Sabtu, 23 September 2017 - Pukul 07:12

Image
Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

salam dari cianjur

Jangan 'Golput', Manfaatkan Momentum Bersejarah!

Oleh: Anton Ramadhan - Selasa 08 Desember 2015 | 20:12 WIB

Jangan 'Golput', Manfaatkan Momentum Bersejarah!

ilustrasi: berita cianjur.com

Sembilan Desember 2015 tidak berlebihan disebut sebagai hari penentuan masa depan 269 daerah, baik kabupaten, kota, maupun provinsi Indonesia untuk lima tahun ke depan. Ini berarti lebih dari separuh daerah akan melakukan penggantian pemimpin.

 

Sejatinya animo masyarakat menghadapi pemilihan kepala daerah serentak 2015 ini, terkesan biasa-biasa saja. Kalaupun ada euforia, ini hanyalah aksi para pendukung fanatik dari para calon pemimpin dan mereka penggembira. Artinya bisa disimpulkan ada kencendrungan menurunnya kuantitas dan kualitas pemilhan kepala daerah.

 

Kuantitas dan kualitas pilkada sangat mungkin mempengaruhi niat para pemilih untuk datang ke tempat-tempat pencoblosan. Namun begitu perlu diingatkan lagi, bahwa pilkada serentak adalah momen menentukan nasib daerah tersebut untuk melakukan perbaikan dan membangun di rentang waktu 5 tahun ke depan.

 

Jadi kelalaian para pemilih dengan mengabaikan hak suaranya (golput), justru akan berdampak pada hasil pembangunan nanti. Bila hasil pemilihan melahirkan pemimpin yang tidak diharapkan, tentu saja itu adalah konsekwensi dari kurangnya partisipasi masyarakat setempat, karena membiarkan aspirasinya diredam oleh peserta yang punya "amunisi" berlebihan. Karena sudah lumrah pilkada adalah ajang "investasi" kekuasaan.

 

Sekedar menghimbau dan mengingatkan agar masyarakat sebisanya menyalurkan hak pilihnya, dengan memilih pasangan pemimpin yang berkualitas dan merakyat. Tidak hanya sekadar merakyat, namun nuraninya sangat mengerti kebutuhan rakyat yang dipimpin.

 

Pemimpin yang mengerti rakyat, sejatinya tak terukur pada masa kampanye pilkada yang sangat pendek rentang waktunya. Pemimpin yang aspiratif juga, tentu saja tak cuma dilihat dari satu person pemimpin yang maju dalam pilkada. Penilaian mestinya ditakar dari satu kesatuan pasangan calon kepala daerah. Karena kedua pemimpin akan menyatu dalam menjalankan roda pemerintahan.

 

Sejujurnya negeri ini sedang dilanda banyak cobaan, hal ini memerlukan energi positif dari para pemimpin daerah yang energik, jujur, cekatan, dan berani bekerja keras. Kita membutuhkan wajah-wajah baru dari daerah yang "masih segar" untuk membangkitkan kembali semangat membangun Indonesia dari daerah. Semangat muda dan enerjik, dengan pasangannya yang mampu mengimbangi dan menjaga kedahsyatan spirit muda, baik karakter dan keimanannya.
 

Selamat memanfaatkan momentum bersejarah di negeri ini, khususnya bumi Cianjur. Jangan lewatkan hari bersejarah tersebut dengan memilih pemimpin 'ber-spirit' muda, mengerti hak hak rakyat dan tentu saja selalu berlandaskan keimanan yang kuat dan mengakar.

Komentar