Jumat, 20 Oktober 2017 - Pukul 03:01

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

sosialita

Secangkir Teh Pembangkit Semangat Mengisi Hari

Oleh: Raka Pramudya - Sabtu 03 Oktober 2015 | 17:00 WIB

Secangkir Teh Pembangkit Semangat Mengisi Hari

ilustrasi/net

MANUSIA itu bagaikan secangkir teh, dengan campuran gula manis dan sedikit teh yang pahit maka terwujudlah secangkir air yang manis dan berbau harum, begitu juga manusia yang pasti mempunyai kebaikan dan kekhilafan itulah yang dinamakan manusia, jika tanpa kekhilafan itu namanya bukan manusia tapi malaikat.

 

Siapa sangka sifat-sifat dasar manusia ini bisa tergambar dari dari secangkir teh. Teh sudah menjadi saksi bagi jutaan obrolan masyarakat kita. Penyajian teh di pagi hari sudah menjadi ritual umum bagi setiap keluarga. Dalam secangkir teh pahit, terkandung sejumlah filosofi yang sering luput dari perhatian penikmatnya;

 

Teh sendiri isyaratkan sesuatu yang murni, alami, dan sebuah konsep hidup yang sangat jauh dari kamuflase. Rasa pahitnya menggambarkan prototehnik hidup, ketika jiwa yang tak lagi suci terlempar dari singgasana surgawi menuju area perjuangan karena hidup sejatinya adalah sebuah perjuangan.

 

Teh seringkali disajikan dalam kehatangan. Rasa hangat ini menggambarkan sebuah cara dalam menikmati  perjuangan. Tidak panas, tidak pula dingin,  isyarat keseimbangan rasa. Tidak perlu terlalu dalam, ketika mencandra sebuah rasa tetapi mencoba menikmati proses hidup.

 

Dari semua filosofi tersebut tidak salah ketika teh akhirnya menjadi minuman primadona di Tanah Air. Dari teh dengan kualitas bagus yang dijual di resto-resto besar, hingga warung-warung tenda pinggir jalan pun selalu menawarkan menu minuman teh. Begitu familiarnya teh di Indonesia.

 

Namun, kepopuleran teh di Indonesia bahkan di beberapa belahan dunia tidak terlepas dari sejarahnya. Kisah yang paling banyak ditulis tentang asal usul teh adalah cerita tentang Kaisar Shen Nung yang hidup sekitar tahun 2737 SM.

 

Kaisar Shen Nung terkenal bukan hanya sebagai seorang Kaisar tetapi juga disebut sebagai The Divine Healer (Sang Penyembuh dari Ilahi). Cerita penemuan teh oleh sang Kaisar juga sangat tidak disengaja ketika daun teh pertama dari tanaman teh yang ada di kebun Kaisar Shen Nung jatuh kedalam air panas yang sedang dimasak oleh Sang Kaisar.

 

Ketika daun teh tersebut terseduh dengan air panas, aroma sedap langsung muncul membuat Sang Kaisar sangat tergoda untuk meminumnya. Bukan hanya aromanya yang sedap, rasa sepat dan pahit yang ditimbulkan oleh daun teh juga sangat disukai oleh Sang Kaisar karena dipercaya dapat membuat tubuh lebih segar dan menurut penelitian Kaisar Shen Nung, minuman teh dapat menyembuhkan beberapa penyakit.

 

Sejak itu, Kaisar Shen Nung kerap kali meminum teh dan sejak itu teh menjadi sangat populer di seluruh penjuru Cina. Versi sejarah lainnya adalah dari seorang Daruma. Daruma adalah pembawa ajaran agama Zen Buddha (Father of Zen Buddha) di Jepang pada tahun 600 Masehi.

 

Terdapat beberapa versi tentang penemuan tanaman teh di Jepang yang dihubungkan dengan Daruma. Legenda menyebutkan bahwa Daruma yang sedang mempelajari agama Zen Buddha tersebut tahan duduk bertapa tanpa tidur ataupun memejamkan matanya selama 7 tahun (ada yang menyebutkan 9 tahun.

 

Untuk menghindari tertidur pada saat bertapa, kelopak matanya terjatuh di tanah dan menurut legenda keajaiban terjadi ketika tempat dimana kelopak mata tersebut jatuh, tumbuh tanaman teh yang pertama di Jepang. Hal tersebut yang membuat Daruma terkenal dengan kedua matanya yang besar sebagai icon dan dijadikan boneka terkenal di Jepang.

 

Sejarah bergerak pada masa Dinasti Ming (1368 – 1644), bangsa Cina mulai menyeduh teh dengan air mendidih. Dengan sedikit adaptasi, tempat penuang anggur tradisional dari Cina yang menggunakan penutup menjadi teko teh yang sempurna

  

Penyebaran teh pun diyakini ada selama masa pemerintahan Dinasti Han, Tang, Soon dan Yuan. Komoditas Teh diperkenalkan ke dunia luar (dari Cina) melalui pertukaran kebudayaan menyeberangi Asia Tengah menyelusuri benua Eropa sambil memperdagangkan kain sutera (disebut Jalur Sutera).

 

Hingga perusahaan Hindia Timur Britania yang didirikan oleh Ratu Elizabeth I pada 31 Desember 1600 yang bertujuan untuk memonopoli perdagangan di Hindia Timur mendapatkan lisensi dengan mendatangkan teh dari Cina ke Inggris menggunakan kapal Elizabeth I. Monopoli perdagangan teh dikuasainya sampai dengan tahun 1833.

 

Sejak diperdagangkan melalui jalur sutera dan ke beberapa negara Asia, kepopuleran teh pun tak terbendung hingga kini menjadi icon minuman dunia, selain kopi.

 

Nama besar teh pun tidak cepat pudar. Bukan hanya karena dia menajdi komoditas bahan baku minuman banyak orang, namun manfaat dan kekhasiatan teh juga menjadi faktor pendongkrak.

 

Teh yang baik dihasilkan dari bagian pucuk (pecco) ditambah 2-3 daun muda, karena pada daun muda tersebut kaya akan senyawa pholifenol, caffeine serta asam amino. Senyawa-senyawa inilah yang akan mempengaruhi kualitas warna, aroma dan rasa dari pada teh. (bbs)

Komentar