Rabu, 18 Oktober 2017 - Pukul 10:43

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

sosialita

Membully Bagian Dari Hiburan, Setujukah Anda?

Oleh: Putra Lugina Sukma - Senin 25 Januari 2016 | 10:12 WIB

Membully Bagian Dari Hiburan, Setujukah Anda?

net/illlustrasi

BERITACIANJUR.COM - Kondisi lingkungan sosial anak-anak dan generasi muda zaman sekarang memang sangat mengkhawatirkan bila dibandingkan generasi terdahulu.  Anak-anak zaman sekarang rentan mengalami bullying atau penindasan. Aksi bullying, sekarang ini, tak hanya terjadi di bangku sekolah menengah atas, tetapi juga di sekolah dasar.    


 
Menurut psikolog Liza Marielly Djaprie, anak zaman sekarang lebih rentan mengalami bullying karena beberapa faktor.  "Pertama, karena tingkat stres, jadi ketika kita stres, akhirnya kita mencari pelampiasan. Anak-anak sekarang tingkat stresnya tinggi sekali. Tuntutan sekolah, rumah, pendidikan non-formal juga. Dari pagi sampai siang. Kemudian, Sabtu dan Minggu masih les lagi," ujar Liza.


 
Anak-anak zaman sekarang juga dinilai lebih kompetitif ketimbang zaman dahulu. Alhasil, hal tersebut membuat mereka tertekan dan tidak menikmati masa kecil dengan seharusnya.


 
"Ketiga, mereka tidak ada waktu bermain. Padahal, saat bermain, anak-anak belajar tenggang rasa, tolong-menolong yang merupakan konsep pembentukan kecerdasan emosional. Itu juga makin lama makin tidak ada di kurikulum pendidikan Indonesia," urainya.


 
Menurut Liza, sudah sepatutnya anak-anak mengalami masa pertumbuhan yang ceria dengan bekal pembelajaran yang seimbang serta waktu bermain yang cukup.


 
Orangtua Bisa Jadi Faktor Utama Bullying  . Banyak orangtua yang membebani anak dengan nilai akademis cemerlang sehingga mereka stres dan membutuhkan pelampiasan yang berujung pada aksi bullying atau menjadi korban bullying.


Sebab, semua orang ternyata rentan mengalami bullying atau penindasan dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Liza berujar, yang seharusnya diperhatikan justru tingkat stres pada sebuah lingkungan dan toleransi di antara sesama pada lingkungan tersebut.


 
Golongan ekonomi atas bahkan tak menjamin bullying atau penindasan tak terjadi di lingkungannya. Saat ini, kasus bullying yang paling sering mencuat adalah di kalangan para pelajar.


 
Liza mengungkap bahwa tuntutan tinggi, kurang edukasi dan kecerdasan emosional, serta kurang waktu bermain menjadi faktor bagi pelajar rentan terhadap bullying. Data terakhir dari UNICEF menunjukkan bahwa 50 persen pelajar melapor pernah mengalami bullying.


 
Tak hanya berbahaya merusak kepercayaan diri serta membuat prestasi siswa menurun, bullying juga dapat mendorong tindakan nekat, seperti bunuh diri. (net)

Komentar