Kamis, 19 Oktober 2017 - Pukul 17:54

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

sosialita

Mengenal Bohemian; Urakan, Pengelana dan Avonturir

Oleh: Astri D. Andriani - Rabu 26 Agustus 2015 | 17:30 WIB

Mengenal Bohemian; Urakan, Pengelana dan Avonturir

net

BERITACIANJUR.COM - Urakan! – itu barangkali kata yang terlintas di benak kita saat diminta untuk menggambarkan stereotip seorang seniman. Bagi kebanyakan orang, kata seniman memang seringkali berkonotasi seperti itu: urakan – tidak mengikuti aturan dan bertingkah laku seenaknya.

 

Selain itu, mereka juga sering kali tergambarkan sebagai orang yang suka berkumpul dengan sesamanya (pemusik dengan pemusik, pelukis dengan pelukis, sastrawan dengan sastrawan), tidak menyukai ikatan dan pasungan aturan, suka berkelana, dan avonturir.

 

Tentu tidak semua seniman seperti itu. Namanya juga stereotip. Tapi kita pasti setuju bahwa seniman adalah orang yang kreatif. Kreativitas itulah yang membuat mereka mampu berkarya dan melihat sesuatu dengan cara yang berbeda dengan orang kebanyakan. Cara pandang yang berbeda inilah – barangkali – yang membuat mereka seringkali dianggap aneh – nyeleneh, tak lazim – sehingga bagi sebagian orang terlihat urakan.

 

Ideologi yang mendasari perilaku gaya hidup seorang seniman yang seperti itu dalam khazanah peristilahan disebut bohemianisme. Pelakunya – orangnya – dan sifatnya disebut bohemian.

 

Kata bohemian sendiri mulai muncul dan digunakan dalam bahasa Inggris pada abad ke-19 untuk menggambarkan gaya hidup yang nyeleneh di kalangan seniman, penulis, wartawan, aktor dan aktris miskin dan terpinggirkan yang hidup di kota-kota Eropa pada masa itu.

 

Manusia-manusia bohemian pada umumnya digambarkan sebagai orang-orang nyeleneh yang anti-kemapanan dalam pandangan sosial politiknya. Mereka hidup sangat sederhana, tidak terlalu acuh pada hak milik (mereka bersedia berbagai apapun yang mereka miliki), dan bebas ikatan – termasuk dalam hal hubungan cinta dan pernikahan.

 

Asal Usul

Bohemian pada mulanya sebenarnya adalah sebutan untuk orang-orang yang berasal dari daerah Bohemia, sebuah kawasan di Eropa Tengah yang sekarang kurang lebih mencakup wilayah Republik Cheko dan daerah-daerah di sekitarnya.

 

Pada abad ke-19, orang-orang Perancis menggunakan istilah Bohemian (orang-orang Bohemia) untuk menyebut para pengembara Gipsy yang berasal dari daerah Romania karena mereka menyangka bahwa mereka berasal dari Bohemia.

 

Istilah itu bisa berkonotasi positif atau negatif. Dalam pengertian positifnya, Bohemian bermakna orang-orang Gipsy yang mempunyai kemampuan bersastra (lisan) dan menguasai seni. Dalam pengertian negatif, Bohemian dikaitkan dengan orang-orang yang punya sifat leka (urakan, sembrono, abai) dalam hal kebersihan diri dan tak setia pada ikatan pernikahan.

 

Melalui praktik-praktik diskursif (meminjam istilah Foucault) yang berkelanjutan dari pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke-20, terbentuklah makna kultural kata bohemian seperti yang sekarang dipahami.

 

Sekali lagi, bohemian mengacu pada sifat atau karakteristik yang dimiliki seseorang, atau orang yang mempunyai sifat atau karakteristik seperti seorang bohemia. Sementara itu, bohemianisme adalah praktik gaya hidup yang bercirikan bohemian. (net)

Komentar