Jumat, 26 Mei 2017 - Pukul 03:10

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

mail news

Bukan Masalah Biaya, Menikah Itu Ada 2 Hal Yang perlu di Pikirkan

Oleh: Warga Cianjur - Kamis 03 Maret 2016 | 13:45 WIB

Bukan Masalah Biaya, Menikah Itu Ada 2 Hal Yang perlu di Pikirkan

net/illustrasi

JURNASLISWARGA - Ketika pertama kali mengutarakan maksud untuk melangsungkan pernikahan, ibunda saya hanya berpesan satu hal. Jangan terjebak hutang untuk resepsi. Ibu saya mungkin juga merasakan kegalauan saya tentang biaya pernikahan. Saya pun memang sempat sedikit was-was dengan biaya resepsi yang mungkin akan menjadi porsi terbesar dari keseluruhan biaya yang pasti akan dikeluarkan.

 

Kalau hendak menuruti keinginan sendiri, sebenarnya saya dan istri hanya menginginkan acara yang sederhana, akad kemudian syukuran yang dihadiri oleh kerabat dan saudara. Kami berdua memang keukeuh hanya ingin yang sederhana saja, namun sakral dan diingat. Tapi rupanya memang soal pernikahan itu bukan hanya penyatuan ide 2 individu, tapi 2 keluarga dengan puluhan anggota keluarga di dalamnya yang masing-masing membawa pemikirannya masing-masing.

 

Saya memang memiliki tabungan, jumlahnya bisa dibilang cukup untuk mengawali hidup kami berdua. Masing-masing dari kami pun tahu berapa kemampuan finansial kami berdua, inilah yang penting ketika hendak melaksanakan pernikahan, ada baiknya tahu dan mampu mengukur seberapa kuat kemampuan finansial yang dimiliki.

 

Memang adalah kemauan keluarga untuk merayakan pernikahan dengan resepsi, namanya juga keluarga besar. Dari pihak istri saya dengan garis Minang-nya maka saudaranya tersebar di mana-mana, pun dengan saya demikian, dari garis ibu maupun bapak, keluarga saya adalah keluarga besar. Maka mau tidak mau harus ada jalan tengah untuk mengakomodasi semua kepentingan.

 

Saya dan istri memang sudah bersiap-siap, tabungan kami berdua jika digabung bisa dibilang lumayan dalam jumlah nominal. Namun tentunya kami berdua harus membagi uang yang kami punyai ini dalam berbagai item kebutuhan pra-pernikahan sampai pasca pernikahan. Dan porsi resepsi tentunya harus masuk dalam item yang harus diprioritaskan.

 

Ketika lantas kemudian diputuskan ada resepsi maka yang saya lakukan adalah jujur dengan berapa dana yang kami miliki. Dengan dana berdua yang kami milik, sebenarnya sangat cukup untuk mengadakan resepsi. Namun kami berdua ingat bahwa  tahap pasca pernikahan kami masih sangat-sangat membutuhkan banyak dana, sehingga sebenarnya alokasi dana kami jika dibagi-bagi hanya cukup untuk mengadakan acara sederhana di rumah, sebuah konsep acara yang ditentang keluarga karena mereka menginginkan ada resepsi.

 

Maka kami berdua lantas berbicara kepada keluarga. Bahwasanya dana kami sudah alokasikan, berapa untuk resepsi, berapa untuk mencari tempat tinggal, berapa untuk bulan madu dan berapa untuk memulai hidup. Tentunya juga berbicara berapa gaji kami berdua sebulan, karena embel-embel tempat kami bekerja ini selalu diasosiasikan dengan gaji besar dan lahan basah oleh orang awam.

 

Menikah Murah Itu Mudah

Menikah itu hanya soal niat, apabila niatnya baik maka sejauh dan serumit apapun jalannya pasti akan sampai karena semesta mendukung dan Tuhan menyahut doa-doa mereka yang berniat baik. Pernikahan kami berlangsung begitu cepat, setelah proses lamaran kami hanya memiliki waktu 7 minggu untuk proses persiapan sampai ke hari H. Dengan waktu yang begitu mepet itu kami berdua praktis membagi waktu dengan cermat, karena seluruh proses ini benar-benar kami berdua yang mengurusi.

 

Hal pertama yang terpikirkan adalah mencari bantuan dan rekomendasi vendor pernikahan yang bisa menyediakan harga miring namun berkualitas bagus. Dari beberapa teman saya mendapatkan beberapa vendor yang akhirnya benar-benar saya gunakan kemudian seperti cincin, undangan dan souvenir. Sementara untuk proses resepsinya sendiri ditangani oleh Wedding Organizer di Bandung.

 

Dalam waktu 7 minggu ini semua persiapan harus siap, jadilah kami berdua pontang-panting ke sana kemari. Hampir tiap weekend tidak ada jeda waktu istirahat, dari pagi sampai malam hanya untuk mempersiapkan pernikahan. Kami lelah, capek dan rasanya seperti dikejar-kejar sesuatu secara terus menerus. Tapi memang pertolongan Tuhan itu selalu ada di saat yang tepat. Lewat teman-teman baik, saya lantas mendapatkan beberapa support untuk acara pernikahan. Sehingga ada sedikit kelegaan di hati dan membuktikan bahwa memang jika berniat baik, maka jalannya pun akan baik.

