Senin, 23 Oktober 2017 - Pukul 03:48

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

aktualita

Kering Kian Parah! Warga Rebutan Air, Ratusan Hektar Sawah Puso

Oleh: Asri Fatimah - Selasa 28 Juli 2015 | 18:40 WIB

Kering Kian Parah! Warga Rebutan Air, Ratusan Hektar Sawah Puso

foto:internet

BC.COM-CIANJUR. Dampak kekeringan yang terjadi akibat kemarau panjang tahun ini, kian bertambah parah. Akibat minimnya cadangan air yang bisa dimanfaatkan, di lapngan warga acap kali rebutan dan terlibat cekcok mulut. Bahkan, ratusan hektar sawah mengalami gagal panen alias puso.

 

Kian parahnya dampak kekeringan ini antara lain dirasakan warga beberapa desa di Kecamatan Sukaresmi. Akibat menurunnya cadangan air hingga titik terendah, warga sering kali terlibat aksi rebutan air dan ratusan hektar sawah mengalami puso, hingga petani dibuatnya bingungan untuk dapat mengamankan kebutuhan hidup keluarganya. 

 

"Saat ini cadangan air yang dapat dimanfaatkan memang sudah mulai berkurang. Ini terjadi menyusul kemarau yang sudah berjalan selama tigabulan. Akibatnya, untuk mengairi sawah warga terpaksa harus rebutan. Belum lagi air dari selokan untuk sawah kadang juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup rumah tangga warga, " Ujar Ujang (50), salah seoarang petani asal Desa Ciwalen,Kecamatan Sukaresmi.

 

Ini terjadi, lanjut Ujang, karena para petani tak ingin mengalami gagal panen. Terlebih tanda- tanda gagal panen ini sudah mulai dirasakan mereka sejalan dengan kurangnya pasokan air, ditambah kekeringan yang sudah terjadi di beberapa daerah lainnya.

 

" Akibat kekurangan air, air yang ada terpaksa harus dibagi-bagi untuk ratusan petak sawah. Karena air yang ada sangat minim, tanaman padi yang saat ini baru berumur satu bulan, pertumbuhan kurang maksimal. Jika debit air terus berkurang, bisa-bisa padinya mati dan gagal panen," ungkapnya.

 

Menurut Ujang, di lingkungan tempat tinggalnya terdapat puluhan hektar sawah yang setiap harinya terpaksa hanya bisa diairi secara bergiliran. Teknisnya, dibagi-bagi per selang satu hari. Namun dalam praktiknya cara itu bukan sulusi yang tepat, karena tetap saja pertumbuhan padi menjadi kurang baik.

 

Hal senada dikatakan Ketua Gapoktan Desa Pakuon, Muhammad Damim. Akibat kemarau panjang beragam jenis komoditi tanaman di desanya terpaksa harus rela berbagai kesempatan mengairi lahan miliknyauntuk menghindari gagal panen.

 

"Tujuannya untuk menghindari gagal panen. Kita ingin menyelamatkan semua tanaman yang dibudidayakan para petani, baik berupa bunga, sayuran maupun padi," terang Damim, kemarin (28/7).

 

Ditemui terpidah, Sekretaris Desa Pakuon, Iim Abdul Karim mengungkapkan, akibat berkurangnya cadangan air, dari total 598 hektare lahan pertanian yang ada, seluas 150 hektarenya mulai tak produtif.

 

“ Saat ini sudah 150 hektar perkebunan yang ada di desa pakuon tak lagi produktif. Seperti di perkebunan di tanah tegalan, karena tidak memungkinkan dapat tetap ditanami," katanya.

 

Masalah serupa juga terjadi di Desa Kubang, Cikanyere, Sukamahi, dan Rawabelut, Kecamatan Sukaresmi. Akibat kian bertambah parahnya kekeringan, padi yang baru berumur  dua bulan sudah mulai layu dan mati karena kekurangan air. Bahkan padi yang sudah berumur tiga bulan dan siap dipanen,  dipastikan gagal panen akibat kekeringan.

 

"Tanaman padi yang dipastikan mengalami puso di Kecamatan Sukaresmi sekitar 168 hektare dan yang terancam kekeringan dan memgalami puso sekitar 151 hektar," jelas Kabag TU BP3K Kecamatan Sukaresmi, Tohorin, Selasa (28/7).

 

Tanaman padi yang saat ini mengalami kekeringan, lanjut Tohirin, dipastikan akan mengalami puso. Sekalipun ada hujan, tanaman yang saat ini sudah mengalami kekeringan tidak akan bisa tertolong lagi.

 

"Dipastikan, segimana derasnya hujan, tanaman padi yang sudah mulai mengering tidak akan dapat dipanen akhir bulan ini," katanya.

 

Ini terjadi, selain akibat musim kemarau, juga karena sawah tersebut ditanam di lahan tadah hujan, sehingga saat kemarau dipastikan akan kekeringan, Makaitu, sebaiknya saat akan memasuki musim kemarau petani tak lagi menanam padi.

 

"Sebaiknya di musim tanam pada bulan April, meskipun masih ada hujan, ditanah tadah hujan, lebih baik petani tak lagi menanam padi. Pasalnya bulan berikutnya merupakan mulai kemarau," pungkasnya

 

Terpisah, Solehudi, salah seorang Petani, mengaku pasrah dengan kondisi kekeringan yang dialaminya. Memang akibatnya sangat merugikan, tapi untuk menyasatinya sepertinya sulit dicari jalan keluarnya.

 

" Saya pasrah saja, musim kemarau ini saya sama sekali tidak bisa panen. Dikira akhir bulan ini saya bisa panen, tetapi ternyata saya gagal panen karena kekeringan," keluhnya. (Asri Fatimah)

Komentar