Jumat, 20 Oktober 2017 - Pukul 02:54

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

sosialita

Masyarakat Dihimbau untuk tidak Memberi Sumbangan Kepada Pengemis

Oleh: Susi Susilawati - Kamis 16 Juni 2016 | 09:00 WIB

Masyarakat Dihimbau untuk tidak Memberi Sumbangan Kepada Pengemis

BC/Susi Susilawati

BERITACIANJUR.COM - Masyarakat dihimbau untuk tidak memberi sumbangan kepada pengemis. Dinas Sosial, Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Cianjur belum memiliki payung hukum jika untuk melakukan pelarangan.

 

Menurut Kasi Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, Dinsosnakertrans Cianjur, Marjuki menjelaskan, selama ini larangan memberi pengemis sumbangan itu baru sekedar himbauan langsung dari Pemerintah Provinisi Jawa Barat. Pihaknya mendukung hal itu namun  jika dilarang hal itu belum cukup payung hukum yang mendasarinya.

 

Ia menambahkan, lebih banyak dampak negatif dari pada positifnya. Jika diberi uang hanya akan menumbuhkan sikap malas bekerja dan membuka kesempatan menjadi peminta-minta bagi gelandangan dan pengemis (Gepeng).

 

“Larangan tidak, kita hanya menghimbau dan mengingatkan masyarakat untuk tidak memberi uang kepada gepeng. Mungkin himbauan tersebut agar mendidik gepeng dibandingkan dengan memberi mereka uang,” ujar Marjuki saat ditemui diruang kerjanya kepada “BC”, Selasa, (15/6).

 

Bahkan, kini tengah diprogramkan setiap tahunya untuk melakukan pembinaan dengan tujuan mereka mampu bekerja sesuai dengan kemampuannya. Harapannya  mereka tidak terjun kembali sebagai gepeng yang mengharapkan belas kasihan orang lain

 

 “Justru yang terjadi sekarang ini dengan banyaknya masyarakat yang memberikan uang terhadap gepeng membuat pemikiran mereka tidak mau bekerja karena lebih mudah menjadi pengemis dalam satu hari bisa menghasilkan Rp.70 ribu hingga Rp. 300 ribu. Dibandingkan dengan bekerja mereka belum tentu sehari bisa menghasilkan segitu,” terangnya.

 

Sambung dia, dibandingkan dengan memberikan langsung kepada gepeng alangkah lebih baiknya bantuan materi tersebut disalurkan pada lembaga sosial agar lebih terarah dan mendidik. Misalnya saja ke Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), soalnya di bulan ramadhan seperti ini akan banyak gepeng yang bermunculan karena menunggu belas kasihan masyarakat yang melihatnya.

 

Ia menjelaskan, pihaknya tidak tinggal diam dengan banyaknya gepeng yang datang bukan hanya dari Cianjur melainkan dari berbagai daerah seperti Jakarta, Bandung, Bekasi dan lainnya. Selain berkoordinasi dengan instansi terkait berhubungan untuk  melakukan rajia. Selain itu juga pembinaan berupa bimbingan dan pelatihan kepada sejumlah gepeng yang tertangkap.

 

“Setiap tahunnya selalu mengadakan sosialisasi pembinaan yang dilakukan tiap malam dan siang, agar mereka mau direhabilitasi yang ada di Bekasi tepat rumah singgahnya,” terangnya.

 

Masih dikatakan Marjuki, tidak tanggung-tanggug gepeng yang mau direhabilitasi bisa mencapai enam keluarga dan selebihnya memilih untuk pulang ke tempat asalnya atau bahkan menghindari dari petugas. Pihaknya tidak memaksakan kehedak para gepeng karena sifatnya penertiban semata tidak ada tidak tegas sebagai sanksinya.

 

“Cianjur belum memiliki perda yang menguatkan seperti di daerah lainnya contohnya di Bandung itu sudah ada perdanya jadi kalau masyarakat memberikan uang kepada pengemis akan terkena sanksi denda dan disini itu belum ada, kalau pun ada itu sifatnya baru himbauan,” tuturnya.

 

Pihaknya mendorong Pemkab Cianjur untuk bisa membuat rumah singgah setelah itu bisa membuat payung hukumnya yang tertuang dalam sebuah perda. Sehingga kedepannya, dinas mampu membuat pendataan gepeng yang ada di Cianjur karena hal itu membutuhkan anggaran dalam pelaksanaannya. 

Komentar