Rabu, 26 Juli 2017 - Pukul 11:46

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

traveling

Istana Cipanas, Istana Rakyat dengan Sejumlah Momen Historis

Oleh: Asri Fatimah - Sabtu 19 September 2015 | 13:02 WIB

Istana Cipanas, Istana Rakyat dengan Sejumlah Momen Historis

ilustrasi bc.com

ISTANA Kepresidenan Cipanas memang istimewa. Selain tercatat sebagai Istana Kepresidenan  tertua di tanah air, keberadaan Istana Cipanas juga acap kali menjadi saksi sejarah momentum penting, baik dalam ruang lingkup nasional maupun internasional.

 

Istana Kepresidenan Cipanas tergolong istana paling tua dibanding dengan lima Istana Kepresidenan lainnya Istana Negara Jakarta, Istana Merdeka Jakarta, Istana Bogor, Gedung Agung Yogyakarta, dan Istana Tampaksiring Bali).
 

Salah satu peninggalan sejarah kebanggaan warga Cianjur ini terletak persis di kaki Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat (Jabar) dengan ketinggian  1.100 meter diatas permukaan laut.

 

Adapaun akases menuju Istana Cipanas kurang lebih 103 kilometer dari arah Jakarta dan 83 kilometer dari arah Bandung. Jarak yang relatif lebih mudah dijangkau dari pusat kota utama, apalagi jika situasi dan kondisi arus lalu lintas benar-benar lancar tanpa keberadaan titik-titik kemacetan di ruas jalan tertentu yang dilalui.

 

Beberapa sudut Istana Cipanas 

 

Peninggalan catatan sejarah menuliskan, Istana Cipanas dibangun jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, persisnya pada masa kolonial Belanda (1740-1742).

 

Istana yang terletak di ruas jalan perlintasan Jakarta-Bandung ini dibanguan Gubernur Jendral Gustaaf William Baron Van Imhoof, yang idenya berawal dari penemuan sumber air panas besuhu 43 derajat celcius yang mengandung zat belerang dan diyakini dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

 

Luas keseluruhan komplek istana ini mencapai 26 hektar. Dari total areal seluas itu, hingga sekarang hanya sekitar 8.000 meter persegi saja yang digunakan untuk bangunan. Selebihnya dikembangkan menjadi padang rumput, pusat tanaman hias, dan tanaman keras yang ditata sedemikian rupa sebagai miniatur hutan lindung.

 

Maka itu, tak heran jika Istana Cipanas termasuk salah satu istana yang paling banyak dikenal dengan tanamannya, baik berupa tanaman hias maupun tanaman herbalia, yang pengembangannya mulai serius dilakukan oleh Ibu Negara Ani Yudhoyono tahun 2012 lalu.

 

Adapun jumlah tanaman yang dibudidayakan sebanyak 433 jenis, yang tersebar diatas lahan seluas 4.161 meter persegi. Tanaman herbal yang dikembangkan di dalamnya termasuk jenis tanaman herbal paling bagus di tanah air, yang menurut  hasil penelitian LIPI  terdiri dari 1.334 spesimen, 171 spesies, 132 marga, dan 61 suku.

 

 

Pada masa pemerintahan  kolonial Belanda, Istana Cipanas banyak digunakan sebagai tempat perisitirahatan para Gubernur Jendral. Diantaranya Gustaaf William Baron Van Imhoff, Andreas Cornelis De Graaf, Bonafacius Cornelis De Jonge, dan Tjarda Van Starkenborgh Stachouwer.

 

Menginjak masa pemerintahan penjajahan Jepang, Istana Cipanas digunakan untuk persinggahan para pembesar Jepang yang kebetulan menempuh rute perjalanan Jakarta-Bandung  atau sebaliknya.

 

Dan setelah kemerdekaan, Istna Cipanas resmi ditetapkan sebagai salah satu Istna Kepresidenan Republik Indonesia dan difungsikan sebagai tempat peristirahatan presiden atau wakil presiden beserata keluarganya.

 

Meski secara khusus ditetapkan sebagai tempat peristirahatan presiden maupun wakil presiden, dalam praktiknya Istana Cipanas sering kali digunakan sebagai pusat pelaksanaan kegiatan peristiwa-peristiwa besar bersejarah, baik di bidang politik, ekonomi, maupun hubungan antarbangsa.

