Kamis, 24 Agustus 2017 - Pukul 13:44

Image
Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

Susah Air Bersih Warga Terpaksa Konsumsi Air Bau

Oleh: Misbah Hidayat - Rabu 12 Agustus 2015 | 07:37 WIB

Susah Air Bersih Warga Terpaksa Konsumsi Air Bau

ilustrasi/net

BERITACIANJUR.COM – Krisis air akibat kemarau panjang yang diperkirakan baru akan berakhir Desember mendatang, semakin parah. Bahkan di beberapa tempat, warga diketahui mulai menggunakan air kotor berbau tak sedap untuk memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangganya. 

 

Keputusan menggunakan air kotor berbau tak sedap terpaksa diambil warga karena saking sulitnya mendapatkan air bersih yang layak pakai. Sekalinya ada air bersih, jumlahnya sangat terbatas. Jangankan untuk memenuhi kebutuhan lainnya, digunakan sebagai cadangan air minum saja tidak cukup.

 

Begitu sulitnya mendapatkan air bersih hingga terpaksa harus mengonsumsi air kotor berbau tak sedap ini antara lain dialami sebagian warga Desa Mayak, Kecamatan Cibeber.

 

Akibat keringnya sumber air bersih, belakangan ini mereka terpaksa harus membiasakan menggunakan air berwarna hitam beraroma bau busuk untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya masing-masing.

 

Ketua RT RT 01/07 Kampung Belengbeng, Desa Mayak, Dasep Saeful mengatakan, setiap kali memasuki musim kemarau warganya memang selalu mengalami krisis air bersih. Sumber-sumber air bersih mengering, hingga mereka kesulitan untuk dapat memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

 

“Sejauh ini, warga yang mau mendapatkan air bersih, terpaksa harus berjalan jauh ke RT sebelah. Itupun, hanya cukup untuk mendapatkan stok air minum saja,” ucap Dasep kepada “BC”, Selasa (11/8).

 

Sebagian warga, lanjutnya, banyak yang menggunakan air berwarna hitam dan berbau untuk mencuci peralatan rumah tangga, dari kolam yang berada dilingkungan tempat tinggalnya.

 

“Untuk itu, kami sangat mengharapkan bantuan pasokan air minum dari pemerintah guna memenuhi keperluan mencuci dan lain sebagainya. Sebab, kolam yang ada airnya, sudah bercampur dengan air selokan yang berwarna hitam,” katanya.

 

Sementara Lilis (40), warga RT 01/07 Kampung Belengbeng mengungkapkan, setiap kali datang musim kemarau ia dan warga lainnya selalu kesulitan mendapatkan pasokan air bersih.

 

“Sehingga, kami terpaksa menggunakan air yang berada dikolam, meskipun berwarna hitam dan berbau tidak sedap. Kalau pun ada air bersih, kami harus mengambilnya di kampung sebelah,” tuturnya.

 

Menyikapi krisis air yang saat ini dialaminya, ia harap pemerintah dapat segera turun tangan membantu meringankan beban warga yang terkena dampak kemarau panjang seperti sekarang. Paling tidak, pemerintah mau menggirim dan menyediakan cadangan  membagikan air bersih bagi warga.

 

Krisis air yang tidak kalah serius juga dialami warga Kampung Muhara, Desa Sukakerta, Kecamatan Cilaku. Untuk memenuhi stok air minum sehari-hari, belakangan ini sebagian warga setempat terpaksa harus membelinya ke kampung lain yang masih memiliki cadangan air.

 

“Ini tidak mungkin terus menerus dilakukan warga selama berbulan-bulan. Masalahnya, kemampuan ekonomi warga juga sangat terbatas. Karena bentrok dengan pemenuhan kebutuhan sehari-hari, suatu saat warga bisa saja sudah tidak mampu lagi untuk membeli stok air bersih,” jelas Adang Supriatna, salah seorang warga Kampung Muhara, Desa Sukakerta.

 

Diakui Adang, untuk memenuhi cadangan air minum, sebagian kecil warga masih ada yang ngambil dari sumber air  di pinggir kali. Untuk mendapatkannya, mereka harus berjalan lebih dari satu kilometer. Itupun, cadangan air yang tersedia sangat minim, sehingga hanya dapat digunakan sebagian kecil warga saja.

 

“Semua ini terjadi akibat sumur-sumur milik warga maupun sumber mata air lain yang biasa digunakan warga mengering dalam beberapa bulan terakhir,” kata Adang. ***

Komentar