Rabu, 18 Oktober 2017 - Pukul 10:47

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

sosialita

Kebaya, Warisan Budaya Indonesia Yang Terus 'Ber-evolusi'

Oleh: Raka Pramudya - Kamis 08 Oktober 2015 | 17:00 WIB

Kebaya, Warisan Budaya Indonesia Yang Terus 'Ber-evolusi'

ilustrasi/net

KEBAYA, seiring berjalannya waktu, melalui derasnya arus mode hingga abad ke-15 masehi. Kebaya adalah pakaian tradisional yang dikenakan wanita Indonesia yang teerbuat dari bahan tipis yang dapat dipadupadankan dengan kain, batik, songket atau yang bercorak warna-warni.

 

Busana yang mirip dengan yang disebut “nyonya kebaya” ini diciptakan pertama kali oleh orang-orang Peranakan yaitu dari Malaka. Mereka sering menggunakannya dengan sarung dan kaus cantik dengan berhiaskan manik-manik yang disebut dengan “kasut manek”.

 

Mulai dari sanalah kebaya berkembang pesat, yang berkembang ke Malaka, Sumatra, Sulawesi, dan Bali .Di daerah Jawa, kebaya hanya di pakai oleh kalangan kerajaan saja.

 

Sekarang, nyonya kebaya ini sedang mengalami pembaharuan besar, dan juga sangat terkenal pada wanita non Asia. Berbeda dengan kebaya tradisional di Indonesia, kini para perancang mode sedang sibuk memikirkan cara untuk memodifikasi desain dan membuat kebaya menjadi busana yang lebih modern lagi.

 

Pembaharuan kebaya seperti memasangkan kebaya dengan jeans atau rok menjadi ide yang cukup manarik yang menandakan bahwa kebaya tidak hanya dapat dipakai untuk acara resmi saja tetapi dapat dipakai dalam acara yang lebih santai.

 

Pada akhir abad ke-19,  wanita-wanita dari Negara Belanda juga suka memakai kebaya  untuk acara resmi yang cocok dengan iklim tropis di Indonesia. Pada masa ini, kebaya sudah mulai mengalami pembaharuan yang dulunya hanya menggunakan tenunan mori saja, sekarang telah menggunakan tenunan sutera dengan sulaman warna-warni.

 

Selain di kalangan wanita Belanda, kebaya juga sangat popular di kalangan wanita Cina, karena inilah muncul kebaya encim. Semakin berkembangnya zaman, kebayapun secara tidak langsung menjadi simbol feminisme, yaitu busana khas wanita yang kini telah menjadi busana nasional dan model kebaya modern.

 

Pada abad ke-19 kebaya digunakan oleh semua kelas sosial setiap hari, baik perempuan Jawa maupun perempuan peranakan Belanda. Bahkan kebaya sempat menjadi pakaian wajib bagi perempuan Belanda yang hijrah ke Indonesia. Dan pada masa pemerintahan Belanda pula, kebaya dikelompokkan kepada status sosialnya. Biasanya, keluarga keraton dan para bangsawan mengenakan kebaya dari bahan sutra, beludur, atau brukat.

 

Sedangkan keturunan Belanda atau perempuan Indonesia menggunakan kebaya dari bahan katun dengan potongan yang lebih pendek. Bedanya adalah orang Belanda yang tinggal di Indonesia menggunakan kebaya dari katun halus dan brukat di pinggirannya, sedangkan orang-orang pinggiran dan masyarakat biasa menggunakan kebaya dari katun murahan.

 

Ternyata pada saat itu kebaya hanya eksis selama pemerintahan Belanda di Indonesia. Sejak Jepang mulai masuk ke Indonesia, kebaya mulai turun pamornya disebabkan kondisi sosial yang kurang bersahabat.

 

Pembuatan kebaya turun drastis karena jalur perdagangan tekstil pada saat itu terputus. Belum lagi, saat itu kebaya dianggap sebagai pakaian wanita yang menjadi tahanan dan pekerja paksa.

 

Dan pada awal kemerdekaan Indonesia, kebaya sudah mulai populer lagi. Tetapi, pada jaman orde baru kembali mengalami penurunan karena pemerintah menghapuskan kebaya sebagai kebiasaan dan kebaya hanya boleh digunakan pada acara-acara tertentu saja seperti pertemuan Dharma Wanita.

