Kamis, 24 Agustus 2017 - Pukul 10:20

Image
Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

ragam

Dahsyat! The First Convoy Battle in Indonesia

Oleh: internet - Senin 17 Agustus 2015 | 10:13 WIB

Dahsyat! The First Convoy Battle in Indonesia

interner/The First Convoy Battle in Indonesia

BERITACIANJUR.COM,-- Ada satu peristiwa besar yang masih luput dari perhatian masyarakat pada masa kini, yakni Pertempuran dan Penyergapan konvoi Bojong Kokosan yang berlangsung dari 9 Desember 1945 hingga 12 Desember 1945.

 

Disebut pertempuran konvoi, karena pertempuran  terjadi saat sekutu menyelenggarakan konvoi (iring-iringan) kendaraan di jalan raya dengan kawalan ketat oleh mobil-mobil lapis baja dan tank-tank tempur untuk memperkuat pasukannya di Bandung.

 

Dalam buku Pertempuran Konvoi Sukabumi-Cianjur 1945-1946, peristiwa ini tercatat sebagai perang konvoi pertama di Indonesia (The First Convoy Battle in Indonesia), perang antara lapisan masyarakat melawan sekutu pemenang perang dunia kedua.

 

Pada masa penjajahan dulu, ada pepatah, ‘Jika ingin menguasai Indonesia, maka kuasai lah Jawa Barat terlebih dahulu. Kuasai Bandung’. Sepertinya, pepatah ini dipegang erat oleh kaum sekutu, Belanda.

 

Saat itu tercium kabar pasukan Belanda akan melakukan konvoy menuju Bandung melalui Sukabumi untuk membuat pertahanan. Konvoy tentara Belanda tersebut bermaksud untuk membantu dari belakang tentara Inggris yang tengah bertugas memulangkan tawanan mereka di Indonesia. Namun, rencana tersebut diketahui oleh para pejuang yang ada di daerah, termasuk Sukabumi.

 

Mengetahui rencana tentara sekutu, maka pejuang Sukabumi yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Eddie Soekardi menyusun strategi dan taktik melawan sekutu, untuk mencegah masuknya tentara mereka ke wilayah Bandung. Eddie pun menempatkan empat batalyon di beberapa titik, mulai dari Cigombong hingga Gekbrong, perbatasan Sukabumi-Cianjur.

 

Ketika tentara sekutu mulai memasuki wilayah Sukabumi, semua pejuang telah bersiap di posisinya masing-masing. Mereka membiarkan sekutu masuk terlebih dahulu ke dalam perangkap, sebelum akhirnya diserang di daerah Bojong Kokosan. Strategi menyerang di Bojong Kokosan memang telah disusun Eddie sedemikian rupa.

 

Bojong Kokosan merupakan tempat yang dianggap paling srategis, karena secara geografis, wilayah ini diapit oleh dua tebing yang memudahkan penyerangan dari atas. Strategi perang ini dinamakan Eddie dengan‘memukul ular berbisa’, hal ini didasarkan pula pada bentuk jalan yang berkelok-kelok di wilayah Sukabumi.

 

Tentara sekutu yang datang dari Cigombong diibaratkan seekor ular (karena tengah berkonvoi), yang kurang lebih panjangnya 12 kilo meter, mulai dari ekornya di Cigombong, hingga kepalanya di Bojong Kokosan.

 

Akhirnya penyerangan pun dimulai saat ‘kepala’ tentara sekutu berada di Bojong Kokosan pada tanggal 9 Desember 1945. Semua lapisan masyarakat Sukabumi ikut berperang, bahkan kalangan wanita pun tidak ingin ketinggalan ikut mempertahankan wilayahnya.

 

Penyerangan ini dikenal sejarah internasional sebagai The First Convoy Battle in Indonesia. Hal tersebut tercatat dalam buku Pertempuran Konvoi Sukabumi-Cianjur 1945-1946. Bahkan Kolonel Doulton dari pihak sekutu yang saat itu juga terlibat dalam konvoi, turut menuliskan peristiwa besar tersebut melalui buku The Fighting Cock.

 

Sekutu yang terkejut tak mampu berkutik dari serangan yang diluncurkan pada peristiwa tersebut. Pada penyerangan itu, taktik yang dirancang Eddie sebenarnya adalah ‘Hit and Run’. Menyerang, kemudian mundur.

 

Namun, semangat yang dimiliki pejuang Sukabumi saat itu begitu besar dan bergejolak, hingga mereka lupa pada taktik awal, ‘Hit and Run’. Mereka terus menggempur sekutu selama sekitar satu jam, dan lupa untuk melarikan diri secepat mungkin. Akibatnya, resiko yang ditanggung pejuang ini adalah kehabisan senjata.

 

Menyadari masyarakat Sukabumi yang kehabisan senjata, sekutu pun berbalik menyerang dengan membabi buta. Mereka menaiki tebing pertahanan di Bojong Kokosan, mengebom, menembaki, hingga 12 orang pejuang kita tewas dalam penyerangan tersebut.

 

Ketika berada pada peristiwa genting itu, masih menurut Wawan, hujan besar turun disertai kabut yang tebal. Tentu saja kesempatan ini dimanfaatkan pejuang untuk bergerak mundur.

 

Turunnya hujan disertai kabut tebal pada pertempuran di Bojong Kokosan ini pun tercatat pada buku The Fighting Cock, The Story of The 23 Indian Division Chapter 21 dikenal dengan ‘cloud over Java’. Jika ditinjau dari kepercayaan agama, masyarakat percaya keajaiban tersebut datangnya dari Tuhan Yang Maha Esa.

 

Saat kabut masih menyelimuti Bojong Kokosan, sekutu meluncurkan serangan udara dengan memborbardir wilayah ini. Sayangnya, serangan yang mereka luncurkan tanpa perhitungan yang tepat. Sudah tidak ada lagi masyarakat Sukabumi, justru mereka memborbardir tentaranya sendiri.

 

Pertempuran yang terjadi pada 9 Desember 1945 ini cukup banyak merugikan tentara sekutu. Bahkan komandan dari pihak sekutu terkena sasaran granat dan menderita luka parah, hal ini pula yang mendasari pertempuran ini menjadi perbincangan dunia internasional.

 

Karena merasa harkat dan martabatnya direndahkan, maka sekutu meluapkan amarahnya dengan memborbardir kawasan Cibadak, tak jauh dari Bojong Kokosan, pada 10 Desember 1945. Sekutu beranggapan kawasan Cibadak merupakan benteng pertahanan TKR, padahal daerah ini hanya berisi pasar tradisional.

 

Meski begitu, pengeboman yang dilakukan sekutu merupakan salah satu pengeboman terbesar di Jawa Barat, bahkan hingga menghabiskan anggaran tentara sekutu. Pasalnya, sekutu merasa gengsi dan marah, apalagi petinggi tentara mereka juga turut tewas dalam penyerangan.

 

Setelah pertempuran berakhir, jumlah korban dari para pejuang Bojong Kokosan disebut sebanyak 73 orang. Sedangkan dari tentara sekutu sekitar 50 orang tewas dan ratusan lainnya mengalami luka parah. (fl/berbagai sumber internet)

 

Komentar