Rabu, 28 Juni 2017 - Pukul 17:25

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

edukasi

Kemiskinan Jadi Pemicu Angka Putus Sekolah

Oleh: Susi Susilawati - Senin 24 Agustus 2015 | 08:00 WIB

Kemiskinan Jadi Pemicu Angka Putus Sekolah

ilustrasi/net

BERITACIANJUR.COM – Anak usia sekolah, yakni 7-19 tahun di Kabupaten Cianjur masih belum bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Pasalnya, faktor ekonomi menjadi kendala utama bagi para orang tua.

 

Kasi Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan Sukaresmi, Dedi Ruhiyat menjelaskan, jenjang pendidikan yang ditempuh masyarakat yang ada Kecamatan Sukaresmi memang masih terbilang minim. Sebab, kebanyakan yang menjadi kendala pada orang tua terletak pada biaya yang harus dikeluarkan untuk meyekolahkan anaknya.

 

"Iya orang tua di sini mayoritas mata pencahariannya sebagai petani sehingga pendidikan yang ditempuh anaknya paling tinggi SD atau SMP," ucapnya kepada "BC".

 

Lanjut dia, Adapun upaya mengurangi angka putus sekolah pihaknya melalui desa memberikan apresiasi yang dilakukan melalui Generasi Sehat dan Cerdas (GSC) Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM). Melalui program tersebut pihaknya berupaya agar padangan orang tua tentang pendidikan bisa berubah karena terbantu.

 

"Saya himbau kepada para warga untuk bisa mengubah pandangannya terhadap pendidikan yang dijalani masing-masing anaknya. Agar jika pendidikan anak setara SMA mereka tidak kebingungan untuk mencari pekerjaan," ujarnya.

 

Hal senada, Kepala Desa Sukabungah, Kecamatan Campakamulya, Agus Ramlan menyebutkan,  dari data yang disurvei pihaknya, anak usia 7-19 tahun di wilayahnya hanya mengenyam pendidikan sampai SD atau SMP, sedangkan untuk SMA masih jarang.

 

"Alasan dari para orang tua mereka rata-rata mengatakan tidak bisa menyekolahkan anaknya karena ekonomi mereka yang harus terbagi dengan kebutuhan sehari-hari. Hingga menimbulkan pandangan lebih baik anak membantu orang tua dibandingkan dengan sekolah," terangnya.

 

Lanjut Agus, anak yang sudah mengenal uang cenderung menyepelekan pendidikan, karena tanpa sekolah tinggi pun bisa mencari uang. Selain itu, jarak tempuh yang jauh dari rumah membuat alasan anak untuk tidak sekolah.

 

"Tingkat putus sekolah relatif rendah terjadi pada pendidikan SD, SMP dan selebihnya ke tingkat SMA jadi yang mendominasi lulusan mereka itu dari SD. Ada pun program GSC dari PNPM itu cukup membantu namun masih terbatas," pungkasnya. ***

Komentar