Jumat, 26 Mei 2017 - Pukul 03:03

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

inspirasi

Berawal dari Iseng, Kini Lampion Buatannya Tembus ke Berbagai Kota

Oleh: Apip Samlawi - Kamis 01 September 2016 | 12:00 WIB

Berawal dari Iseng, Kini Lampion Buatannya Tembus ke Berbagai Kota

BC/Apip Samlawi

BERITACIANJUR.COM - Lampu lampion berbahan dasar benang jahit hasil produksi rumahan, kini laris dibeli banyak pemesan dari berbagai kota luar Kabupaten Cianjur. Di antaranya dari Kota Palembang, Jabodetabek, dan kota-kota lainnya.

 

Sehingga, Ahmad Guntara (29), selaku pengrajin lampu lampion asal Kampung Cibogo 3 RT 3 RW 6, Desa Mekargalih, Kecamatan Ciranjang ini sekarang kebanjiran pesanan.

 

"Tiap bulannya mampu memproduksi hingga sebanyak seribu buah lampu, dengan dihargai senilai Rp60 ribu sampai Rp85 ribu per buahnya," ujar Ahmad sewaktu ditemui di sela kesibukannya kemarin.

 

Lampu lampion sebanyak itu, menurutnya, dikerjakan oleh sebanyak 28 orang warga kampung setempat dan kalau orderannya semakin banyak maka akan merekrut lagi para pekerja, supaya tercapai target.

 

"Membuat lampu lampion dari benang jahit ini mulanya hanya iseng saja, dibuat untuk pribadi di kamar tidur. Namun, setelah banyak yang melihat dan memesan untuk dibuatkan, akhirnya sekitar tahun 2013, lampu lampion berbahan dasar benang jahit ini diproduksi secara serius dan dipasarkan melalui online," tuturnya.

 

Setelah dipasarkan via online, dirinya pun mengaku bersukur, karena tiap hari banyak yang memesan baik untuk dipergunakan sendiri maupun buat dipasarkan di toko, pasar, dan di tempat-tempat lainnya.

 

"Seperti sekarang yang paling banyak membeli lampu lampion itu para pedagang dari Palembang, pemilik toko di Jabodetabek juga merupakan ranking kedua pemesan lampu lampion, dan Kota Bandung, Cianjur, serta Sukabumi hanya perorangan saja, bukan untuk dijual kembali," bebernya.

 

Sementara itu, Yuliawati (23), salah seorang pekerja pembuat lampu lampion menambahkan, sebagai pegawai yang tidak terikat waktu, dirinya merasa bersyukur, karena tiap bulan bisa mendapatkan upah kerja meski dengan nilai tidak menentu. Namun dirinya bisa meringankan beban hidup keluarga, karena tidak minta jajan sama orang tua.

 

"Karena sistem pembayarannya dilakukan dengan banyak tidaknya hasil produksi, kalau banyak yang diproduksi tentu saja upahnya juga besar pula,” imbuhnya. (rus)

Komentar