Rabu, 28 Juni 2017 - Pukul 17:32

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

edukasi

Tantangan Wajar 12 Tahun di Daerah Terpencil

Oleh: Zulfah Robbania - Kamis 27 Agustus 2015 | 13:00 WIB

Tantangan Wajar 12 Tahun di Daerah Terpencil

net

BERITACIANJUR.COM – Tahun ini Indonesia pemerintah Indonesia telah meluncurkan Program Wajib Belajar (Wajar) 12 Tahun.Program ini diperuntukkan bagi seluruh generasi anak bangsa di seluruh Indonesia tanpa terkecuali.

 

Lead Advisor on Regional Programs and Basic Education, Education Sector Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP) Indonesia, Basilius Bengoteku mengatakan, untuk menerapkan Wajar 12 Tahun itu ternyata masih banyak tantangannya.

 

"Terutama di tingkatan sekolah dasar daerah pedesaan dan daerah terpencil," ujar pria yang biasa disapa Bas ini saat Diskusi Ahli dan Tukar Pendapat tentang Wajar 12 Tahun bertema 'Strategi Percepatan Pendidikan Dasar di Pedesaan dan Daerah Terpencil: Penggunaan Bahasa Ibu sebagai Bahasa Pengantar di Kelas-kelas Awal," di Kemendikbud, Jakarta, Rabu (26/8).

 

Menurut Bas, putus sekolah dan tidak mendaftar sekolah merupakan kendala utama untuk mencapai program itu. Karena itu, jutaan anak usia sekolah pun terpaksa tidak bersekolah. Ia mengungkapkan, terdapat banyak faktor yang mengakibatkan kondisi tersebut.

 

“Faktor terjadinya kondisi demikian karena banyak anak yang berada dalam lingkungan kemiskinan.Jauhnya jarak sekolah dengan tempat tinggal juga menyebabkan situasi itu terjadi,” paparnya.

 

Selain itu, rendahnya kualitas pendidikan anak juga menjadi salah satu faktor penyebabnya.Oleh sebab itu, pihak manapun seringkali menemukan anak-anak di daerah tersebut yang tidak bersekolah.

 

“Kondisi guru juga menjadi salah satu penyebabnya.Karena, guru-guru di daerah cenderung lebih kurang pendidikan.Misal, mereka hanya berpendidikan SMA,” ungkapnya.

 

Kemudian, Bas juga menerangkan, banyak sekolah di daerah yang mengalami kekurangan sumber daya.Ia menegaskan, kekurangannya lebih parah dibandingkan di perkotaan. Menurutnya, hal ini terungkap pada penilaian pembelajarannya yang relatif buruk.Misal, lanjut dia, penilaian membaca di kelas-kelas awal. (net)

Komentar