Senin, 23 Oktober 2017 - Pukul 07:37

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

inspirasi

Saya Jatuh Cinta Budaya Sunda

Oleh: Mikihiro Moriyama - Sabtu 25 Juli 2015 | 10:06 WIB

Saya Jatuh Cinta Budaya Sunda

foto:internet

Saya amat terkesan atas sikap konsisten dan kebanggaan Pak Ajip dalam menggunakan bahasa Sunda meskipun di mancanegara. Pada pandangan pertama pun itulah saya jatuh cinta dengan budaya sunda.

 

Saya datang ke Indonesia pertama kali tahun 1980 selama 1 bulan, tahun 1982-1984 belajar di Unpad Bandung, kemudian memperdalam seni Sunda seperti: maenpo, pupuh, cianjuran, kecapi, dan lain-lain di Cikalongkulon Cianjur tahun 1984. 

 

Untuk memperdalam bahasa Sunda tanpa banyak terkontaminasi bahasa gaul atau campuran dengan bahasa Indonesia, saya sengaja memilih tinggal dalam lingkungan masyarakat tradisional  di pelosok Wanayasa Purwakarta, di mana saat itu penerangannya pun masih menggunakan lampu petromak. Dengan begitu saya bisa menyelami tradisi urang sunda.

 

Aktivitas saya sekarang menulis berbagai buku dan esai  mengenai budaya cetak dan modernitas juga mengenai kebijakan bahasa di Indonesia. Menerjemahkan sastra kontemporer Indonesia termasuk karya Seno Gumira Ajidarma dan Putu Wijaya ke dalam bahasa Jepang. Saya juga mengajarkan bahasa Indonesia sejak tahun 1988  di Jepang, termasuk menyusun buku pelajaran bahasa Indonesia untuk para siswa Jepang. 

 

Catatan Tentang Sosok Kang Miki.

 

Kang Miki panggilan Prof. Dr. Mikihiro Moriyama, seorang sarjana bahasa dan sastra Sunda  yang mendapat gelar profésor dalam bidang bahasa Indonesia   di Universitas Nanzan, Jepang. Ia begitu tertarik dengan bahasa Sunda saat berkenalan dengan Pak Ajip Rosidi saat bermukim di Jepang.

 

Perjalanan akademiknya, tahun 2003 mendapat gelar doktor Kesusatraan dari Universitas Leiden, dengan disertasi A New Spirit: Sundanese Publishing and the Changing Configuration of Writing in Nineteenth- Century West Java 1987 M.A Program Pascasarjana Universitas Osaka Studi Luar Negeri 1985  B.A. Departemen Bahasa Indonesia, Universitas Osaka, Studi Luar Negeri. Sekarang saya menjabat  Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan di Nanzan University Nagoya Jepang.

 

Kang Miki begitu piawai dan fasih menggunakan  bahasa Sunda, bahkan mahir menggunakan bahasa Sunda yang lebih dalam. Beliau mampu menggunakan bahasa Sunda secara halus dan cermat menempatkan  undak usuk basa Sunda maupun  menempatkan kosa kata untuk pribadi, orang kedua atau orang lebih tinggi  dikenal rumit oleh penutur Sunda sekalipun secara elegan.

 

Hal yang membuat  kami selaku "urang Sunda" membuat "reueus" dan "tertantang" untuk lebih mencintai bahasa ibunya sendiri. Kang Miki telah mengangkat budaya dan bahasa Sunda dalam seminar budaya dan bahasa  di mancanegara.  Beliau pernah memberi kuliah bahasa Sunda di Leiden Belanda dikenal sebagai universitas rujukan keilmuan bahasa Sunda terkemuka di luar negeri. 

 

Selain menjadi bahan disertasi program Doktornya, Kang Miki yang murah senyum dan amat ramah ini aktif  membawakan materi tentang kesundaan di mancanegara hingga mencapai pelosok  negeri Afrika seperti negeri Mali. Kang Miki merupakan  sumber inspirasi dan "cambuk" turut menyadarkan bagi "urang Sunda" agar lebih mencintai budaya dan bahasa sendiri.

 

Banyak filosofi luhur yang dianut orang Sunda seperti hirup hurip, silih asih silih asah silih asuh, cageur bageur bener pinter singer, teuneung ludeung, waras, sineger tengah yang tetap relevan dalam kehidupan masa kini sesungguhnya merupakan modal berharga bagi urang Sunda, khususnya dan bangsa Indonesia umumnya dalam  menghadapi era globalisasi yang berpotensi menggerus jati diri suatu bangsa. ***

Komentar