Jumat, 20 Oktober 2017 - Pukul 03:02

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

sosialita

Begini Cara Mengatasi Bawahan Anda Yang Lumayan Malas

Oleh: fl/bc.com/net - Senin 28 September 2015 | 02:49 WIB

Begini Cara Mengatasi Bawahan Anda Yang Lumayan Malas

ilustrasi net

BERITACIANJUR.COM.-- Bila memang Anda sudah ‘ditakdirkan’ jadi atasan, Anda tentu ingin semua bawahan telaten dan rajin laksanakan kewajibannya. Namun selalu saja ada karyawan, yang memang lumayan malas. Bahkan cenderung tak bertanggung jawab.

 

Kondisi ini tentu saja bila dibiarkan, pastinya akan mempengaruhi kinerja tim dan motorik kerja Anda sndiri. Bahkan bisa berdampak lebih parah, yakni terjadi 'kekacauan' manajerial. Lantas, bagaimana cara mengatasi masalah 'si malas' ini?

 

Ada lima langkah berikut yang dapat Anda gunakan, untuk menangani bawahan yang motorik kerjanya buruk tersebut.

 

1. Panggil bawahan ke ruangan Anda

 

Hal pertama yang Anda lakukan adalah memanggil karyawan bersangkutan ke ruangan Anda. Utarakan pengamatan Anda terhadap perilaku dan kinerja dia.

 

Sampaikan juga bahwa Anda siap membantu dia untuk kembali rajin bekerja. Yang perlu Anda ingat saat pemanggilan tersebut adalah menciptakan suasana kondusif sehingga bawahan malas tersebut nyaman berdiskusi atau tidak terintimidasi.

 

Hindari juga memarahinya karena itu bukan solusi masalah, malah bisa membawa masalah lain.

 

2. Ketahui penyebab kemalasan

 

Setelah maksud pemanggilan disampaikan, tanyakan penyebab kemalasan karyawan bersangkutan. Umumnya karyawan yang malas bekerja disebabkan oleh masalah pribadi atau masalah pekerjaan.

 

Masalah pribadi bisa mencakup ketidakharmonisan keluarga, gangguan kesehatan, kebiasaan buruk, atau kekurangan finasial.

 

Sementara itu, masalah pekerjaan dapat berupa beban pekerjaan yang berlebihan, konflik dengan rekan kerja, peralatan kerja yang tidak ada atau tidak standar, lingkungan kerja yang tidak aman, dan penilaian kinerja yang tidak objektif.

 

Setelah mengetahui penyebab karyawan malas bekerja, sampaikan solusi yang sekiranya tepat. Sebagai contoh, jika bawahan tersebut kelebihan beban pekerjaan, kurangi beban tersebut. Jika karyawan tersebut kurang terampil, beri pelatihan.

 

Contoh lain, jika dia memiliki masalah keluarga, sampaikan kepadanya untuk segera mengatasi masalah keluarganya.

 

3. Sampaikan manfaat dan kerugian

 

Seperti yang mungkin Anda ketahui, motivasi seseorang bertindak ada dua yaitu mendapatkan manfaat atau menghindari kerugian (kesengsaraan).

 

Anda dapat memotivasi karyawan Anda dengan menyampaikan hal-hal baik untuk dirinya dan perusahaan jika dia kembali rajin bekerja. Hal-hal tersebut antara lain:

 

a. Reputasi yang baik

b. Penilaian kinerja yang baik dan memuaskan

c. Kenaikan gaji

d. Pemberian bonus

e. Promosi

f. Pencapaian target unit kerja dan perusahaan

g. Kepuasan pelanggan

 

Dengan mengetahui hal-hal baik di atas, diharapkan karyawan bersangkutan sadar bahwa kontribusi dirinya sangat penting sehingga segera memperbaiki kinerjanya.

 

Selain itu, beritahukan juga kerugian atau konsekuensi dari malas bekerja. Tentunya ini adalah kebalikan dari keuntungan rajin bekerja di atas.

 

4. Pantau perkembangan

 

Salah satu aspek yang membuat atasan berwibawa adalah kemampuan memantau atau mengontrol. Oleh karena itu, pantau perkembangan bawahan tersebut secara berkala, misalnya sekali dalam dua minggu.

 

Ini untuk memastikan apakah program atau instruksi Anda kepada bawahan tersebut dilaksanakan sekaligus mengetahui perkembangan perilaku si karyawan bersangkutan.

 

Kebanyakan atasan mengabaikan langkah ini sehingga mereka terus berkutat dengan masalah karyawan malas bekerja. Oleh karena itu, pantau terus perkembangan karyawan Anda. Jika perlu minta bantuan personalia sehingga pemantauan ini berjalan lebih baik.

 

5. Beri sanksi

 

Pemberian sanksi adalah langkah terakhir yang harus dilakukan kalau keempat langkah di atas tidak berhasil. Langkah terakhir ini adalah keputusan yang bijak untuk menjaga motorik manejemen.

 

Jangan cuma 'kemalasan' seorang, merugikan sekian banyak sumber daya manusia lainnya. Bahkan sangat berpotensi menghambat berkembangnya sebuah usaha.

 

Agar berjalan baik, sanksi ini harus berlandaskan peraturan perusahaan atau undang-undang, dan diputuskan bersama pihak personalia dan serikat pekerja (jika sanksi tersebut relatif berat, misalnya Surat Peringatan 2 ke atas).

 

Secara psikologis, seorang karyawan yang mendapat sanksi akan berpikir dan takut mengulangi hal yang sama sehingga ia “dipaksa” untuk memperbaiki dirinya. Dengan demikian, cepat atau lambat kinerjanya akan menjadi lebih baik daripada sebelumnya.

 

Bawahan yang malas bekerja harus segera ditangani. Jika tidak, Anda sebagai atasannya akan terkena dampak perilaku buruk tersebut. Oleh karena itu, cobalah terapkan kelima langkah yang dijelaskan di atas sekarang juga.

 

Hilangkan rasa senioritas atau hal lainnya, sehingga Anda mampu menangani masalah ini dengan baik dan berwibawa. (***)

 

Komentar