Rabu, 18 Oktober 2017 - Pukul 10:48

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

sosialita

Retail Online Jadi Tren Kaum Shopaholic

Oleh: Raka Pramudya - Kamis 01 Oktober 2015 | 17:07 WIB

Retail Online Jadi Tren Kaum Shopaholic

ilustrasi/net

SEMAKIN canggihnya teknologi informasi ternyata cukup berpengaruh terhadap gaya belanja masyarakat yang melek teknologi, salah satunya adalah belanja via toko online. Usaha toko online sendiri sudah ada sejak awal tahun 2000-an, saat itu toko online berbentuk website, peminatnya belum banyak dan penggunaan internet yang belum seperti saat ini.

 

Lalu kegiatan jual-beli online mulai berkembang didalam forum internet, sampai ada forum khusus jual beli. Lalu ada juga yang membuka toko online dengan memanfaatkan blog. Saat ini? bahkan situs jual-beli online sampai beriklan di televisi, agar banyak yang beriklan dan bergabung dengan situs tersebut.

 

Tidak hanya di situs jual-beli online, situs jejaring sosial seperti facebook dan twitter, dan aplikasi messengger pada smartphone seperti (BlackBerry Messengger, LINE, KakaoTALK, WeChat, dsb) bisa digunakan untuk menjalankan sebuah toko online.

 

Semakin kesini, semakin mudah untuk membuat sebuah toko online. Hal ini tentu dapat memfasilitasi pengguna teknologi untuk berwirausaha, atau sekedar mencari tambahan penghasilan. Dengan niat dan tekad yang kuat, bukan tidak mungkin anda bisa memiliki penghasilan lebih dari seorang pejabat pemerintahan.

 

Namun karena sangat mudahnya membuat sebuah toko online, ternyata ada manusia yang 'berotak kriminal' yang memanfaatkan sebuah toko online untuk merugikan orang lain. Biasanya para penipu memanfaatkan situs jual-beli online, forum internet, dan blog untuk melakukan aksi mereka.

 

Kemudian memasang foto yang bisa jadi didapat dari google dan diposting dengan harga yang miring. Bagi yang teliti sebelum membeli, tentunya tidak akan percaya begitu saja. Tapi jika sudah tertarik dengan harga murah yang ditawarkan, kadang orang suka lupa untuk mencurigainya.

 

Bahkan, cara belanja jenis ini kian dimintai dan berkembang sangat pesat. Sebab, belanja melalui dunia maya dapat menghemat waktu tanpa perlu mengunjungi lokasi perbelanjaan. Berdasarkan outlook 2015, BMI Research memprediksi akan terjadi pertumbuhan belanja online seiring dengan peningkatan penggunaan internet di Indonesia.

 

"Online shopping di Indonesia diprediksikan akan tumbuh hingga 57 persen pada tahun 2015 atau meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun lalu," ujar BMI Research Head, Yoanita Shinta Devi di Jakarta, Kamis, 22 Januari 2015.

 

Sebelumnya, hasil riset BMI Research mencatat di tahun 2014, layanan belanja di internet mencapai 24 persen dari total pengguna internet di Indonesia. Riset tersebut dilakukan di 10 kota besar dengan mengambil sampel dari 1.213 orang dengan usia antara 18-45 tahun menggunakan metode phone survei.

 

Menurutnya, potensi pertumbuhan belanja online ini sejalan dengan target pengguna internet yang dicanangkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika pada 2015 dengan menargetkan 150 juta pengguna internet dari total penduduk Indonesia sekitar 250 juta.

 

"Dilihat dari perputaran uangnya, hasil riset BMI Research mencatat pada 2014 mencapai Rp21 triliun dengan nilai rata-rata per orangnya dalam satu tahun mengeluarkan Rp825 ribu. Dengan asumsi nilai belanja yang sama, maka di tahun 2015 diprediksikan menjadi Rp50 triliun," tutur Yoanita.

 

Sementara sisi demografi, peminat belanja online masih didominasi oleh kaum hawa dengan jumlah persentase mencapai 53 persen, dimana 56 persennya masih berusia muda, sekitar 18-30 tahun.

 

"Kecenderungan perempuan meminati belanja online terlihat dari produk favorit yang laku terjual, seperti fesyen (41 persen) dan kosmetik (40 persen). Sedangkan, gadget dan eletronik masing-masing mencapai 11 persen. Sebagian, besar konsumen melakukan belanja online dari 8-10 menggunakannya melalui mobile device," ucapnya. (bbs)

Komentar