Rabu, 24 Januari 2018 | Cianjur, Indonesia

Kering Kian Parah! Warga Rebutan Air, Ratusan Hektar Sawah Puso

Asri Fatimah

Selasa, 28 Juli 2015 - 18:40 WIB

foto:internet
foto:internet
A A A

BC.COM-CIANJUR. Dampak kekeringan yang terjadi akibat kemarau panjang tahun ini, kian bertambah parah. Akibat minimnya cadangan air yang bisa dimanfaatkan, di lapngan warga acap kali rebutan dan terlibat cekcok mulut. Bahkan, ratusan hektar sawah mengalami gagal panen alias puso.

Kian parahnya dampak kekeringan ini antara lain dirasakan warga beberapa desa di Kecamatan Sukaresmi. Akibat menurunnya cadangan air hingga titik terendah, warga sering kali terlibat aksi rebutan air dan ratusan hektar sawah mengalami puso, hingga petani dibuatnya bingungan untuk dapat mengamankan kebutuhan hidup keluarganya. 

"Saat ini cadangan air yang dapat dimanfaatkan memang sudah mulai berkurang. Ini terjadi menyusul kemarau yang sudah berjalan selama tigabulan. Akibatnya, untuk mengairi sawah warga terpaksa harus rebutan. Belum lagi air dari selokan untuk sawah kadang juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup rumah tangga warga, " Ujar Ujang (50), salah seoarang petani asal Desa Ciwalen,Kecamatan Sukaresmi.

Ini terjadi, lanjut Ujang, karena para petani tak ingin mengalami gagal panen. Terlebih tanda- tanda gagal panen ini sudah mulai dirasakan mereka sejalan dengan kurangnya pasokan air, ditambah kekeringan yang sudah terjadi di beberapa daerah lainnya.

" Akibat kekurangan air, air yang ada terpaksa harus dibagi-bagi untuk ratusan petak sawah. Karena air yang ada sangat minim, tanaman padi yang saat ini baru berumur satu bulan, pertumbuhan kurang maksimal. Jika debit air terus berkurang, bisa-bisa padinya mati dan gagal panen," ungkapnya.

Menurut Ujang, di lingkungan tempat tinggalnya terdapat puluhan hektar sawah yang setiap harinya terpaksa hanya bisa diairi secara bergiliran. Teknisnya, dibagi-bagi per selang satu hari. Namun dalam praktiknya cara itu bukan sulusi yang tepat, karena tetap saja pertumbuhan padi menjadi kurang baik.

Hal senada dikatakan Ketua Gapoktan Desa Pakuon, Muhammad Damim. Akibat kemarau panjang beragam jenis komoditi tanaman di desanya terpaksa harus rela berbagai kesempatan mengairi lahan miliknyauntuk menghindari gagal panen.

"Tujuannya untuk menghindari gagal panen. Kita ingin menyelamatkan semua tanaman yang dibudidayakan para petani, baik berupa bunga, sayuran maupun padi," terang Damim, kemarin (28/7).

Ditemui terpidah, Sekretaris Desa Pakuon, Iim Abdul Karim mengungkapkan, akibat berkurangnya cadangan air, dari total 598 hektare lahan pertanian yang ada, seluas 150 hektarenya mulai tak produtif.

“ Saat ini sudah 150 hektar perkebunan yang ada di desa pakuon tak lagi produktif. Seperti di perkebunan di tanah tegalan, karena tidak memungkinkan dapat tetap ditanami," katanya.

Masalah serupa juga terjadi di Desa Kubang, Cikanyere, Sukamahi, dan Rawabelut, Kecamatan Sukaresmi. Akibat kian bertambah parahnya kekeringan, padi yang baru berumur  dua bulan sudah mulai layu dan mati karena kekurangan air. Bahkan padi yang sudah berumur tiga bulan dan siap dipanen,  dipastikan gagal panen akibat kekeringan.

"Tanaman padi yang dipastikan mengalami puso di Kecamatan Sukaresmi sekitar 168 hektare dan yang terancam kekeringan dan memgalami puso sekitar 151 hektar," jelas Kabag TU BP3K Kecamatan Sukaresmi, Tohorin, Selasa (28/7).

Tanaman padi yang saat ini mengalami kekeringan, lanjut Tohirin, dipastikan akan mengalami puso. Sekalipun ada hujan, tanaman yang saat ini sudah mengalami kekeringan tidak akan bisa tertolong lagi.

"Dipastikan, segimana derasnya hujan, tanaman padi yang sudah mulai mengering tidak akan dapat dipanen akhir bulan ini," katanya.

