Rabu, 26 Juli 2017 - Pukul 11:48

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

inspirasi

Sebatang Kara Nenek Sani Pertahankan Hidup Jualan Gorengan Keliling

Oleh: Apip Samlawi - Senin 16 Mei 2016 | 13:12 WIB

Sebatang Kara Nenek Sani Pertahankan Hidup Jualan Gorengan Keliling

BC/Apip Samlawi

BERITACIANJUR.COM - Nenek Sani (71) warka Kampung  Doktormangku RT 02/06 Desa Hegarmanah, Bojongpicung, hidup sebatangkara mendiami rumah reyot ukuran 4x3 meter yang ditempelkan di belakang rumah milik orang lain.

 

Kondisi tubuh tua renta, pendengaran dan sorot matanya semakin berkurang, Nenek Sani tetap memiliki semangat hidup yang tinggi, hingga tiap hari rela menyelusuri lorong jalan gang untuk berjualan goreng-gorengan yang diambil dari tetangganya. 

 

Sementara itu, Nenek Sani saat ditanya BC di rumahnya menjelaskan, bahwa selama hidup berumah tangga dengan Almarhum udin suaminya tidak pernah memiliki kerurunan seorangpun dan tidak pernah memiliki rumah.

 

Menjalani hidup seorang diri dan menguhi rumah reyot sejak suaminya meninggal dunia tahun 2011 dan untuk mencari sesuap nasi, dirinya harus rela tiap hari mengelilingi kampung, menyelusuri lorong gang untuk berjualan goreng-gorengan milik orang lain.

 

Hasil kerja keras berjualan tiap sehari, ia hanya mendapat upah Rp.5-10 ribu, itupun bila jualannya laris manis dibeli orang. Uang upah hasil jualan tersebut hanya mampu untuk membeli minyak tanah untuk masak seharian, untuk membeli obat rematik dan encok.

 

Disaat bulan suci ramadhan nanti,  ia memilih diam di rumah  tidak akan  berjualan, karena penglihatan mata dan kondisi kakinya tidak memungkinkan untuk berjualan pada malam hari. Kalau untuk makan sehari hari, ia hanya menunggu belaskasihan orang lain," pada bulan ramadhan Nenek akan diam di rumah saja, karena untuk berjualan malam hari tidak mungkin, karena mata kurang melihat, telinga sudah kurang pendengarannya dan kaki sering sakit, kalau untuk makan sehari-hari menunggu dikasih tetangga saja," ucap Nenek Sani terlihat polos.

 

Dilain pihak salah seorang warga setempat Cece Ruhiyat  (32) menambahkan, memang benar adanya Nenek Sani hidupnya hanya seorang diri yang diam di rumah reyot ukuran 4x3 meter  yang ditempelkan di belang rumah milik orang lain.

 

Untuk makan setiap hari ia tiap hari berjualan goreng- gorengan keliling kesetiap kampung dan kadang mangkal berjualan di salah satu SD yang tak jauh dari rumahnya. Selama ini Nenek Sani tidak mendap bantuan apapun dari pihak pemerintah, seperti BLSM, Kartu kesehatan dan kartu bantuan lainnya.

 

Dengan itu, diharapkan pada pihak Pemerintah mohon bantuan untuk kelangsungan hidup Nenek Sani minimal untuk makan sehari-hari, ucapnya.     

Komentar