Selasa, 22 Agustus 2017 - Pukul 04:42

Image
Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

aktualita

Teh Cianjur Tak Seharum Aromanya. Pejabat Saling Tuding

Oleh: achilles - Minggu 19 Juli 2015 | 11:21 WIB

Teh Cianjur Tak Seharum Aromanya. Pejabat Saling Tuding

sumber beritacianjur.com

Mempunyai produksi ratusan ribu ton daun teh setiap tahun dan memiliki belasan ribu hektare luasan kebun teh ternyata  tidak cukup membuat teh Cianjur jadi tuan rumah di daerahnya sendiri.

 

Serbuan teh dari luar Cianjur masih menghiasi pasaran teh di Cianjur. Lalu mengapa teh Cianjur ini tidak bisa menjadi primadona setidaknya di daerahnya sendiri. Apa yang salah?

 

Pengelolaan yang kurang serius dan satu mata rantai kewenangan pengelolaan bisa jadi juga bagian dari persoalan. Tidak hanya di Cianjur, pengelolaan teh dari skala provinsi saja juga menemukan masalah. Luas lahan dan produktivitasnya cenderung menurun. 

 

Pada 2007-2009, Statistik Perkebunan Indonesia Ditjen Perkebunan mencatat terjadi penyusutan lahan produktif dari 129.599 hektare menjadi 107.087 hektare (berkurang 22.512 hektare). Hal itu tak luput dari sumbangsih penyusutan lahan di Jawa Barat (Jabar). Sebagai "penyumbang" 74 persen kebun teh nasional, dalam jangka waktu tersebut, berdasarkan data Dinas Perkebunan Jawa Barat di Jabar terjadi pengurangan lahan hingga 3.937 hektare, dari semula 101.075 hektare menjadi 97.138 hektare.

 

Sementara dari produktivitasnya, penurunan terjadi sejak 2005. Pada tahun tersebut, produktivitas rata-rata teh di Jabar yang mencapai 1.622,25 ton (dari luas lahan 102.304,78 hektar) merosot menjadi 1.491 ton pada 2009. Akibatnya, prestasi Indonesia dalam jagat teh internasional tak lagi berkibar. Indonesia yang sebelumnya pernah duduk di peringkat ketiga produsen teh dunia, anjlok ke posisi tujuh. 

 

Indonesia merupakan pamungkas dari produsen terbesar secara berturut-turut, yaitu Cina, India, Kenya, Srilanka, Vietnam, dan Turki. Lebih parahnya lagi, Indonesia tersalip oleh Vietnam yang merupakan anggota baru dalam percaturan teh dunia. Padahal, sebelumnya Vietnam menggali ilmu teh dari Indonesia. 

 

Vietnam, negara yang baru merdeka pada 1978 itu, sekitar lima tahun lalu gencar menjalin kerja sama di bidang teh dengan Republik Indonesia (RI). Jelas terlihat, Pemerintah Vietnam memang serius berkiprah di dunia teh. Sementara di Indonesia, seperti yang diungkapkan Ketua Asosiasi Petani Teh Indonesia (Aptehindo) Jabar Nana Subarna, keseriusan pengelolaan teh lebih terlihat pada masa pemerintahan kolonial Belanda. 

 

Meskipun peluang dan potensi teh Indonesia begitu besar, baik dari perkebunan rakyat, swasta, maupun negara, pemerintah RI masih belum serius menyinergikan-nya. Pemerintah lebih memilih menjalankan peran minimal ketimbang merancang strategi cerdas atau terobosan agar teh nasional bergairah.

 

Dalam menggenjot produktivitas teh rakyat misalnya, pemerintah sekarang lebih memilih memberikan bantuan sarana dan prasarana. Padahal, strategi jitu tampaknya lebih dibutuhkan karena selama ini dengan luas 50.137 hektare, yang artinya paling luas dibandingkan dengan perkebunan negara (25.899 hektare) dan swasta (21.102 hektare), produktivitas teh rakyat paling rendah. Selain tidak menjangkau semua petani, model bantuan juga tidak menjamin program bisa efektif atau tepat sasaran. 

 

Untuk  Kabupaten Cianjur sendiri kualitas teh rakyat (TR) Cianjur sudah tidak bisa dipandang sebelah mata. Namun, dengan segala keistimewaan tanaman teh, bukan tidak mungkin dengan kondisi yang ada saat ini dengan hanya mengandalkan pengolahan dan pemasaran secara tradisional membuat dari sisi pemasaran, teh Cianjur mandeg dan membuat masyarakat kurang mengkonsumsi teh.

 

Kepala Seksi Bina Budidaya Tanaman Perkebunan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Cianjur, Bastari mengatakan luas lahan teh rakyat yang terdapat di Kab. Cianjur mencapai 14.329.57 HA  yang tersebar di beberapa kecamatan di wilayah Kab. Cianjur. Dianrtaranya, di Kec. Takokak, Sukanegara, Campaka, gekbrong, Warungkondang, Kadupandak, Campaka mulya.

 

“Namun kebun teh yang paling berpotensi di wilayah Kabupaten Cianjur terletak di tiga kecamatan yakni Kecamatan Takokak, Campaka dan Sukanegara,” ucapnya.

Komentar