Ini terjadi, selain akibat musim kemarau, juga karena sawah tersebut ditanam di lahan tadah hujan, sehingga saat kemarau dipastikan akan kekeringan, Makaitu, sebaiknya saat akan memasuki musim kemarau petani tak lagi menanam padi.

"Sebaiknya di musim tanam pada bulan April, meskipun masih ada hujan, ditanah tadah hujan, lebih baik petani tak lagi menanam padi. Pasalnya bulan berikutnya merupakan mulai kemarau," pungkasnya

Terpisah, Solehudi, salah seorang Petani, mengaku pasrah dengan kondisi kekeringan yang dialaminya. Memang akibatnya sangat merugikan, tapi untuk menyasatinya sepertinya sulit dicari jalan keluarnya.

" Saya pasrah saja, musim kemarau ini saya sama sekali tidak bisa panen. Dikira akhir bulan ini saya bisa panen, tetapi ternyata saya gagal panen karena kekeringan," keluhnya. (Asri Fatimah)

Komentar Berita

Berita Lainnya

Cianjur Euy 12 jam yang lalu

Polres Waspadai Wilayah Pesisir Pantai Selatan Cianjur

KEPOLISIAN Resor (Polres) Cianjur mewaspadai wilayah pesisir pantai selatan dijadikan akses masuknya narkoba dari jalur laut ke wilayah hukum Cianjur. Peningkatan kewaspadaan itu, dilakukan karena wilayah…

Cianjur Euy 12 jam yang lalu

Personel Polres Latihan Peningkatan Kemampuan

SERATUSAN personel pengendali massa (Dalmas) Sat Sabhara Polres Cianjur melakukan latihan peningkatan kemampuan dalam rangka menghadapi pelaksanaan Pilkada yang akan digelar serentak bulan Juni mendatang.

Cianjur Euy 12 jam yang lalu

Antisipasi Penyebaran Difteri, Dinkes Lakukan Vaksinasi

DINAS Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cianjur melakukan imunisasi dan pemberian vaksin kepada masyarakat di sejumlah wilayah rawan kasus difteri.Namun, keterbatasan vaksin membuat petugas hanya melakukan…

Cianjur Euy 22/01/2018 21:29 WIB

Cuaca Buruk, Masyarakat Agar Waspada

MASYARAKAT Kabupaten Cianjur diimbau untuk mewaspadai bencana akibat cuaca buruk yang dalam beberapa pekan terakhir melanda Tatar Santri.

Cianjur Euy 22/01/2018 21:25 WIB

Disdukcapil Siap Launching Lima Cabang Layanan

DINAS Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Cianjur membuka cabang layanan administrasi kependudukan di lima kecamatan. Tak hanya proses perekaman, pencetakan KTP el pun dapat dilaksanakan…

Cianjur Euy 22/01/2018 20:57 WIB

Tolak Alihfungsi dan Pembongkaran Bujensa

AKSI penolakan terkait alihfungsi dan pembongkaran eks Gedung SDN Ibu Jenab 1 (Bujensa, red) terus disuarakan berbagai kalangan. Bahkan, aktivis di Cianjur akan menggugat Pemerintah Kabupaten (Pemkab)…

Cianjur Euy 21/01/2018 22:37 WIB

Sampah Berserakan di Area Asamul Husna

PEDAGANG yang biasa mangkal di sekitar area Taman Asmaul Husna, Kampung Panaruban, Desa/Kecamatan Haurwangi belum sepenuhnya sadar akan pentingnya kebersihan lingkungan.

Cianjur Euy 21/01/2018 22:36 WIB

Akhirnya Keluarga Otim Punya Rumah Baru

RAUT wajah Otim (47) tampak berseri seri dipenuhi kebahagian. Bagaimana tidak bahagia, Minggu (21/1) dirinya bisa bertemu langsung dengan Dedi Mulyadi, Calon Wakil Gubernur Jabar.

Cianjur Euy 21/01/2018 22:35 WIB

Kepengurusan Kampung KUBA Dibentuk

PROGRAM Kampung Utama Berakhlakul Karimah (KUBA) mulai dibumikan di seluruh wilayah Kabupaten Cianjur. Mensukseskan program yang digagas Bupati Cianjur itu, kepengurusan Kampung KUBA mulai dibentuk di…

Bisnis Line 21/01/2018 22:28 WIB

Gurihnya Sensasi Soto Bogor Siliwangi Bikin Nagih

SIAPA yang tak suka dengan gurihnya sajian kuah soto hangat? Selain memiliki cita rasa rempah yang kuat, irisan daging yang dipotong dadu, taburan bawang goreng, kacang kedelai, dan tomat segar terasa…