Rabu, 28 Juni 2017 - Pukul 17:39

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

edukasi

Bahasa Sunda Terancam Punah

Oleh: M. Arlan Akbar - Jumat 21 Agustus 2015 | 09:00 WIB

Bahasa Sunda Terancam Punah

ilustrasi/net

BERITACIANJUR.COM – Ranah bahasa Sunda yang memiliki ciri dialek berbeda di tiap daerah dengan penggunaan tingkatan bukan sekedar alat komunikasi, namun juga menunjukkan etika di masyarakat.

 

Bahasa Sunda Cianjur yang dikenal memiliki kekhasan serta tingkatan bahasa yang halus dalam penuturannya, saat ini oleh generasi muda sudah jarang dipraktekkan. Hal ini disebabkan oleh minimnya pemahaman dan pembiasaan, terutama di lingkungan keluarga. Kondisi tersebut mengancam kelestarian bahasa Sunda.

 

“Bahkan sekarang ini, orang tua cenderung menggunakan bahasa non Sunda dalam kesehariannya berkomunikasi dengan anak. Hal ini tentunya harus menjadi perhatian, tidak hanya pemerintah atau dinas terkait, tapi juga masyarakat, apalagi yang ada di lingkungan keluarga,” ujar tenaga pengajar bahasa Sunda SMP 1 Pasundan Cianjur Agus Nurjaman.

 

Dituturkannya, penggunaan bahasa Sunda terbagi dalam tiga, yakni cohag (kasar), loma (sedang) dan halus. Dikatakan Agus, penggunaan bahasa Sunda yang banyak dipraktekkan yakni loma. Sedangkan untuk penggunaan bahasa Sunda halus, sangat jarangan.

 

“Ini karena kosa kata yang ada sedikit sulit. Karenanya, penggunaannya dilakukan kalangan tertentu. Untuk bisa menggunakan bahasa Sunda halus yang identik dengan Sunda Cianjuran memang butuh pemahaman, bahkan pembiasaan sejak kecil. Tapi bukan tidak bisa dipelajari dan dipahami,” ungkapnya.

 

Ditegaskannya, keberadaan bahasa Sunda halus harus tetap ada dan lestari, pasalnya hal tersebut menjadi ciri Kabupaten Cianjur. “Dibanding dengan dialek Sunda di daerah lainnya, Cianjur terkenal yang paling halus penuturannya. Kenapa harus tetap ada, karena dialek ini sangat erat kaitannya dengan kebudayaan setempat yang menjadi cikal bakal kesenian budaya Sunda.,” terangnya.

 

Karenanya, jangan sampai tidak dipraktekkan bahkan mundur karena kurangnya pemahaman terhadap undak usuk bahasa halus. Ditambahkannya, mempelajari buhasa Sunda halus yang menjadi identik Cianjur juga merupakan bagian dari perwujudan jati diri suatu daerah. ***

Komentar