Sabtu, 19 Agustus 2017 - Pukul 23:47

Image
Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

aktualita

Kualitas Radar Bandara Buruk

Oleh: Disma M. Taryum - Rabu 26 Agustus 2015 | 07:33 WIB

Kualitas Radar Bandara Buruk

net

BERITACIANJUR.COM – Ketua Indonesia Police Watch (IPW), Neta S. Pane mendorong agar kepolisian memeriksa Dirut AirNav terkait jatuhnya Pesawat Trigana Air beberapa hari lalu.

 

Pasalnya, radar di Bandara Sentani, Jayapura, sejak dibeli hingga saat ini disebut-sebut tidak dioperasikan. Sehingga bukan tidak mungkin menjadi salah satu penyebab terjadinya kecelakaan.

 

"Temuan Centre For Budget Analysis (CBA) tentang dugaan radar di Jayapura yang tidak berfungsi, pantas diapresiasi. Polri harus menghargai peran serta masyarakat, dengan segera mengusut Dirut AirNav," ujar Neta, Selasa (25/8).

 

Menurut Neta, pemeriksaan juga perlu dilakukan karena di beberapa bandara juga disebut-sebut ada radar yang penggunaannya melebihi teknis usia pemakaian. Seperti di Bandara Soekarno-Hatta, sudah di atas 30 tahun. Padahal usia teknis radar hanya 15 tahun.

 

"Ini kelalaian yang bisa menjadi bencana nasional. Polri harus segera meminta keterangan Dirut Perum AirNav, sebagai BUMN yang menangani sistem radar dan navigasi udara sipil nasional. Demi keselamatan 160 ribu penumpang per hari di Bandara Soetta, Polri harus bergerak," ujarnya.

 

Neta mengemukakan pandangannya, semata-mata demi keselamatan ribuan penumpang yang setiap hari menggunakan jasa penerbangan. Apalagi akibat banyaknya kecelakaan pesawat di Indonesia, Amerika Serikat sudah melarang perusahaan penerbangan Indonesia melayani rute ke Negeri Paman Sam tersebut. Kini Indonesia dalam katagori dua, yang artinya banyak kecelakaan.

 

"Jangan tunggu sampai pesawat asing mengalami kecelakaan di Indonesia gara-gara layanan navigasi yang tidak becus. Jangan tunggu sampai Indonesia dikucilkan dunia, hanya karena navigasi menjadi 'bancakan' pejabat," ujarnya.

 

Neta mengungkapkan, dari penelusuran IPW diduga radar yang tidak beroperasi bukan hanya di Jayapura. Namun juga diduga di daerah lain. Menurutnya, kalau masih ada biaya perawatan untuk radar yang tidak beroperasi, masalahnya justru akan bertambah parah. (net)

Komentar