Selasa, 26 September 2017 - Pukul 01:46

Image
Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

healthy life

Sulit Memelihara Jantung? Ini Tipsnya

Oleh: Yadi Haryadi - Jumat 03 Juni 2016 | 11:36 WIB

Sulit Memelihara Jantung? Ini Tipsnya

net

BERITACIANJUR.COM - Kebiasaan masyarakat Indonesia pada umumnya adalah menyukai masakan yang memiliki rasa. Jika terasa hambar, tak sungkan untuk menambahkan garam atau penyedap dalam masakan yang disantapnya. Padahal, bila masakan itu hambar dan sedikit rasa, mampu mencegah kita terhindar dari penyakit hipertensi.

 

"Ketika ditanyakan pada orang tua yang terkena hipertensi bagaimana cara makan mereka, banyak yang menjawab lebih senang makan di luar rumah. Alasannya, masakan istri di rumah suka hambar dan tidak berasa. Sebenarnya, itu yang baik," kata Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Rumah Sakit Mayapada Jakarta, dr. Ika K Dhanudibroto, SpPJ,"

 

Memang, untuk terhindar dari penyakit mematikan  nomor 1 menurut WHO pada 2002 ini adalah dengan memeriksakan kadar garam dalam masakan yang disantap. Namun, kebiasaan masyarakat kita yang lebih senang makan di luar, membuatnya sulit untuk mengecek kadar garamnya. 

 

"Santap makanan chinnese food, yang banyak garam dan MSG-nya memang akan terasa nikmat. Susah juga kalau makan di luar mengecek-ngecek kadar garamnya. Yang penting `kan, bagi kita nikmat, enak, dan kenyang tanpa memikirkan efek baiknya," ucap Ika. 

 

Tidak hanya itu, ketika masak di rumah saja, sejumlah masyarakat kita lebih memilih untuk meracik makanan dalam kalengan yang mudah sekali untuk diolah. Ika menekankan, makanan kaleng itu tak kalah buruk tatkala kita menyantap masakan penuh garam dan MSG di luar rumah.

 

"Semua makanan yang awet lebih dari dua hari itu kandungan garamnya sangatlah tinggi. Kalau Anda ingat mengapa ikan asin bisa bertahan lama, itu semua kan karena ikan itu diasinin. Diasinin, tandanya menggunakan banyak garam," terangnya.

 

Sama halnya dengan manisan atau asinan yang kerap kita santap ketika berkunjung ke suatu daerah tertentu. Bila kebanyakan dalam mengonsumsinya, atau mungkin menjadi camilan wajib, ke depannya pun akan mengarah pada risiko terjadinya hipertensi. "Asinan dan manisan itu dikasih banyak garam dan gula, makanya tahan lama. Semua makanan yang mengandung garam, itu harus dihindari," ungkap Ika. 

 

Maka itu, Ika mengmbau pada semuanya agar membiasakan memasak sendiri makanan yang akan disantap. Selain tidak memakan biaya yang cukup mahal, kita pun tahu kesehatan dari masakan itu.

 

"Kalau mau makan di luar, bolehlah sesekali saja. Sebulan sekali atau paling aman 3 bulan sekali. Susah memang, tapi karena itu tidak dibiasakan," pungkasnya. 

 


Selain makanan, Data WHO tahun 2008 menunjukkan, setelah Tiongkok dan India, Indonesia menjadi negara dengan jumlah perokok terbanyak di dunia. Yang lebih mengkhawatirkan, lebih dari 40 juta anak Indonesia berusia 0-14 tahun tinggal dan menetap dengan perokok aktif, dan terpapar asap rokok di lingkungannya setiap hari.

 

Dari segi medis, anak yang terpapar asap rokok akan mengalami pertumbuhan paru yang lambat. Selain itu, peluang untuk terkena infeksi saluran pernapasan dan gangguan jantung juga sangat besar. (net/Yadi Haryadi)

Komentar