 

Pelajaran yang saya ambil di sini adalah bahwa menikah dengan biaya  terbatas itu mudah dan bisa sekali dilakukan. Hal terpenting yang mungkin harus digarisbawahi adalah mencari rekomendasi sebanyak-banyaknya dan melakukan perbandingan harga dengan cermat. Buat saya cara ini lebih efektif dengan bertanya pada teman-teman yang sebelumnya sudah melangsungkan pernikahan dibandingkan mencari lewat internet atau forum-forum pernikahan.

 

Sementara berikutnya adalah buang jauh-jauh sikap gengsi. Buatlah pernikahan sesuai dengan apa yang kita mampu, jangan memaksakan apa yang berada di luar kemampuan kita. Banyak kasus dari teman-teman saya sendiri bahwa untuk menggelar sebuah resepsi sampai harus menghabiskan banyak uang, beberapa diantaranya malah sampai meminjam uang di bank misalnya. Sayang, padahal uang tersebut sebenarnya bisa dialokasikan untuk hal-hal lain yang lebih penting atau bahkan diinvestasikan.

 

Toh pernikahan sebagus, semegah apapun pasti ada celanya, pasti ada yang membisik dengan kata-kata miring. Maka selain gengsi juga persiapkan hati, jangan dengar apa selentingan kanan-kiri. Lurus saja pada apa yang hendak dilakukan dan jangan pedulikan kata orang.

 

Memang benar jika pernikahan adalah sebuah hal yang mungkin harus dikenang seumur hidup. Tapi buat saya membuat momen yang bisa dikenang seumur hidup ini tak harus membuat sesuatu yang mewah atau megah jika justru memberatkan. Karena bukanlah yang patut dikenang itu bukan seremonialnya? Tapi bagaimana saat kita berdua sudah menjalani hidup bersama.

 

Untuk orang dengan penghasilan tergolong menengah seperti kami berdua. Kiranya sudah cukup dengan resepsi sederhana. Toh secara agama pun yang disunnahkan adalah mengabarkan kabar gembira pada khalayak. Bukan melakukan perayaan. Dalam agama yang saya anutpun sesuatu yang berlebihan juga tidak dianjurkan karena merupakan sebuah kesia-siaan.

 

Jujur Itu Perlu

 

Ada baiknya juga untuk memberitahukan berapa sebenarnya penghasilan dan aset yang selama ini dimiliki, terbuka baik kepada pasangan ataupun kepada pihak keluarga. Jujurlah karena sikap ini juga diperlukan untuk meyakinkan keluarga tentang apa yang diinginkan atau membuat mereka percaya bahwa semua akan baik-baik saja.

 

Sebenarnya dalam hati saya berpikir, kenapa misalnya orang-orang ingin menggenapkan agama atau memiliki niat baik tapi justru harus memikirkan sebuah hal yang sebenarnya bisa dibuat sederhana saja. Kalau prinsip saya pribadi sih sebenarnya cukuplah kami disahkan secara agama dan legal di mata hukum. Resepsi hanyalah soal seremonial budaya, tapi memang orang Indonesia masih berpegang pada budaya. Sehingga orang-orang malah menyibukkan diri mengurus yang sifatnya bukan inti dari sebuah pernikahan. Seolah inti pernikahan hanya berkutat di KUA dan buku nikah, sehingga dianggap mudah.

 

Namun demikian saya bersyukur bisa berkompromi dengan seluruh keluarga, saya pun belajar untuk jujur dan terbuka kepada keluarga. Mencari jalan tengah memang perlu dan walaupun sudah dilaksanakan resepsi perkawinan pun suara-suara sumbang tetap ada dan berbisik di sekitar telinga. Semoga resepsi kemarin memang akan menjadi kenangan indah untuk hidup kami.

 

Resepsi sesungguhnya hanya 1 hal dari banyak hal yang harus dipikirkan dalam sebuah pernikahan. Janganlah memfokuskan atau menghabiskan waktu hanya untuk mengurus resepsi sementara pasca pernikahan masih banyak hal yang harus dipikirkan, dilakukan dan dijalani. Jangan menjalani momen-momen sebelum pernikahan dengan perasaan takut untuk mengadakan resepsi, jangan memaksakan diri. Jika memang bisa melaksanakan resepsi maka laksanakanlah, jika tidak bisa maka jujurlah. Jangan memaksakan karena itu justru akan merugikan.

 

Intinya jika memang sudah mantap, maka jangan ragu lagi. Tidak baik menunda sebuah hal yang seharusnya baik dan bisa disegerakan. Percayalah pasti ada jalan untuk orang-orang yang memiliki niat baik. Entah kelapangan rejeki, entah bantuan yang tiba-tiba datang. Pada akhirnya Tuhan akan memberikan jalan bagi orang-orang yang sudah berniat baik dan memilki tekad yang kuat.

 

Kebahagiaan sesungguhnya tak terletak pada semegah apa resepsi pernikahanmu, tapi pada sosok yang akan menjadi separuh nyawamu.

Komentar