukungan agar Ahmed "tetap memiliki rasa penasaran tinggi dan terus berkarya."
 

Sementara pendiri dan CEO Facebook, Mark Zuckerberg, mengajak Ahmed untuk datang ke kantor Facebook serta meminta agar terus berkarya setelah mengetahui Ahmed sebelumnya pernah melakukan penelitian dan pengembangan secara independen.
 

Bocah berkacamata tebal ini mengatakan sebelumnya telah membangun sepasang speaker Bluetooth dan berencana bakal mematenkan penemuan itu karena memanfaatkan teknologi dengan magnet neodymium.
 

Di akhir jumpa pers, Ahmed mendorong anak muda untuk tetap bekerja melanjutkan penelitian mereka. "Jangan biarkan orang mengubah siapa Anda," katanya. "Bahkan jika Anda diterpa konsekuensi atas hal itu."

 

 

Ahmed Sempat Dituding Teroris

Dalam sebuah wawancara dengan MSNBC yang dikutip CNN, Jumat (18/9), Ahmed mengatakan dia ditarik dari kelasnya di SMA MacArthur, Texas, dan diborgol oleh kepala sekolah dan lima orang polisi untuk diinterogasi.
 

Saat itu Ahmed membawa jam digital buatannya sendiri untuk ditunjukkan pada guru. Namun bukan pujian yang diterimanya, melainkan tudingan terorisme.

 

"Saya merasa seperti seorang pelaku kriminal. Saya merasa seperti teroris. Saya merasa seperti ejekan-ejekan yang dilontarkan pada saya," kata Ahmed.

 

Menyandang nama Ahmed dan berwajah Timur Tengah berkeeturunan Sudan, remaja 14 tahun ini kerap menjadi sasaran Islamofobia sejak lama.

 

Menurutnya saat masih di bangku SMP, dia biasa dipanggil dengan sebutan "pembuat bom" dan "teroris".

 

" Hanya karena ras dan agama saya," kata dia.

 

Pindah Sekolah
 

Ahmed memutuskan untuk pindah dari SMA MacArthur. Namun ayahnya Mohamed Elhassan Mohamed mengatakan belum menentukan sekolah mana yang akan dipilihnya.
 

Mohamed mengatakan putranya tidak pernah terlibat masalah sebelumnya. Dia kesal karena pihak sekolah tidak langsung menghubunginya saat Ahmed diinterogasi.
 

"Nama putra saya Mohamed -- orang-orang mengira Muslim itu teroris padahal kami damai, dan tidak seperti itu," kata Mohamed.
 

Mohamed mengatakan bahwa putranya sangat malu atas peristiwa itu. Tapi saat ini, kata dia, Ahmed sangat bangga karena mendapatkan banyak dukungan.
 

"Saya takut saat itu, tapi sekarang merasa senang karena mendapat dukungan dari seluruh dunia. Dan dukungannya bukan untuk saya saja, tapi untuk semua orang yang pernah melalui hal ini," ujar Ahmed.

 

Isu Rasial di AS sulit padam

 

Diskriminasi dan rasisme, meskipun dilarang dalam UU AS tetapi masih eksis di AS. Sejumlah warga kulit putih masih kerap menaruh prasangka buruk terhadap warga hitam.

 

Dalam hal ini, warga kulit hitam sering dicap sebagai pelaku kejahatan, di antaranya terlibat dalam jaringan peredaran narkoba dan kasus pencurian. Padahal, kejahatan yang sama juga dilakukan kulit putih dan warga lainnya.

 

Tak bisa disangkal prasangka ras telah membutakan pandangan dan pikiran seseorang terhadap fakta. Ditambah lagi ketimpangan secara ekonomi antara kedua ras memperparah hubungan antar ras di AS, khususnya antara warga kulit hitam dan putih.

 

Ini membuat penyelesaian masalah rasisme menjadi tak mudah. AS yang dianggap sebagai pengekspor demokrasi dan gerakan hak-hak sipil pun tak kuasa menghadapi kasus diskriminasi di dalam negeri.(fl/bbs)

Komentar