Rabu, 26 Juli 2017 - Pukul 11:40

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

inspirasi

Tingginya Pekerja Perempuan, Berdampak Pada Kehidupan Sosial

Oleh: Putra Lugina Sukma - Rabu 10 Agustus 2016 | 10:00 WIB

Tingginya Pekerja Perempuan, Berdampak Pada Kehidupan Sosial

Ketua Komnas Perlindungan Anak (KPA), Seto Mulyadi

BERITACIANJUR.COM - Tingginya angka pekerja wanita di Indonesia justru membuat Komisi Perlindungan Anak (KPA) merasa khawatir. Pasalnya, hal itu bisa berdampak langsung terhadap tumbuh kembang anak dan kebiasaan barunya.

 

Ketua KPA Seto Mulyadi mengatakan, saat ini jumlah pekerja wanita meningkat hingga 65 persen dalam kurun waktu tiga tahun terakhir setelah berkembangnya perindustrian di semua daerah. Hal tersebut tentu berdampak jelas bagi kehidupan sosial termasuk terhadap wanita yang sudah memiliki anak.

 

"Dengan meningkatnya jumlah pekerja wanita, itu justru menimbulkan perubahan sosial. Coba bayangkan, di setiap satu perusahaan itu ada banyak kebiasaan yang di bawa dari tempat mereka masing-masing orang. Biasanya, setelah berkumpul, lebih terbawa kebiasaan orang yang kuat apalagi ke hal negatif," papar pria yang akrab disapa Kak Seto saat ditemui disela kegiatan di Cianjur, Selasa (9/8/2016).

 

Menurut Kak Seto, seiring dengan kebiasaan berprilaku setiap hari dalam menjalani rutinitas pekerjaan, ditambah jam kerja lebih banyak ketimbang jam keluarga, tentu akan berdampak negatif terhadap sosialisasi lingkungan rumah. Bahkan, tak sedikit yang membuat pasangan istri akhirnya nakal (selingkuh) dengan sesama pekerja dilingkungan perusahaan.

 

"Begini, kan kita itu banyak berinteraksi di siang hari. Sedangkan, siang hari kita dihabiskan dengan pekerjaan. Nah, di jam-jam ini kita rawan sekali adanya pemicu sosial khususnya bagi pasangan yang sudah menikah dan punya anak," ungkapnya.

 

Dengan adanya disfungsi sosial yang dibawa dari tempat kerja ke dalam rumah, kata Seto Mulyadi, hal itu akan mengubah suasana rumah terlihat hambar dengan mood pekerjaan yang di bawa kerumah. Dampaknya, anak menjadi tidak ter-urus dan sering gampang marah kepada anak bila membuat sedikit kesal.
 

"Tidak semua orang tua bisa mengatasi ini, mood negatif yang dibawa dari kantor ke rumah justru akan membuat suasan rumah tidak nyaman. Anak bikin kesal saja sedikit, dia akan dimarah-marahi. Padahal, tak banyak waktu untuk kita mengasuh anak. Dampaknya, anak akan menjadi pemarah dan pendendam ketika beranjak dewasa," ungkapnya.
 

Untuk mengatasi hal ini, sambung dia, wanita yang ingin bekerja, lebih baik agar membuka usaha sendiri di dalam rumah atau pekerjaan yang rutinitas mengurus keluarganya lebih besar ketimbang rutinitas bekerja. Sehingga, kehidupan keluarga pun lebih sehat dan ter-urus.
 

"Wanita sebaiknya mencari kegiatan usaha yang tidak menyita waktu, yang tetap menjalani kodratnya sebagai ibu atau istri di dalam rumah. Dengan begitu, keluarga pun akan lebih sehat, dan psikologis bagi anak pun jadi lebih baik," tandasnya. (nuk)

Komentar