Rabu, 18 Oktober 2017 - Pukul 10:50

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

mail news

Gila Hormat, Sengsara di Akhir Masa!

Oleh: Muhammad Edwar Sumpena - Kamis 17 Maret 2016 | 18:59 WIB

Gila Hormat, Sengsara di Akhir Masa!

foto penulis : M. Edwar Sumpena (Ciseupan, Cugenang, Cianjur, Jawabarat)

BERITACIANJUR.COM - Gila hormat, biasanya selalu terjadi pada orang-orang yang baru memiliki sebuah jabatan terpenting didalam pekerjaannya ataupun kehidupannya. Hanya saja, sebetulnya hal itu tidak membuat seseorang terlihat lebih hebat. Melainkan malah datang cacian dan makian dari orang-orang terdekatnya.

 

Saya pernah mengenal seseorang yang mana saya agak kurang suka dengan sikapnya. Setiap kali berpapasan dia tidak mau menyapa atau menoleh, harus orang lain yang menyapa terlebih dahulu barulah dia menoleh.

 

Awalnya saya kira karena dia tidak melihat saya saja, tetapi selalu begitu setiap ketemu. Rupanya dia dulu bekas tentara yang mungkin punya jabatan dan punya anak buah yang selalu siap memberikan hormat setiap berpapasan.

 

Sayangnya setelah pensiun dan tidak punya anak buah lagi, sikap meminta hormat itu tetap ditunjukkannya dalam kehidupan sehari-hari. Post power syndrom lah, itu istilah yang tepat.

 

Dulu juga pernah ada orang lain yang punya perilaku mirip. Karena pernah menjadi kepala di sebuah instansi, maka dia merasa bawahannya harus selalu hormat kepadanya. Sayangnya dalam kehidupan sehari-hari sikap itu terbawa-bawa, dan setelah pensiun, sikap itu masih melekat dalam dirinya. Orang lain harus menyapanya terlebih dahulu, kalau tidak maka dia tidak akan menoleh.

 

Saya teringat kata-kata Buya Hamka di dalam bukunya yang berjudul Tasauf Modern. Kata Hamka, gila hormat itu tidak boleh, tetapi menjadi orang yang terhormat haruslah jadi tujuan hidup.

 

Tentu tidak ada orang yang ingin menjadi orang hina dina, dilecehkan, direndahkan, atau tidak dihargai di dunia ini. Saya yakin semua orang ingin dihormati, tetapi jangan sampai minta hormat. Kalau minta hormat, itu gila hormat namanya.

 

Di kampus saya ada dosen yang patenteng-patenteng. Peraturan di kampus kami, setiap orang yang masuk membawa kendaraan selalu ditanyakan kartu identitas pegawainya oleh Bapak Satpam. Suatu hari dosen tersebut tidak membawa kartu identitas pegawai (KIP) sehingga Pak Satpam tidak membolehkan mobilnya masuk. Karena kesal, dosen tersebut marah-marah lalu berkata.

 

“Bapak tahu tidak, saya ini dosen!”. Pak satpam hanya diam. Menurut saya, kalau dosen memangnya kenapa? Minta diistimewakan? Minta dihormati karena merasa dirinya lebih tinggi kedudukannya dari Pak Satpam? Pak Satpam hanya menjalankan prosedur, kita harus menghormati tugasnya itu.

 

Padahal, kalau dibicarakan baik-baik dan tidak emosi, pasti Pak Satpam mengerti dan mengizinkan masuk. Tetapi, karena ucapan yang terkesan menunjukkan kepongahan itu, dimata saya jatuhlah dosen itu dalam pandangan yang lebih rendah dari Pak Satpam.

 

Saya pernah membaca ada menteri yang marah-marah di pesawat karena tempat duduknya diisi oleh orang lain. Menteri itu ngotot harus terbang pada jam tersebut. Setelah diteliti boarding pass-nya ternyata jadwal penerbangannya seharusnya pada jam berikutnya. Namun, karena merasa dirinya orang penting, dia menunjukkan perilaku yang sama sekali tidak intelek. Di era media sosial seperti ini, sikap menteri yang arogan dan gila hormat itu menyebar dengan cepat dan menuai kecaman dimata publik.

 

Banyak lagi kasus pejabat yang berperilaku arogan seperti kisah di atas. Ada jaksa yang marah-marah karena ingin didahului antri di pom bensin, ada anggota parlemen yang menampar pramugari, dan lain-lain. Penyebabnya karena mereka merasa kedudukannya lebih tinggi sehingga harus dihormati.

 

Kebanyakan pejabat di negara kita berkelakuan seperti bos. Mereka ingin selalu dilayani. Kalau datang berkunjung ke daerah mereka diperlakukan bak raja: karpet merah dibentangkan, disambut dengan payung keebsaran, dikalungi bunga rampai, disiapkan mobil jemputan mewah, dikawal selama mobilnya melintas di jalanan, orang lain harus minggir.

 

Sudah menjadi budaya turun temurun seperti itu. Padahal sebagai pejabat atau abdi masyarakat, mereka seharusnya melayani, bukan dilayani. Mereka seharusnya merasakan susah senang hidup rakyat kecil, merasakan penderitaan masyarakatnya, bukan malah hidup bersenang-senang di tengah tangis kesedihan rakyatnya.

 

Kembali ke masalah hormat tadi. Kehormatan itu tidak untuk diminta, tetapi rasa hormat itu muncul dengan sendirinya karena budi yang mulia. Kehormatan itu bukan karena pangkat atau jabatan yang tinggi, kedudukan yang hebat, atau uang/harta yang banyak, tetapi kehormatan itu diperoleh karena akhlak yang terpuji.

 

Apalah artinya punya jabatan tinggi tetapi angkuh dan arogan. Apalah artinya punya harta yang banyak tetapi pelit/kikir. Apalah artinya punya karir yang hebat tetapi korupsi. Orang akan hormat kepada kita karena kita selalu berlaku jujur, berdedikasi, dan tidak melakukan perbuatan yang tercela. Makanya, menjadi orang yang terhormat karena memiliki budi yang mulia haruslah menjadi tujuan hidup kita. (Opini Warga, Muhammad Edwar Sumpena)

Komentar