Senin, 23 Oktober 2017 - Pukul 03:45

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

ekonomi bisnis

Harga Tomat di Cianjur Terpuruk, Petani Terus Merugi

Oleh: Misbah Hidayat - Selasa 11 Agustus 2015 | 12:00 WIB

Harga Tomat di Cianjur Terpuruk, Petani Terus Merugi

ilustrasi/net

BERITACIANJUR.COM – Anjloknya harga tomat disaat panen raya berlangsung dikeluhkan para petani dan pengepul tomat di Desa Sukamulya, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur.

 

Jafar (35) warga Kampung Pasir Gombong RT 01/02 mengatakan, sepertinya untuk panen kali ini sedang tidak berpihak kepada petani. Dengan turunya harga tomat dipasaran otomatis petani jadi merugi, pasalnya pendapatan yang kita dapat jadi tidak sebanding dengan modal yang sudah kita keluarkan pada saat menanam.

 

“Panen kali ini kita merugi, harga tomat soalnya anjlok, tak sebanding dengan modal awal yang dikeluarkan pada saat menanam,”keluh Jafar kepada “BC” Senin (10/8).

 

Ia mengungkapkan, hampir semua petani di daerahnya mengalami kerugian pada panen kali ini, dari harga jual normal yang mencapai harga Rp.3000 per kg, pada waktu panen sekarang ini  tomat petani hanya dihargai Rp 500 per kg.

 

“Baru kali ini harga tomat benar-benar murah. Sehingga sebagian petani  banyak yang membiarkan tomat tetap pada pohonnya,” ungkapnya.

 

Sambung dia, saat ini dibandingkan dengan harga jual tomat, biaya untuk panennya justru jauh lebih mahal dan itu juga yang menjadi alasan kenapa petani lebih membiarkan tomatnya untuk tidak dipanen.

 

“Bahkan harga tomat kalah dengan harga peti yang biasa kami pergunakan untuk mengemas tomat yang kami panen,” ucapnya.

 

Senada juga dikeluhkan Oleh (56), bandar tomat yang berada di wilayah Desa Sukamulya Kec. Cugenan. Ia mengaku kebingungan untuk menentukan harga kepada para petani yang menjual tomat kepadanya. Pasalnya, harga tomat di pasaran sedang anjlok sehingga tidak bisa memberikan harga yang sesuai kepada para petani.

 

“Malah, 10 ton tomat yang sudah saya beli, dibiarkan busuk. Soalnya saya juga kebingungan harus menjualnya kemana. Sementara harga dipasaran tidak sebanding dengan ongkos yang harus saya keluarkan,” tuturnya. ***

Komentar