Kamis, 29 Juni 2017 - Pukul 14:16

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

Petani Sukaluyu Banyak Jadi Petani Penggarap

Oleh: Angga Purwanda - Selasa 18 Agustus 2015 | 12:00 WIB

Petani Sukaluyu Banyak Jadi Petani Penggarap

net

BERITACIANJUR.COM – Petani padi di Desa Tanjungsari, Kecamatan Sukaluyu, saat ini sebagian besar berstatus petani penggarap dengan sistem bagi hasil. Kepala Desa Tanjungsari, Waldi Akbar Yacob, mengatakan, mayoritas warga desa setempat bermata pencaharian petani. Namun, mereka sebagian besar sebagai petani penggarap.

 

"Sebagian besar petani disini hanya petani penggarap, dengan sistem sewa tanah dan bagi hasil dengan pemilik lahan," kata Waldi, Senin (17/8).

 

Waldi menuturkan, lahan sawah di wilayah itu kebanyakan, kepemilikan lahannya oleh orang luar desa, bahkan luar daerah. "Sawah disini kebanyakan sudah beralih kepemilikan dari warga setempat kepada orang luar. Seperti pengusaha dan pejabat," tuturnya.

 

Banyaknya lahan pertanian sawah yang beralih kepemilikan itu, jelas dia, karena dijual petani, akibat kesulitan ekonomi dan minimnya pendapatan, serta yang berubah profesi bidang usaha lainnya. 

 

Sementara itu, Tatan (60) salah seorang petani setempat mengungkapkan, lahan sawah yang saat ini digarapnya merupakan lahan sewa.

 

"Sawah ini, lahannya sewa dari orang lain. Dan dibayar saat musim panen atau sebesar Rp3 juta per tahun," ucap Tatan seraya berharap, suatu saat dirinya bisa memiliki sawah sendiri sehingga hasil setiap panen dapat sepenuhnya digunakan untuk pemenuhan kebutuhan hidup keluarga. ***

Komentar