Minggu, 22 April 2018 | Cianjur, Indonesia

Kering Kian Parah! Warga Rebutan Air, Ratusan Hektar Sawah Puso

Asri Fatimah

Selasa, 28 Juli 2015 - 18:40 WIB

foto:internet
foto:internet
A A A

BC.COM-CIANJUR. Dampak kekeringan yang terjadi akibat kemarau panjang tahun ini, kian bertambah parah. Akibat minimnya cadangan air yang bisa dimanfaatkan, di lapngan warga acap kali rebutan dan terlibat cekcok mulut. Bahkan, ratusan hektar sawah mengalami gagal panen alias puso.

Kian parahnya dampak kekeringan ini antara lain dirasakan warga beberapa desa di Kecamatan Sukaresmi. Akibat menurunnya cadangan air hingga titik terendah, warga sering kali terlibat aksi rebutan air dan ratusan hektar sawah mengalami puso, hingga petani dibuatnya bingungan untuk dapat mengamankan kebutuhan hidup keluarganya. 

"Saat ini cadangan air yang dapat dimanfaatkan memang sudah mulai berkurang. Ini terjadi menyusul kemarau yang sudah berjalan selama tigabulan. Akibatnya, untuk mengairi sawah warga terpaksa harus rebutan. Belum lagi air dari selokan untuk sawah kadang juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup rumah tangga warga, " Ujar Ujang (50), salah seoarang petani asal Desa Ciwalen,Kecamatan Sukaresmi.

Ini terjadi, lanjut Ujang, karena para petani tak ingin mengalami gagal panen. Terlebih tanda- tanda gagal panen ini sudah mulai dirasakan mereka sejalan dengan kurangnya pasokan air, ditambah kekeringan yang sudah terjadi di beberapa daerah lainnya.

" Akibat kekurangan air, air yang ada terpaksa harus dibagi-bagi untuk ratusan petak sawah. Karena air yang ada sangat minim, tanaman padi yang saat ini baru berumur satu bulan, pertumbuhan kurang maksimal. Jika debit air terus berkurang, bisa-bisa padinya mati dan gagal panen," ungkapnya.

Menurut Ujang, di lingkungan tempat tinggalnya terdapat puluhan hektar sawah yang setiap harinya terpaksa hanya bisa diairi secara bergiliran. Teknisnya, dibagi-bagi per selang satu hari. Namun dalam praktiknya cara itu bukan sulusi yang tepat, karena tetap saja pertumbuhan padi menjadi kurang baik.

Hal senada dikatakan Ketua Gapoktan Desa Pakuon, Muhammad Damim. Akibat kemarau panjang beragam jenis komoditi tanaman di desanya terpaksa harus rela berbagai kesempatan mengairi lahan miliknyauntuk menghindari gagal panen.

"Tujuannya untuk menghindari gagal panen. Kita ingin menyelamatkan semua tanaman yang dibudidayakan para petani, baik berupa bunga, sayuran maupun padi," terang Damim, kemarin (28/7).

Ditemui terpidah, Sekretaris Desa Pakuon, Iim Abdul Karim mengungkapkan, akibat berkurangnya cadangan air, dari total 598 hektare lahan pertanian yang ada, seluas 150 hektarenya mulai tak produtif.

“ Saat ini sudah 150 hektar perkebunan yang ada di desa pakuon tak lagi produktif. Seperti di perkebunan di tanah tegalan, karena tidak memungkinkan dapat tetap ditanami," katanya.

Masalah serupa juga terjadi di Desa Kubang, Cikanyere, Sukamahi, dan Rawabelut, Kecamatan Sukaresmi. Akibat kian bertambah parahnya kekeringan, padi yang baru berumur  dua bulan sudah mulai layu dan mati karena kekurangan air. Bahkan padi yang sudah berumur tiga bulan dan siap dipanen,  dipastikan gagal panen akibat kekeringan.

"Tanaman padi yang dipastikan mengalami puso di Kecamatan Sukaresmi sekitar 168 hektare dan yang terancam kekeringan dan memgalami puso sekitar 151 hektar," jelas Kabag TU BP3K Kecamatan Sukaresmi, Tohorin, Selasa (28/7).

Tanaman padi yang saat ini mengalami kekeringan, lanjut Tohirin, dipastikan akan mengalami puso. Sekalipun ada hujan, tanaman yang saat ini sudah mengalami kekeringan tidak akan bisa tertolong lagi.

"Dipastikan, segimana derasnya hujan, tanaman padi yang sudah mulai mengering tidak akan dapat dipanen akhir bulan ini," katanya.

Ini terjadi, selain akibat musim kemarau, juga karena sawah tersebut ditanam di lahan tadah hujan, sehingga saat kemarau dipastikan akan kekeringan, Makaitu, sebaiknya saat akan memasuki musim kemarau petani tak lagi menanam padi.

