Rabu, 28 Juni 2017 - Pukul 17:30

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

cianjur selatan

Desa Sukabungah Campakamulya, Desanya Anak Putus Sekolah

Oleh: Zenal Mustari - Kamis 20 Agustus 2015 | 10:30 WIB

Desa Sukabungah Campakamulya, Desanya Anak Putus Sekolah

ilustrasi/net

BERITACIANJUR.COM – Sudah 70 tahun negeri ini merdeka, namun kondisi anak-anak di Indonesia umumnya masih sekian banyak yang putus sekolah. Seperti mayoritas anak usia sekolah di Desa Sukabungah, Kecamatan Campaka Mulya. Salah satu faktor utama penyebab anak putus sekolah adalah orangtua yang mempekerjakan anaknya untuk membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

 

Kepala Desa Sukabungah, Kecamatan Campakamulya, Agus Ramlan mengatakan, dari hasil survei di lapangan mayoritas anak usia sekolah (7-19 tahun) di wilayah Campakamulya, khususnya di Desa Sukabungah. Anak-anak tidak bersekolah itu dikarenakan faktor ekonomi orang tuanya rendah.

 

“Anak dari keluarga dengan ekonomi rendah cenderung putus sekolah, karena mindset orangtua masih membutuhkan anak untuk mencari uang,” kata Agus kepada "BC" kemarin.

 

Lebih lanjut kata dia, bagi anak-anak yang sudah mengenal uang cenderung menyepelekan pendidikan karena berpikir sekolah tidak perlu dilakukan. Sebab, tanpa sekolah pun mereka bisa menghasilkan uang sendiri. "Tingkat putus sekolah relatif rendah terjadi pada pendidikan dasar seperti SD, SMP dan selebihnya ke tingkat SLTA/sederajat," imbuh Agus.

 

Anak-anak dari keluarga sosial ekonomi rendah sambung dirinya, cenderung lima kali lipat lebih banyak yang putus sekolah daripada anak-anak berasal dari kelas sosial ekonomi menengah ke atas. Agus mengungkapkan, selain itu penyebab utama anak tersebut putus sekolah bisa juga karena jarak tempuh yang relatif jauh dari rumahnya ke sekolah serta pihak sekolah pun belum bisa menyediakan semacam ruas kelas khusus bagi siswa penyandang disabilitas seperti di tingkat SD.

 

Terkait dengan adanya upaya guna mengurangi angka putus sekolah untuk kelas ekonomi menengah ke bawah, Agus memberikan apresiasi kepada semua pihak yang telah ikut membantu dalam menangani masalah ini seperti halnya yang dilakukan GSC peduli terhadap pendidikan anak. ***

Komentar