Rabu, 18 Oktober 2017 - Pukul 10:44

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

sosialita

Ritual Jelang Pembersihan Bendungan Cisuru

Oleh: Putra Lugina Sukma - Rabu 24 Agustus 2016 | 18:00 WIB

Ritual Jelang Pembersihan Bendungan Cisuru

Net/Ilustrasi

BERITACIANJUR.COM - Pembersihan bendungan Cisuru yang berada di Kecamatan Bojongpicung, recananya akan mulai dilakukan pada mulai 15 September mendatang. Namun, ada yang unik sebelum proses normalisasi ini dimulai dengan melakukan ritual.

 

Prosesi rutual ini, sudah bertahun-tahun dilakukan warga pasca normalisasi bendungan. Bahkan mitosnya, ritual ini dilakukan sebagai rasa syukur warga terhadap keberadaan bendungan yang sudah mengairi 5480 hektar sawah di tiga kecamatan, yakni Bojongpicung, Ciranjang dan Haurwangi.

 

Kasi Budidaya Tanaman Pangan, DPTPH Cianjur, Dandan Hendaryan mengatakan, jika mulai 15 September mendatang, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur akan melakukan penutupan bendungan Cisuru. Hal itu dilakukan untuk normalisasi lahan air dengan melakukan pengerukan tanah dan pembersihan.

 

"Semua OPD terkait turun untuk melakukan normalisasi ini, bahkan pemprov dan kodim pun biasanya ikut melakukan simbolis," katanya. 

 

Diakui dia, dalam prosesi pengerukan bendungan. Biasanya masyarakat dan tokoh yang berada di wilayah tersebut sering melakukan kegiatan malam ritual. Salah satunya dengan melakukan penyembelihan kambing dan sesajen.

 

"Sudah bertahun-tahun ketika normalisasi selalu dihiasi ritual seperti itu. Saya pun kurang tahu apa tujuannya. Hanya saja, itu sudah dipercayai sebagai proses alam oleh warga disana," jelasnya.

 

Dia menjelaskan, jika kepercayaan warga disana mengenai mitos adanya penunggu dibendungan tersebut sangat melekat. Sehingga, pemerintah tidak bisa ikut campur lebih dalam ketika masyarakat disana sudah mempercayai mitos tersebut.

 

"Kita yang ikuti saja prosesnya sesuai dengan keinginan warga sana. Saya juga belum tahu apa yang diceritakan itu benar atau tidak," imbuhnya.

 

Dijelaskan dia, jika bangunan bendungan tersebut sudah berdiri sejak tahun 1879 saat pemerintahan Belanda hadir di Cianjur. Bahkan, sekitar tahun 2000 Pemkab Cianjur pernah sengaja memugar bangunan namun kembali jebol.

 

"Bangunan baru dipugar tahun 2000 namun jebol kembali. Saya tidak tahu, bangunan bekas belanda itu sangat kokoh sekali, berbeda dengan sekarang. Padahal material yang digunakannya pun lebih canggih sekarang," jelasnya.

 

Untuk itu, dia berharap, proses normalisasi yang rencananya bakal digelar bulan depan ini bisa berjalan sebaik mungkin. 

 

"Saya harap, wacana dan cerita tentang bendungan tersebut tidak benar. Tapi yang kita ikuti saja prosesnya sebaik mungkin. Itu kan tergantung persepsi masing-masing," tandasnya (ree)

Komentar