"Sebaiknya di musim tanam pada bulan April, meskipun masih ada hujan, ditanah tadah hujan, lebih baik petani tak lagi menanam padi. Pasalnya bulan berikutnya merupakan mulai kemarau," pungkasnya

Terpisah, Solehudi, salah seorang Petani, mengaku pasrah dengan kondisi kekeringan yang dialaminya. Memang akibatnya sangat merugikan, tapi untuk menyasatinya sepertinya sulit dicari jalan keluarnya.

" Saya pasrah saja, musim kemarau ini saya sama sekali tidak bisa panen. Dikira akhir bulan ini saya bisa panen, tetapi ternyata saya gagal panen karena kekeringan," keluhnya. (Asri Fatimah)

Komentar Berita

Berita Lainnya

Cianjur Euy 40 menit yang lalu

Mutia, Gadis Cilik Asal Cidaun Berprestasi di Seni Membaca Dongeng Sunda

TINGGAL dan mengenyam pendidikan di wilayah yang jauh dari pusat ibu kota kabupaten, tak menjadikan halangan bagi Mutia Karin, siswa kelas IV SD Negeri Puncak Lawang, Kecamatan Cidaun untuk berkarya dan…

Cianjur Euy 1 jam yang lalu

Dishub Cianjur Akan Rubah Sistem Tarif Angkum

DINAS Perhubungan (Dishub) Kabupaten Cianjur berencana merubah sistem tarif angkutan umum (Angkum). Kebijakan rencana itu untuk menyesuaikan kondisi angkum pasca perubahan trayek beberapa waktu lalu.

Cianjur Euy 1 jam yang lalu

Positif Amfetamin, Dua Remaja Perempuan Diamankan

DUA orang pengunjung tempat hiburan di Cianjur diamankan petugas gabungan dalam razia cipta kondisi (Cipkon) yang digelar Sabtu (21/4/2018) hingga Minggu (22/4/2018) dini hari.

Cianjur Euy 20/04/2018 21:59 WIB

Dua Polwan Polres Cianjur Ikuti Kartini Run 2018

DUA Polisi Wanita (Polwan) Polres Cianjur akan memeriahkan lomba lari bertajuk Kartini Run 2018 yang akan digelar di Kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Minggu (22/4/2018).

Cianjur Euy 19/04/2018 21:53 WIB

Hari Kartini, Polwan Polres Cianjur Gelar Pengobatan dan Makan Gratis

LIMA ratusan orang dari sejumlah wilayah di Cianjur mengikuti pengobatan gratis di lingkungan Pasar Induk Pasirhayam, Sirnagalih, Cilaku, Kamis (19/4/2018) pagi.

Cianjur Euy 19/04/2018 21:53 WIB

Pengendara Opang Desak Hapus Angkutan Berbasis Online

RIBUAN pengendara ojek pangkalan (Opang) dan angkutan umum (Angkum) di Cianjur menggelar aksi unjukrasa di Gedung DPRD Kabupaten Cianjur, Kamis (19/4/2018).

Cianjur Euy 19/04/2018 21:52 WIB

Prediksi Harga Beras Jelang Ramadan tak Melonjak

SEJUMLAH pedagang komoditas beras di Pasar Induk Pasirhayam, Sirnagalih, Cilaku memprediksi untuk harga beras tidak akan mengalami lonjakan menjelang Ramadan 1438 Hijriah mendatang.

Cianjur Euy 18/04/2018 21:55 WIB

Polwan Polres Cianjur Berikan Bantuan Bagi Adah

MEMPERINGATI Hari Kartini 2018 jajaran Polisi Wanita (Polwan) Polres Cianjur menggelar sejumlah kegiatan sosial, di antaranya dengan menyambangi kediaman Adah, warga Kampung Mayak Empang RT 01/04, Desa…

Cianjur Euy 18/04/2018 21:55 WIB

Polres Cianjur Ciduk Tujuh Pelaku Kejahatan

KEPOLISIAN Resor (Polres) Cianjur menciduk tujuh orang pelaku kejahatan yang biasa menjalankan aksinya di wilayah hukum Cianjur. Penangkapan ketujuh pelaku itu dilakukan dalam waktu dan tempat berbeda.

Aktualita 18/04/2018 08:10 WIB

Desak Pemkab Tanggung Jawab, Garis Sebar Spanduk Banjir

BANJIR belum pernah terjadi sebelumnya di Cianjur. Masihkah kita bangga dengan dosa-dosa? Itulah tulisan dalam spanduk yang dipasang Gerakan Reformis Islam (Garis) di sejumlah lokasi banjir di kawasan…