 

Ho Chi Minh dan Bung Karno di Istana Cipanas, tahun 1959.​

 

Pada 13 Desember 1965, Istana Cipanas menjadi saksi lahirnya  peristiwa bersejarah di bidang ekonomi di tanah air. Saat itu, ruang sidang induk digunakan sebagai tempat Presiden Soekarno memimpin sidang kabinet guna menetapkan perubahan nilai mata uang dari Rp. 1.000 menjadi Rp. 1, yang dikenal dengan istilah Sanaring.

 

Kegiatan lain yang tidak kalah penting terjadi di era pemerintahan Presiden Soeharto. Tepatnya 14-17 April 1993 atas inisiatifnya Istana Cipanas dijadikan tempat pertemuan antara kelompok yang bertikai di Filipina, yakni pemerintahan Philipina dengan kelompok Moro National Liberation Front (MNLF), pimpinan Nurmisuari. Upaya perundingan tersebut dipimpin Mentri Luar Negri RI, Ali Alatas.

 

Diluar itu, juga masih banyak pristiwa penting lainnya. Seperti Diplomate Gathering 13 April 2013 dan rapat-rapat besar antara presiden dengan para mentrinya. Istana Cipanas juga sering dijadikan tempat penyelenggaranan even nasional, seperti evien Karya Seni Se-Indonesia yang dilaksanakan 12 September lalu.

 

Istana Terbuka untuk Rakyat

 

Dibalik lika liku sejarah dan pengambilan kebijakan penting dalam urusan kenegaraan, masih terdapat hal-hal lain yang tidak kalah menentukan, hingga mampu menempatkan Istana Cipanas sebagai bagian sejarah bangsa yang sangat istimewa.

 

Ibu Tin dan Soeharto menikmati udara taman Istana Cipanas

 

Salah satunya, lahir keputusan pemerintah yang dengan tegas membuka akses berkunjung ke Istana Cipanas  bagi masyarakat luas. Kebijakan perluasan akses berkunjung ini praktis akan turut memposisikan keberadaan istana menjadi jauh lebih istimewa di mata masyarakat. Sebab setelah bertandang ke istana, masyarakat setidakya diharapkan menjadi tahu sejumlah peristiwa penting bersejarah yang pernah terjadi di dalamnya.

   

Menurut Kepala Sub Bagian Rumah Tangga dan Protokoler Istana Cipanas, Jajat Sudrajat kebijakan yang dikenal dengan program Istana Terbuka untuk Rakyat (ISTURA) ini sebenarnya sudah diprogramkan sejak jaman pemerintahan Presiden Suharto, persisnya  tahun 1974. Hanya saja, gaungnya memang baru terdengar luas pada masa pemerintahan Presiden SBY.

 

ISTURA, lanjut Jajat, berlangsung selama hari kerja, mulai dari Senin sampai Jumat. Terkadang hari Sabtu dan Minggu juga bisa digunakan dengan catatan untuk kunjungan yang bersifat mendesak dan tentunya harus atas seizin kepala istana. Program tersebut hingga sekarang masih berlangsung dan sepertinya akan terus berlanjut.

 

Mantan presiden SBY dan keluarga di Istana Cipanas

 

Keberuntungan warga sekitar atas keberadaan Istana Cipanas ini antara lain terjadi saat ada tamu datang ke Cipanas, yang secara langsung turut menggerakan  roda perekonomian warga. Semakin banyak tamu, roda perekonomian warga pun otomatis semakin meningkat.

 

“Bayangkan saja jika jumlah tamu sampai ada 1.000 orang, maka kita pasti menyediakan 1.000 air minum untuk tamu. Dan itu kita belanjanya pasti di wilayah Cipanas, termasuk pemesanan makanan untuk para tamu,” kata Jajat Kamis (17/9).

 

Masih menurut Jajat, khusus untuk menunjang kerja presiden dalam mengatur negeri ini, sesuai visi misi Istana Cipanas, di istana terdapt beberapa fasilitas penunjang penting.

 

Diantaranya ada bangunan induk yang dikenal dengan sebutan gedung induk, delapan banguan paviliun dengan nama-nama tertentu, dan bangunan lainnya, seperti gedung bentol, kolam pancing, masjid, perpustakaan, rumah bunga, gedung kantor, kolam renang, musium, taman herbalia, dan rumah pemandian air panas alami.

 

Dianatar fasilitas tersebut, ada satu gedung yang terbilang istimewa, yakini gedung bentol. Gedung ini merupakan favorit Soekarno saat mencari inspirasi. Dianatar gedung-gedung yang ada, hanya dua gedung saja yang dibanguan pasca kemerdekaan, yakni Pavilion Nakula dan Sadewa. (zlf)

 

 

 

 

 

 

Komentar