Sabtu, 24 Juni 2017 - Pukul 17:31

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

cianjur selatan

Sawah Kekeringan, Warga Sukadana Membangun Kincir Air

Oleh: Zenal Mustari - Jumat 14 Agustus 2015 | 06:44 WIB

Sawah Kekeringan, Warga Sukadana Membangun Kincir Air

ilustrasi/net

BERITACIANJUR.COM – Akibat debit air yang terus menyusut setiap harinya dikarenakan musim kemarau saat ini mengakibatkan keberadaan irigasi tidak mampu lagi untuk mengairi areal persawahan di Kampung Cieceng, Desa Sukadana dan sekitarnya.

 

Namun, bagi warga pemilik sawah pun tak tinggal diam, mereka secara swadaya berinisiatif membangun kincir air berukuran besar di Sungai Cikondang kendati debit airnya tidak terlalu besar karena sedang musim kemarau.

 

Menurut Ade Ayub (47), salah seorang petani asal Sindanghayu menjelaskan, cara kerja kincir air ini memang masih relatif sederhana yakni air dari aliran sungai diambil oleh potongan bambu yang menempel di kincir tersebut.

 

Potongan bambu yang terus berputar lalu menumpahkan air pada saat posisi bambu berada di atas, tumpahan airnya kemudian ditampung di sebuah talang yang kemudian mengalirkan air ke sawah-sawah yang mengalami kekeringan.

 

"Satu kincir bisa mengairi sekitar satu hektar sawah,  saat ini saya tengah kembali membuat satu kincir lagi dengan harapan dapat mengaliri lagi sawah lainnya yang mengalami kekeringan akibat musim kemarau," tutur Ade kepada "BC" saat ditemui Kamis (13/8).

 

Dia mengatakan, bila lahan persawahan di daerahnya sudah tidak teraliri air kurang lebih sejak satu bulan yang lalu. Dirinya mengungkapkan, sebelumnya warga telah membuat satu kincir air untuk dapat mengairi sawah. "Ini merupakan kincir kedua yang sengaja kami bangun secara swadaya," kata Ade.

 

Ade menerangkan, setidaknya butuh waktu sekitar satu minggu lamanya untuk membuat satu kincir air, dalam kurun waktu tersebut dihabiskan untuk mengumpulkan bahan-bahan hingga merakit kemudian menyetel kincir. "Kalau untuk memasang satu kincir air kurang lebih membutuhkan waktu sekitar satu pekan lamanya dan itu bisa langsung terpakai," terangnya.

 

Ade merinci, bahan baku yang dibutuhkan untuk membuat kincir air yaitu diantaranya seperti kayu papan, kayu balok, dan paku serta menggunakan empat batang bambu masing-masing sepanjang sepuluh meter. "Biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli bahan baku satu kincir air, kalau ditotal sekitar Rp1,5 juta. Sedangkan untuk ongkos tukangnya sendiri tidak dibayar karena kami membuatnya secara gotong-royong," ujarnya.

 

Hal senada dikatakan warga lainnya, Usep, sebelumnya sawah miliknya seluas hampir satu hektar tidak bisa dialiri air. Beruntung ada kincir air yang dibuatnya bersama warga, sehingga tanaman padi miliknya dapat terelamatkan.

 

"Kincir air ini sangat bermanfaat untuk mengairi sawah warga, selain tak mengalami kekeringan hasil produksi padi juga menjadi sedikit meningkat. Kami manfaatkan aliran Sungai Cikondang ini dengan membuat kincir dan airnya dapat kami tampung untuk mengairi sawah kami," pungkasnya. ***

Komentar