 

Pada tahun 1940-an, Presiden Soekarno memilih kebaya sebagai kostum nasional. Saat itu, kebaya dianggap sebagai busana tradisional Indonesia. Kebaya juga dianggap sebagai lambang emansipasi perempuan Indonesia, dimana pakaian tersebut digunakan oleh tokoh kebangkitan wanita Indonesia, Raden Ajeng Kartini.

 

Sehingga setiap tanggal 21 April, anak-anak remaja, siswi, dan perempuan Indonesia merayakannya dengan pakaian tradisional khususnya kebaya. Dan tidak jarang perlombaan fashion show dalam hari Kartini pun menggunakan kebaya.

 

Tahun 1970-an kiblat mode Indonesia berubah ke Eropa sehingga saat itu kebaya dianggap sesuatu yang kolot dan ketinggalan jaman. Tidak ditinggalkan sepenuhnya tetapi hanya digunakan di acara-acara tertentu saja. Namun, sekitar tahun 1990-an kebaya kembali berjaya dan para perancang mampu memodifikasi kebaya menjadi sesuatu yang unik, cantik, sehingga memiliki banya peminat.

 

Hingga sekarang kebaya masih eksis di kalangan wanita Indonesia baik pemudi maupun orang tua. Tidak jarang para wanita terlihat menggunakan kebaya dalam sebuah acara baik upacara tradisional dan acara-acara formal seperti pernikahan, wisuda, dan lain sebagainya.

 

Perbedaanya hanya terdapat di kemewahan kebaya yang dimiliki. Tentu saja kemewahan kebaya yang dimiliki kebaya pengantin berbeda dengan kebaya wisuda. Dan para perancang negeri telah mampu mengubah kebaya dari sesuatu yang dianggap kolot dan ketinggalan jaman menjadi sebuah pakaian yang mampu memancarkan pesona dan kecantikan wanita Indonesia. Semakin hari, kebaya semakin banyak variasinya. Sehingga kebaya dapat menampilkan suasana glamornya ditengah-tengah acara pesta.

 

Kini, kebaya tidak hanya dapat dipasangkan dengan kain tetapi juga dapat dipasangkan dengan celana dan rok ditambah dengan selendang. Tidak jarang juga kebaya yang dijadikan sebagai gaun yang panjangnya berada diatas lutut pemakainya. Ada beberapa yang tidak memiliki lengan dan ada yang berupa atasan saja.

 

Dan ternyata, kearifan lokal Indonesia yang satu ini sudah dapat menembus pergaulan internasional. Kebaya tidak dinilai sebagai sesuatu yang aneh atau ketinggalan jaman oleh masyarakat di luar Indonesia. Namun sebagai sesuatu yang unik dan sesuai dengan mode pada masa kini. Sudah banyak wanita mancanegara yang melihat dan terpengaruh oleh keindahan kebaya sendiri. Tidak terkecuali dari kalangan selebritis mancanegara.

 

Di Amerika Serikat, kebaya saat ini dianggap sebagai busana yang cukup populer dan bergengsi untuk menghadiri acara cocktail dan gala dinner. Berbeda dengan Indonesia yang memadukan kebaya dengan kain batik atau sarung, wanita mancanegara lebih sering menjadikan kebaya sebagai gaun atau long dress.

 

Mereka menjadikan kebaya sebagai sesuatu yang formal dan spektakuler dan digunakan dalam acara-acara yang spektakuler pula, seperti Golden Globe Award. Bagaimana mereka mendapatkan bahan kebaya tersebut? Apakah kebaya sudah dijual secara bebas di luar negeri? Ternyata, para artis dan peminat kebaya tersebut mendapatkan kebaya melalui online shop.

 

Mereka meminta designer Indonesia untuk merancangkan kebaya yang sesuai dengan permintaan mereka tetapi tetap mengadung unsur kebayanya. Dan biasanya kebaya tersebut akan dipadukan dengan sepatu hak tinggi yang semakin menambah kemewahan dan keformalannya. Dan untuk acara-acara semiformal, para penggemar kebaya tersbut lebih memilih untuk memadankannya dengan celana. (bbs)

 

Komentar